Sabtu, 28 Februari 2009

Aku Narsis Maka Aku Ada

Alkisah di dunia para Dewa Yunani, Narcissus adalah pria yang sangat tampan, anak hasil perkosaan Dewa sungai Chepisus terhadap bidadari Liriope. Konon, ketampanan Narcissus hanya dapat dibandingkan dengan Adonis pujaan Aphrodite, Endymion kekasih Selene, atau Ganymedes selingkuhan Zeus.

Setelah kelahiran Narcissus, Tiresias seorang dewa nujum meramalkan bahwa Narcissus akan berumur panjang jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Dan ramalan ini terbukti ketika Narcissus tanpa sengaja melihat bayangan dirinya di sebuah kolam sumber air di tengah hutan.

Awalnya Narcissus hanya kehausan ketika berburu, namun tanpa sengaja bayangan dirinya di dalam kolam membuatnya terpesona. Akhirnya ramalan Tiresias pun menjadi kenyataan, Narcissus tak berumur panjang karena mati kehausan demi menjaga bayangannya agar tetap utuh didalam kolam.

Sebenarnya dengan ketampanan yang dimiliki, Narcissus menjadi pujaan para bidadari. Namun, semua ditinggalkannya sampai pada suatu saat ketika Narcissus berburu di sebuah hutan dan Echo, seorang bidadari mengamatinya dari jauh.

Echo adalah seorang dewi yang pernah menjadi selingkuhan Zeus. Karena sebuah perselingkuhan yang tertangkap basah, Echo dikutuk menjadi sulit berbicara kecuali mengulang kata-kata yang diucapkan kepadanya. Kutukan ini terjadi ketika Hera mulai curiga dengan gerak-gerik Zeus dan membututi suaminya itu hingga ke sebuah istana milik Dewi Echo.

Echo dan Hera pun terlibat dalam sebuah perdebatan. Hera menuduh Echo telah merebut suaminya, sementara Echo membela diri dengan cerita tak benar yang panjang lebar demi memberi waktu bagi Zeus untuk melarikan diri dari pintu belakang. Hera yang kesal akhirnya mengutuk Echo. Echo pun terkutuk dan tak bisa berbicara kecuali mengulang kata-kata yang diucapkan kepadanya.

Echo lari bersembunyi ke hutan sampai suatu saat dirinya jatuh cinta pada Narcissus yang sedang berburu. Kutukan Echo membuatnya tak bisa mengungkapkan isi hati. Sementara Narcissus yang tak tertarik pada siapapun mengacuhkan Echo yang hanya mengulang kata-kata.

Ketika Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri, Echo pun hanya bisa mengulang kata-kata cinta Narcissus. Ironisnya, Narcissus hanya mendengar kata-kata ulangan Echo sebagai balasan cinta dari bayangan dirinya di dasar kolam. Karena itu, semakin lama Narcissus justru semakin mencintai bayangannya sendiri. karena takut akan kehilangan bayangannya, Narcissus pun tak pernah meminum air kolam itu maupun meninggalkannya hingga akhirnya Narcissus mati kehausan.

Cerita Narcissus dan Echo adalah sebuah ironi cerita cinta segitiga. Inilah ironi Narsisme yang dapat ditemui dalam dunia kontemporer. Media blogging dan social networking yang semakin menghisap bandwith adalah salah satu indikator Narsisme yang semakin dalam. Tengok saja omong kosong isi blog maupun profil dalam situs-situs social networking yang pada dasarnya adalah informasi yang tak penting.

Orang mulai berlomba untuk berpartisipasi dalam jadad Narsisme yang semakin mudah karena fasilitas teknologi komunikasi yang semakin maju. Namun, semakin kedepan, orang pun semakin kehilangan waktunya. Imbasnya, orang tak lagi punya waktu untuk mengapresiasi Narsisme secara kritis. Kebanyakan orang pun akhirnya menjadi Echo-Echo jaman modern, yang mengapresiasi Narsisme melalui komen-komen basa-basi.

Ironisnya, ulah Echo jaman modern itu, seperti dalam mitologi Yunani, justru membuat orang semakin dalam larut dalam Narsisme. Echo dalam mitologi Yunani membuat Narcissus semakin mencintai bayangannya sendiri, begitu pula yang dilakukan Echo jaman modern yang membuat para narsis semakin mencintai dirinya sendiri.

Asik memang ketika tiba-tiba menemukan sebuah komen Echo dalam blog ataupun situs jejaring sosial. Orang akan semakin bersemangat membalas komen Echo dan tentu saja bersemangat untuk semakin eksis dalam narsisme jagad maya.

Tapi orang-orang juga tak kehilangan akal untuk terus eksis. Tak hanya menjadi Echo, orang pun sekaligus menjadi Narcissus. Orang-orang tak cukup hanya memiliki satu wajah Echo atau Narcissus. Untuk terus eksis, orang perlu memilih dua wajah, Echo bagi orang lain dan Narcissus bagi dirinya sendiri. Seperti sebuah lingkaran setan, semuanya terjadi dalam konteks yang berulang. Semakin narsis, maka semakin echo, dan lingkaran terus berputar menuju kedalaan narsisme dan echoisme.

Sekarang motonya, Aku Narsis maka aku ada, dan memang narsisme semakin diperlukan. Tanpa narsisme, tak akan ada representasi yang kemudian akan berujung pada nihilisasi peran dan keberadaan seseorang. Maka benar sudah ungkapan, aku narsis maka aku ada. Dan semua mahasiswa sekarang berteriak-teriak dijalanan, Hidup narsisme...! bukan lagi lawan kapitalisme...

Selasa, 24 Februari 2009

Narsisme Dalam Facebook

Facebook adalah narsisme, kata sebagian orang yang menolak kehadirannya. Facebook adalah penghisap waktu luang. Waktu luang dihisap melalui sebuah layar monitor. Tapi tunggu, ada hukum kekekalan waktu yang mengaturnya. Waktu yang dihisap tidak serta merta habis. Waktu luang dikonversikan menjadi representasi dalam sebuah media modern, dunia maya.

Sebelumnya tak ada masalah dengan Facebook sampai suatu kali orang menyadari bahwa bukan hanya waktu luangnya saja yang telah dihisap Facebook, tetapi juga waktu produktifnya. Beberapa yang kecewa, mengutuk seakan-akan membenci Facebook tetapi tetap saja mereka tak bisa lepas, Trapped in Toyland kata mister Big.

Tapi apa salahnya jika narsisme adalah sinonim dari Facebook. Sigmund Freud menggunakan istilah narsisme untuk menggambarkan kecintaan orang pada diri sendiri. Andrew Morrison pun mengamini bahwa narsisme membantu orang membangun persepsi diri dan relasinya dengan orang lain.

Dalam dunia modern seperti sekarang ini, narsisme juga berarti representasi. Narsisme adalah kata kunci agar orang dapat dikenal dalam jagad ruang publik yang dipenuhi representasi dan mitologi. Ketika semua orang sudah kehabisan waktu untuk merepresentasi orang lain, maka tak ada jalan lain kecuali menjadi narsis dan merepresentasikan diri sendiri.

Narsisme menjadi semacam alat hegemoni ditingkat individu. Beberapa waktu lalu, Facebook menjadi populer karena digunakan sebagai alat kampanye Barack Obama. Setelah itu, beberapa orang Indonesia yang berencana menjadi presiden seperti Rizal Mallarangeng dan Fadjroel Rachman pun mengikuti jejak Obama. Mereka menempelkan tidak hanya foto dan data pribadi, tetapi juga sedikit pemikiran.

Orang-orang seperti ini mencoba menggunakan Facebook sebagai alat hegemoni. Orang postmodernis akan mengatakan bahwa menghegemoni orang bisa juga dengan menjadi narsis. Kuncinya siapa paling narsis, dialah yang akan mendominasi. Tak perlu mendunia, paling tidak menjadi populer dikalangan aktifis Facebook.

Narsisme terjadi dimana-mana dalam berbagai tingkatan. Mulai dari level politik tingkat tinggi hingga level cinta monyet, narsisme selalu memegan peranan. ‘Pilihlah Mbah Bardi’ kata seorang caleg tua, yang menempelkan foto wajahnya dengan percaya diri di pinggir-pinggir jalan. Dan seperti yang dilakukan mbah Bardi, narsisme memang selalu berkutat pada penonjolkan citra diri dan mengeksklusi citra orang lain. Tujuannya, seperti kata Andrew Morrison, narsisme akan menciptakan sebuah relasi yang politis.

Dalam Facebook relasi politis terjadi pada level individu. Pertarungan wacana pada level individu terjadi didalamnya melalui sebuah mashab, narsisme. Orang yang paling aktif dalam Facebook adalah orang yang akan menjadi dominan, minimal selalu menjadi urutan pertama pada daftar notifikasi terbaru. Kalau demikian jadinya, mengapa harus membenci narsisme. Mengapa pula membenci Facebook yang menghisap waktu luang, bahkan waktu produktif. Sementara Facebook telah menjadi media baru bagi perebutan hegemoni individu melalui narsisme. Sekalipun semua itu dimulai secara tidak sadar dimulai dengan omong kosong, ‘kenalan donk’ dan ‘thx for adding me’

Jumat, 13 Februari 2009

Michael Clayton (2007)

Starring: George Clooney, Tom Wilkinson, Tilda Swinton, Sydney Pollack, Michael O'Keefe
Directed by: Tony Gilroy

Di bagian awal, Michael Clayton (George Clooney) menyebut dirinya sebagai ‘Janitor’ kepada seorang klien. Dan inilah inti cerita bagaimana Clayton bekerja memiliht menjadi pengacara realis daripada menjadi pengacara yang bekerja untuk sebuah keajaiban, menyelamatkan orang-orang kaya dari penjara.

Michael Clayton adalah serorang pengacara mapan dengan setelan konservatif yang selalu tampil rapi. Tak banyak sisi kehidupan pribadi Clayton yang ditampilkan dalam film ini kecuali cerita tentang Clayton yang adalah duda beranak satu. Hubungan Clayton dengan anaknya terjalin baik dengan hubungan yang intens setiap hari Sabtu.

Akibat hobinya berjudi di kompleks pecinan dan investasinya yang hancur dalam bidang restoran, Clayton terlibat dalam hutang piutang sebesar 80.000 dollar. Tidak dijelaskan dengan gamblang, tetapi hutang piutang ini menjadi salah satu masalah penting dalam cerita ini.

Akibat hutang piutang sebesar ini, Clayton terpaksa menjual dirinya sebagai pengacara pembuat keajaiban di firma hukum Kenner, Bach & Ledeen. Di firma ini dia menjadi manusia yang hidup dalam area abu-abu antara moralitas dan amoralitas.

Ceritanya, firma hukum Kenner, Bach & Ledeen sedang menghadapi proses merger dengan firma sejenis di London. Merger ini akan menjadi penyelamat firma pimpinan Marty Bach (Sydney Pollack) dari kebangkrutan. Sementara disisi lain, klien terbesar firma ini, U/North, sedang menghadapi class action dengan tuntutan jutaan dollar.

U/North adalah perusahaan agribisnis multinasional yang memperkerjakan lebih dari 70.000 pekerja dan menggurita hingga ke 62 negara. Tentu saja, penyelesaian akhir yang buruk pada masalah yang dihadapi oleh U/North dalam menghadapi class action akan mempengaruhi citra firma pimpinan Bach dan mempengaruhi proses merger mereka.

Dalam permasalahan pelik tersebut, Clayton ditugaskan untuk membersihkan Arthur (Tom Wilkinson), salah seorang pimpinan U/North yang malah mencoba mendukung penuntut. Diam-diam Arthur menyimpan dokumen penelitian yang menjadi kunci kemenangan penuntut. Isinya menerangkan bahwa produk U/North adalah produk agribisnis yang berbahaya memicu kanker dan kematian.

Tema seperti ini bukanlah tema baru. Sebelumnya film bertema ‘perlawanan terhadap perusahaan multinasional’ juga pernah muncul seperti film ‘the Insider, dan The Contant Gardener. Cerita legal thriller seperti ini muncul pertama kali dalam garapan John Grisham 20 tahun lalu.

Pada dasarnya, ada dua jenis film thriller. Pertama, visceral thriller yang menegangkan dan membakar penonton sejak detik awal. Kedua, intelectual thriller yang membakar penonton secara perlahan. Dengan kata lain, jenis film drama yang kedua ini adalah film yang sedikit membosankan di detik-detik awal.

Diceritakan dalam bentuk flashback, agaknya Michel Clayton garapan Tony Gilroy ini agaknya masuk dalam jenis yang kedua. Perlu beberapa kali menonton untuk memahami film ini. Banyak detail film yang sebenarnya menjadi bagian sangat penting dalam film ini diceritakan dalam tekanan yang merata. Akibatnya, detail tersamar dan membuat orang akan menebak-nebak kelanjutan tiap detik film. Awalnya, sekali menonton, tebakan akan selalu meleset.

Arthur mati secara tak wajar ketika Clayton menemukan apa yang sebenarnya dikerjakan Arthur secara diam-diam. Clayton menyadari bahwa Arthur telah dibunuh untuk menyelamatkan U/North. Dari sinilah Clayton diuji pendiriannya di gray area. Meneruskan perjuangan Arthur yang membela ratusan korban perusahaannya sendiri, atau menyelamatkan U/North dan firma hukum pimpinan Bach.

Dari materi pemain, dapat dibayangkan bagaimana kekuatan film ini. Setiap pemain bermain dengan baik. Clooney berhasil menjadi Clayton yang penuh masalah, Tom Wilkinson berhasil menjadi Arthur yang gila dan tertekan. Sementara itu

Sementara itu Tony Gilroy yang baru memulai debut filmnya dalam Michael Clayton dengan cemerlang. Michael Clayton merupakan debutnya menyutradai film setelah sebelumnya Tony berperan sebagai screenwriter dalam keseluruhan sekuel Bourne. Bekerjasama dengan Robert Elswit sebagai sinematrografer, Tony berhasil membuat sebuah genre film intelectual thriller yang membutuhkan konsentrasi penontonnya.

“I am Shiva, the god of death” begitu kata Clayton mengakhiri film ini yang artinya, Clayton lebih memilih meneruskan pekerjaan Arthur, dan meninggalkan pekerjaannya selama ini sebagai ‘Janitor’, si pembersih masalah.

Kamis, 05 Februari 2009

An American Crime (2007)

Starring: Ellen Page, Hayley McFarland, Nick Searchy, Romy Rosemont, Catherine Keener, Sri Graynor, Scout Taylor Compton,Tristan Jarred,
Directed by: Tommy O’Haver

Dengan enam orang anak kandung dan dua orang anak titipan, seorang ibu bahkan bisa kehilangan sisi keibuannya. Akhirnya, seorang anak titipan menjadi korban. Dan lahirlah sebuah cerita kriminal paling menggemparkan di seluruh negeri.

Film ini didasarkan pada sebuah kisah nyata yang pernah menggemparkan seluruh negeri Paman Sam tahun 1965. Awalnya, adalah kehidupan sebuah keluarga pekerja pasar malam yang nomaden. Tanpa tempat tinggal tetap, keluarga Likens selalu berpindah setiap kali pasar malam yang menjadi sumber mata pencaharian mulai sepi pengunjung.

Terlalu lama mengembara, pasangan Likens pun mulai resah memikirkan masa depan kedua putri mereka yang beranjak dewasa tanpa teman dan kehidupan menetap. Mereka mulai memikirkan tempat tinggal tetap agar putri mereka bisa bersekolah, mencari teman, dan menjalani kehidupan layaknya anak-anak seusia mereka. Sementara kehidupan pasar malam yang mulai tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membuat pasangan Likens berpisah untuk sementara waktu.

Sang Ayah, Lester Likens (Nick Searcy) berkeras untuk tetap bekerja di pasar malam, sementara sang ibu, Betty Likens (Romy Rosemot), berkeras untuk meninggalkan kehidupan pasar malam yang dinilai tidak baik bagi masa depan kedua putri mereka. Betty dan kedua putri mereka pun akhirnya menetap di Indianapolis.

Di Indianapolis, tempat pemberhentian pasar malam yang entah keberapa, kakak beradik Silvia (Ellen Page) dan Jennie Likens (Hayley McFarland) mulai mendapat teman baru sepulang dari gereja. yang mendapat teman baru sepulang dari gereja membuat sang ibu, Betty Likens (Romy Rosemot), berencana untuk menetap di Indianapolis. Namun sang Ayah merasa tetap berat meninggalkan pasar malam dan kedua putrinya.

Akhirnya tawaran dari Gertrude (Cahterine keener) pun datang. Gertrude adalah ibu dari teman baru Silvia dan Jennie. Tawarannya, 20 dollar seminggu untuk memberikan kedua anak Likens sebuah kehidupan menetap di Indianapolis. Dengan tawaran tersebut, Lester mampu membujuk Betty untuk tetap di pasar malam sampai akhir tahun, sementara kedua putri mereka tetap bisa membangun kehidupan menetap di Indianapolis bersama Getrude dan anak-anaknya.

Dengan janji hanya ditinggal selama beberapa bulan, Kakak beradik Silvia dan Jennie pun akhirnya bersedia tinggal bersama Gertrude. Namun malang bagi kakak beradik ini karena tak lama setelah ditinggal orang tua mereka, Gertrude mulai menunjukkan ketidakstablilan jiwanya. Kedua anak titipan ini menjadi pelampiasan emosi Gertrude.

Gertrude adalah seorang single mother yang tertekan secara mental karena kebutuhan hidup yang tak pernah mampu ia cukupi. Setelah terpuruk karena diitinggalkan suami, ia pun memiliki pacar yang hanya bisa berhutang. Kondisi ibunya yang tidak sehat akhirnya mendorong Paula (Ari Graynor), anak pertama Gertrude, untuk bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Hasilnya, adalah uang tambahan untuk makan malam keluarga.

Film ini menggambarkan bagaimana beratnya kehidupan keluarga kelas bawah di Amerika. Awalnya adalah tekanan ekonomi, namun kehidupan adalah sebuah rantai. Tekanan ekonomi akhirnya menjadi virus yang akhirnya menekan mental. Dengan tekanan berat seperti itu, tak jarang orang mengalami masalah kejiwaan seperti yang dialami Gertrude. Untuk mengobati tekanan mental yang dideritanya, Gertrude rutin meminum obat penenang. Namun, tak hanya obat, pelampiasan adalah hal lain yang ia butuhkan.

Tanpa sadar, seorang anak titipan pun menjadi korban pelampiasan. Iri dan dengki membuat semuanya menjadi mudah. Awalnya, Silvia tanpa sengaja membogkar aib demi menyelamatkan Paula dari perbuatan bejat pacarnya. Namun aib yang terbongkar justru membuat Paula membenci Silvia. Gertrude, yang protektif terhadap anak-anaknya mencoba melindungi Paula. Ia menghukum Silvia dengan siksaan yang keji.

Awalnya hanya dengan sabetan sabuk, lama-kelamaan, Gertrude seperti menemukan kenikmatan ketika menyiksa Silvia. Gertrude seperti kembali menjadi ibu seutuhnya ketika ia mencoba melindungi dan membela anak-anaknya. Menyiksa Silvia karena telah mempermalukan anaknya menjadi sebuah pelampiasan.

Siksaan paling gila adalah ketika Gertrude memaksa Silvia memasukkan botol Sprite kedalam vaginanya didepan enam anak gertrude plus seorang teman Silvia. Ini adalah hukuman karena Silvia dinilai telah menyebarkan kabar tentang Paula yang hamil. Gosip tentang Paula memang kemudian berkembang. Seiring dengan menyebarnya gosip itu, hukuman pada Silvia semakin hari semakin berat. Sampai pada titik kebenciannya pada Silvia, Gertrude menyiksa Silvia dengan menuliskan kata-kata ‘I am a prostitute and proud of it” di perut Silvia yang sedang sekarat dengan sayatan kawat panas.

Film ini merekam sisi lain kehidupan masyarakat Barat yang kadang bisa tak masuk akal. Individualisme telah membiarkan Silvia tersiksa dalam basement selama beberapa minggu. Salah satu adegan memperlihatkan bagaimana para tetangga yang tak peduli pada teriakan Silvi ketika disiksa. Protektisionis telah menyiksa Silvia yang anak titipan hingga mati.

Film ini menjadi sebuah kritik bagi hubungan antar manusia kontemporer di Amerika. Tekanan hidup yang berat, baik dalam segi ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan bisa menghilangksan sisi kemanusiaan. Berbagai tekanan hidup yang dialami masyarakat kelas bawah telah mengalienasi mereka dari sisi humanisme, dari sebuah hubungan antar manusia. Manusia lain kemudian bisa menjadi musuh yang dapat merebut hak mereka.

Dalam film ini, Ellen Page sukses memainkan perannya sebagai Silvia Likens. Ellen Page berhasil menghidupkan karakter seorang kakak yang kuat yang berusaha melindungi adiknya yang agak ringkih. Meskipun, Ellen Page mampu menyamai kegemilangannya berakting dalam Film Juno, ternyata prestasi An American Crime tak segemilang Juno. Tercatat, An American Crime hanya masuk dalam nominasi Golden Globe. Hal ini berbeda dengan Juno yang mampu meraih Oscar.

Sementara itu Christine Keener, pemeran Gertrude, meskipun patut diacungi jempol, dalam film ini hanya menampilkan kemampuan akting standar yang dimilikinya. Dengan pengalaman bermain dalam puluhan film drama, diantaranya adalah The Interpreter (2005, dan Being John Malkovich (1999), Christine Keener seharusnya mampu berakting lebih bagus.

Secara keseluruhan, dengan kemampuan yang dimiliki para pemainnya, Tommy O’Haver yang pernah mensutradari Ella Enchanted (2005) telah berhasil menghadirkan sebuah film drama kriminal yang patut diacungi jempol.

Senin, 02 Februari 2009

Menjawab Pertanyaan

Ini adalah salah satu bagian kecil dari hidupku. Bagian yang sangat-sangat kecil. Aku menyebutnya “menjawab pertanyaan”

Cerita ini dimulai dari sebuah percakapan di sebuah Burjo pada suatu pagi. Ya, sebuah percakapan, walaupun hanya melibatkan satu pertanyaan dan sebuah jawaban. Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, aku biasa mengisi perut di burjo dekat kosan. Hanya perlu sekitar 30 detik berjalan kaki menuju kesana dengan jalan kaki. Jarak tempuh yang bias dibilang sangat-sangat dekat. Umumnya, orang akan memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak sedekat itu. Tapi, aku memilih naik motor dengan waktu tempuh yang sedikit lebih lama daripada berjalan kaki.

Kembali ke warung burjo. Seperti biasanya, aku masuk ke warung burjo dengan memberi sedikit senyum pada penjaga burjo yang biasa kupanggil aa, dan langsung memesan menu paling murah disana. Pesananku nasi telor dan es the. Menurutku inilah paket pilihan menu paling murah setiap di burjo yang beroperasi di Jogja. Rp. 4000 cukup logislah untuk biaya sarapan. ”anak orang miskin ini” pikirku dalam hati.

Tak lama menunggu, pesanan pun datang. Aku adalah tipe orang yang tidak suka menunda pekerjaan. Maka es the baru datang pun langsung kusedot. “srettttt…” ini bukan soal kehausan tetapi masalah kebiasaan atau hobi mengulum sedotan dan akupun masih mengulum sedotan ketika Si aa burjo datang lagi membawa sebuah piring dan membantingnya di depanku. Sekali lagi bukan karena kelaparan, tapi aku langsung memakan pesanan yang datang. Inilah kebiasaan baikku, tidak menunda pekerjaan, apalagi pekerjaan menghabiskan makanan.

Terasing dari keramaian Burjo karena sibuk menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulut, tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan kepadaku “lagi sibuk apa di?”. Aku kaget, bukan karena suara yang mengagetkan tetapi pertanyaan itu seperti mengingatkan bahwa aku baru saja kehilangan kesibukan. Maklum, skripsi selesai, pekerjaan sebagai asisten peneliti pun selesai kontrak, dan kini aku jadi pengangguran. Tepatnya calon sarjana yang menganggur. Tunggu, bukan calon sarjana, tetapi sarjana yang jadi calon penganggur untuk beberapa bulan kedepan, itu kalau nasibku baik. Kalau bernasib buruk, mungkin jadi sarjana pengangguran dalam beberapa tahun kedepan. Wow, bukankah itu suatu hal yang sangat mengerikan?

Masih dengan keterkejutan, aku menoleh mencari sumber suara itu sambil mengulum sendok berisi nasi, sambal, dan secuil telor yang kusendok dari piring di depanku. Aih, ternyata itu suara Eka, salah satu teman kosku yang orang Bali. Dia melontarkan pertanyaan yang menohok. Aku bingung menjawabnya. Aku takut melontarkan jawaban yang memalukan. Aku takut orang-orang yang ada di burjo mendengar jawabanku dan menoleh kearahku dengan wajah mereka yang mengasihani, atau bahkan menyelamati bahwa aku akan segera jadi pengangguran. Dalam beberapa detik atau menit aku terdiam. “em…” dan akhirnya kutemukan jawaban yang tepat “lagi gak sibuk apa-apa”

Jawaban yang brilian. Aku tak percaya bisa menemukan jawaban brilian tersebut. “brilian” pikirku setelah menjawab si Eka. Setidaknya jawabanku tidak mengungkapkan masa depanku yang masih terbayang suram. Sempat terpikir untuk menjawabnya seperti ini. “lagi sibuk daftar wisuda” bukankah itu jawaban yang konyol? Seingatku mendaftar wisuda bisa selesai dalam satu hari dan itu bukanlah kesibukan yang perlu dibanggakan. Atau kata seorang teman, bukanlah hal yang bisa dikategorikan sebagai kesibukan.

Untungnya percakapan tidak berlanjut. Mungkin si Eka tahu aku tidak nyaman dengan pertanyaannya. Percakapan selesai, dan aku bisa melanjutkan acara makan pagiku masih dengan perasaan yang terganggu. Aku diingatkan oleh seseorang yang tak terduga bahwa aku akan segera menjadi pengangguran. Tanda-tandanya sudah jelas, bahwa sekarang aku sudah tidak punya kesibukan.

Pertanyaan sederhana dari seorang teman bisa menjadi hal yang sensitif bagi orang seperti aku yang masih sedikit takut melihat masa depan. Efeknya bisa bermacam-macam. Bisa down, termotivasi, atau bahkan tidak ada efek sama sekali. Tapi itu untuk orang-orang yang tidak paham terhadap sebuah pertanyaan sederhana seperti yang dilontarkan Eka kepadaku.

Inilah salah satu bagian hidupku yang sangat-sangat kecil. Bagiku hidup adalah seperti menjawab pertanyaan. Setiap hari selalu ada pertanyaan baru yang harus dijawab. Paling sederhana, setiap pagi pertanyaan tentang menu sarapan harus selalu kujawab sebelum terlambat sarapan. Maka, bagian-bagian hidupku yang lain adalah seperti sebuah buku pelajaran tanya jawab tentang kehidupan, satu-satunya buku pelajaran yang tidak pernah kutemui sejak mulai sekolah di taman kanak-kanak. Mungkin aku yang harus membuatnya sendiri untukku? Sebuah pertanyaan lain yang harus kujawab lagi.

Novel Picisan Tentang Pedalaman


Judul : Lembata
Penulis : F. Rahardi
Penerbit : Lamalera, 2008
Tebal : ix + 256


Orang-orang bergerak tak jauh dari kemelaratan. Sementara itu, segelintir orang yang bergerak mendorong orang-orang melarat tersebut menjauh dari kemelaratan. Semua bergerak, namun Lembata, pulau kecil melarat yang baru delapan tahun menjadi kabupaten menjadi simpul utama bagi keseluruhan isi novel.

“Novel ini merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja” begitu pengantar penerbit diawal novel ini dengan sedikit contoh ilustrasi keberhasilan novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Penerbit memberi sedikit gambaran kontekstual bagaimana novel karya F. Rahardi ini muncul.

Beberapa novel yang menyinggung sisi “lain” gereja memang sukses dipasaran beberapa tahun belakangan. Sebut saja, setelah Da Vinci Code dan Angel and Demon karya Dan Brown, menjamur novel dan buku dengan tema-tema serupa di Barat. Dan seperti tipikal industri kreatif di Indonesia, para penerbit dan penulis pun latah tak mau ketinggalan. Penerbit ramai menerjemahkan novel kontroversial tersebut. Penulis pun tak mau ketinggalan tren yang sedang digeluti para penerbit dengan menulis novel atau buku dengan tema serupa.

Jika dirunut kebelakang, jauh sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, gereja memang selalu obyek yang menarik. Kesakralan dan kuasa yang dimiliki gereja adalah daya tarik tersendiri bagi beberapa orang untuk imajinasikan isi dibalik temboknya. Hebatnya, di Barat imajinasi paling liar, layaknya ide tentang kebebasan adalah hal yang dilindungi.

Hal ini berbeda dengan dunia Timur yang selalu lebih melindungi simbol-simbol sakral daripada melindungi orang-orang yang menhidupi simbol-simbol tersebut. Lihat saja, orang-orang yang berimajinasi liar tentang Masjid, Al Quran, bahkan tentang ulama adalah orang yang dihalalkan untuk dibunuh. Karena itu, lagi-lagi gereja adalah simbol kesakralan yang aman untuk diimajinasikan secara liar.

Agaknya F. Rahardi menjadi salah satu contoh tipikal penulis Indonesia yang latah tak mau ketinggalan momen. Tanpa tema segar dan original, Lembata menjadi novelnya yang picisan dan mengimitasi ide populer tentang kekolotan gereja. Praktis tak ada hal baru yang akan menjadi inspirasi ketika membaca novel ini, terlebih jika pernah membaca Angel and Demon atau Da Vinci Code.

Dari segi tema, F. Rahardi memang tidak menawarkan hal baru selain sentuhan lokal dalam novelnya. Lembata menjadi pilihan tepat untuk menggambarkan sebagian kecil kemelaratan Indonesia. Selain Lembata, masih banyak pulau-pulau kecil yang dihuni orang-orang yang tak pernah bergerak menjauh dari kemelaratan. Sebut saja pulau-pulau seperti Nipah, Solor, Adonara, dan ratusan pulau kecil lainnya. Di pulau-pulau seperti ini, listrik PLN tidak pernah ada, listrik swadaya pun hanya bertahan dua jam sehari. Selama itulah jatah nonton TV yang interaksi dengan dunia luar dapat dilakukan.

Di pulau-pulau seperti ini, institusi agama menjadi salah satu pemilik kekuasaan politik selain pemerintah. Institusi agama seperti gereja bahkan memiliki jaringan yang bisa lebih dalam masuk dalam komunitas masyarakat daripada yang dilakukan pemerintah. Bayangkan saja, kepala desa bisa lebih tunduk kepada pastor daripada kepada camat maupun bupati.

Tanpa ide segar, memang membosankan membaca novel Lembata karya F. Rahardi ini. Terlebih pembaca Indonesia dalam beberapa tahun belakangan dicekoki dengan novel-novel Barat yang memiliki jalan cerita lebih canggih dan kompleks. Jika dibandingkan, bahkan dalam hal akrobat kata-kata F. Rahardi kalah telak.

Akrobat kata yang minim telah menjebat novel ini dalam kategori novel picisan. Kualitasnya tak mampu mengalahkan Pram dan novelis jadul Indonesia. Namun sepeninggal Pram, novel ini tetap layak dibaca. Minimal jika pembaca tak mendapat pencerahan, pembaca akan sedikit mengetahui kondisi Lembata dan masyarakat di dalamnya.

Minggu, 01 Februari 2009

The Pursuit of Happyness (2006)

Starring: Will Smith, Thandie Newton, Jaden Smith, Dan Castellaneta, Zuhair Haddad
Directed by: Gabriele Muccino

Judul film ini merujuk pada sebuah tempat penitipan anak di daerah pecinan San Fransisco tahun 1981 yang menjadi simpul utama di film ini. Dimulai dari tempat inilah Chris Gardner (Will Smith) dan Christopher (Jaden Smith) menghabiskan banyak waktunya untuk mengejar kebahagiaan, mimpi bagi kebanyakan warga Amerika.

Chris Gardner adalah seorang salesman yang berjuang menghabiskan stok mesin pengukur kepadatan tulang portabel yang terlalu canggih dan mahal di jamannya. Tak banyak dokter dan rumah sakit yang tertarik dengan mesin itu padahal Chris sudah menghabiskan hampir seluruh tabungan keluarga untuk masuk dalam bisnis ini.

"Kebahagiaan adalah hal yang hanya bisa dikejar dan mungkin tidak benar-benar bisa didapat" begitu kata Chris pesimis ketika menyadari bahwa dirinya belum mendapat kebahagiaan sementara dia masuk dari pintu ke pintu rumah sakit setiap hari. Kebahagiaan tidak dijamin dalam konstitusi Amerika, namun negara menjamin setiap usaha untuk mengejarnya.

Lewat didepan sebuah kantor pialang saham yang dikemudian hari dikenal dengan kantor Dean-Witter, Chris kemudian mendapat inspirasi tentang kebahagiaan. Setiap orang yang keluar masuk kantor tersebut memperlihatkan wajah bahagia mereka, sesuatu yang sedang dicarinya selama ini.

Film ini bercerita tentang kegigihan mencari kebahagiaan, kekuatan mimpi, dan hubungan antara Ayah dan Anak. Salah satu adegan memperlihatkan bagaimana Chris marah pada istrinya yang meragukan inspirasi yang baru didapat didepan kantor Dean Witter, menjadi seorang pialang saham. Adegan berikutnya, Chris membiarkan istrinya pergi hanya karena kurang gigih mengejar kebahagian bersama. Sementara adegan lainnya memperlihatkan bagaimana Chris menasehati Christopher untuk berani bermimpi, mengejarnya, dan melindungi mimpi itu dari orang lain bahkan ayahnya sendiri.

Untuk mewujudkan mimpinya, Chris kemudian mendaftarkan diri pada program magang yang sedang dibukan oleh kantor Dean-Witter. Hanya 20 orang yang diterima, dan hanya satu yang akan mendapatkan pekerjaan. Yang tak dibayangkan sebelumnya, tidak ada bayaran dalam program magang tersebut. Akibatnya, Chris harus membagi waktunya antara magang, menjual ‘mesin waktu’, dan mengurus Christopher.

Tanpa bayaran, bangkrut karena rekening yang disedot dinas pajak, akhirnya Chris dan Christopher pindah dari apartemen yang tak lagi sanggup mereka bayar. Pindah ke sebuah motel murahan pun hanya bertahan selama beberapa minggu. Selanjutnya, mereka tinggal di tempat penampungan gelandangan.

Film ini memperlihatkan bagaimana seorang warga Amerika dengan ‘American dreamnya’ mengejar mimpi yang tak dijamin dalam konstitusi. Untungnya, setiap warga dilindungi haknya untuk mengejar mimpi itu. Will Smith tampaknya berhasil memainkan perannya sebagai Chris Gardner yang terhimpit berbagai kesusahan. Yang kemudian menjadi patut diacungi jempol adalah keberhasilan Jaden Smith memainkan peran perdananya sebagai Christopher.

Happy ending adalah akhir dari film ini. Berbagai adegan dramatis bagaimana susahnya mengejar kebahagiaan membuat akhir seperti inilah yang ditunggu penonton. Namun sayang, akhir seperti ini tidak selalu dapat ditemui dalam kehidupan nyata.