Kungfu Pets yang saya hidupi beberapa hari terakhir sudah mencapai titik yang membanggakan. Puluhan barang yang dijual dalam Pets Store sudah saya beli, belasan properti juga sudah saya miliki, ratusan orang sudah saya kalahkan, keuntungan lebih dari satu juta dollar per jam sudah mengalir otomatis ke dalam kantng, dan level 60 pun sudah terlewati.
Level permainan yang tak akan pernah ada ujungnya, dan kejutan-kejutan baru disetiap level memang menantang para pemain untuk terus meningkatkan kemampuan. Lalu, dengan ketagihan seperti ini, ribuan penggua aplikasi Kungfu Pets pun terus berusaha online, kembali dan terus kembali membuka facebook.
Begitulah cerita yang tak mungkin terjadi jika Zuckerberg tidak membuka platform situs jejaring social buatannya kepada pengembang aplikasi pihak ketiga. Loncatan Zuckerberg pada suatu sore di bulan Mei 2004 ini kemudian menjadi titik bersejarah lahirnya sebuah mesin ekonomi baru yang oleh CNN disebut sebagai “the facebook economy”. Sebuah mesin pengumpul uang yang berkedok situs jejaring social.
Delapan bulan kemudian, 14.000 aplikasi sudah terpasang. Aplikasi penting, tak penting, serius, dan main-main sudah terpasang memanjakan pengguna facebook. Aplikasi yang terpasang pada dasarnya adalah aplikasi sederhana yang bisa dibuat oleh beberapa orang kelompok programmer saja. Lihat saja. Scrabulous, game populer mirip Scrable ini dibuat oleh dua orang programmer bersaudara asal
Bagi para pengembang, facebook adalah mesin yang telah membangkitkan ekonomi kreatif yang belum pernah ada. Sebelumnya, situs jejaring social selalu tertutup terhadap pengembang pihak ketiga. Keuntungan selalu dimonopoli oleh pemilik situs jejaring sosial. Namun, facebook telah mematahkan kebiasaan kapitalistik macam ini. Hasilnya kemudian adalah lahirnya platform terbuka yang mendulang uang lebih banyak dan menguntungkan lebih banyak orang. Sebelumnya, platform terbuka selalu menjadi momok hilangnya akumulasi keuntungan yang ditakuti oleh para kapitalis digital.
Dengan loncatan besarnya, Zuckerberg telah mengubah Facebook menjadi situs jejaring sosial yang digemari tidak hanya oleh pengguna tetapi juga oleh para pengembang aplikasi. Alhasil, meskipun dengan cara akumulasi modal yang masih primitif melalui iklan, facebook mampu mendulang keuntungan hingga lebih dari $ 300.000 per kuartal di tahun 2004.
Sistem yang dikembangkan oleh Zuckerberg memang memberi kemudahan bagi para programmer bermodal cekak untuk memulai bisnisnya. Mereka bisa dengan mudah memasarkan aplikasinya melalui facebook. aplikasi populer semacam Scrabulous contohnya, merupakan aplikasi sederhana yang dibuat hanya dengan modal kemampuan programming sederhana. Lalu setelah populer game semacam ini pun dibeli oleh kapitalis besar semacam Electronic Arts Inc dan pengembang game besar lainnya.
Suatu kali, Zuckerberg mengutarakan visi dan misinya. “facebook’s priority is growth not profit” katanya suatu kali seperti dikutip Telegraph. Hal ini tentunya menggemaskan mengingat menurut ComScore, sebuah perusahaan riset marketing internet, saat ini facebook sudah bernilai lebih dari $ 15 juta. Sementara itu, demi 1,6 persen kepemilikan, Microsoft pun rela menggelontorkan dana segar $ 240 juta kepada Zuckerberg.
Dengan prioritas seperti itu, Zuckerberg memang sejauh ini masih mengarahkan facebook sebagai situs jejaring sosial yang non profit. Namun, platform-nya yang terbuka tak dapat dipungkiri telah menggerakkan jutaan dollar uang bagi kehidupan para pengembang aplikasi.
Sebenarnya, jutaan dollar tidak hanya bergerak menghidupkan para pengembang aplikasi. Bisnis penyedia jaringan internet (ISP) pun terkena imbasnya. Kira-kira sudah tak terhitung jumlah penggemar facebook yang relah merogoh koceknya lebih dalam untuk memasang jaringan internet ‘dedicated’ di rumah. Tujuannya sederhanya, hanya untuk mempermudah akses facebook setiap saat.
Zuckerberg pun mengakui, akses facebook terbesar adalah melalui gadget mobile. Pertumbuhan terbesar tahun lalu disumbang oleh meningkatnya pengakses mobile. Lalu kini, di mall-mall dapat semakin mudah ditemui orang-orang yang berkonsentrasi memelototi handphone demi membaca huruf-huruf kecil tampilan facebook di layar sempit handphone masing-masing.
Dan begitulah sebuah mesin ekonomi masa kini bergerak dengan platform terbuka yang mampu menjaring lebih banyak pengguna. Lalu ketika pengguna ketagihan berbagai aplikasi yang secara liberal dan masiv terpasang, mereka pun menjadi pengguna setia. Efek viral pun semakin menggelembungkan jumlah pengguna. Akhirnya, jutaan dollar berberak tak hanya diantara pengembang aplikasi, tetapi juga diantara para penyedia jasa jaringan internet hingga penyedia hardware penunjang. Lalu apa lagi setelah facebook ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar