Ini adalah salah satu bagian kecil dari hidupku. Bagian yang sangat-sangat kecil. Aku menyebutnya “menjawab pertanyaan”
Cerita ini dimulai dari sebuah percakapan di sebuah Burjo pada suatu pagi. Ya, sebuah percakapan, walaupun hanya melibatkan satu pertanyaan dan sebuah jawaban. Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, aku biasa mengisi perut di burjo dekat kosan. Hanya perlu sekitar 30 detik berjalan kaki menuju kesana dengan jalan kaki. Jarak tempuh yang bias dibilang sangat-sangat dekat. Umumnya, orang akan memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak sedekat itu. Tapi, aku memilih naik motor dengan waktu tempuh yang sedikit lebih lama daripada berjalan kaki.
Kembali ke warung burjo. Seperti biasanya, aku masuk ke warung burjo dengan memberi sedikit senyum pada penjaga burjo yang biasa kupanggil aa, dan langsung memesan menu paling murah disana. Pesananku nasi telor dan es the. Menurutku inilah paket pilihan menu paling murah setiap di burjo yang beroperasi di Jogja. Rp. 4000 cukup logislah untuk biaya sarapan. ”anak orang miskin ini” pikirku dalam hati.
Tak lama menunggu, pesanan pun datang. Aku adalah tipe orang yang tidak suka menunda pekerjaan. Maka es the baru datang pun langsung kusedot. “srettttt…” ini bukan soal kehausan tetapi masalah kebiasaan atau hobi mengulum sedotan dan akupun masih mengulum sedotan ketika Si aa burjo datang lagi membawa sebuah piring dan membantingnya di depanku. Sekali lagi bukan karena kelaparan, tapi aku langsung memakan pesanan yang datang. Inilah kebiasaan baikku, tidak menunda pekerjaan, apalagi pekerjaan menghabiskan makanan.
Terasing dari keramaian Burjo karena sibuk menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulut, tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan kepadaku “lagi sibuk apa di?”. Aku kaget, bukan karena suara yang mengagetkan tetapi pertanyaan itu seperti mengingatkan bahwa aku baru saja kehilangan kesibukan. Maklum, skripsi selesai, pekerjaan sebagai asisten peneliti pun selesai kontrak, dan kini aku jadi pengangguran. Tepatnya calon sarjana yang menganggur. Tunggu, bukan calon sarjana, tetapi sarjana yang jadi calon penganggur untuk beberapa bulan kedepan, itu kalau nasibku baik. Kalau bernasib buruk, mungkin jadi sarjana pengangguran dalam beberapa tahun kedepan. Wow, bukankah itu suatu hal yang sangat mengerikan?
Masih dengan keterkejutan, aku menoleh mencari sumber suara itu sambil mengulum sendok berisi nasi, sambal, dan secuil telor yang kusendok dari piring di depanku. Aih, ternyata itu suara Eka, salah satu teman kosku yang orang Bali. Dia melontarkan pertanyaan yang menohok. Aku bingung menjawabnya. Aku takut melontarkan jawaban yang memalukan. Aku takut orang-orang yang ada di burjo mendengar jawabanku dan menoleh kearahku dengan wajah mereka yang mengasihani, atau bahkan menyelamati bahwa aku akan segera jadi pengangguran. Dalam beberapa detik atau menit aku terdiam. “em…” dan akhirnya kutemukan jawaban yang tepat “lagi gak sibuk apa-apa”
Jawaban yang brilian. Aku tak percaya bisa menemukan jawaban brilian tersebut. “brilian” pikirku setelah menjawab si Eka. Setidaknya jawabanku tidak mengungkapkan masa depanku yang masih terbayang suram. Sempat terpikir untuk menjawabnya seperti ini. “lagi sibuk daftar wisuda” bukankah itu jawaban yang konyol? Seingatku mendaftar wisuda bisa selesai dalam satu hari dan itu bukanlah kesibukan yang perlu dibanggakan. Atau kata seorang teman, bukanlah hal yang bisa dikategorikan sebagai kesibukan.
Untungnya percakapan tidak berlanjut. Mungkin si Eka tahu aku tidak nyaman dengan pertanyaannya. Percakapan selesai, dan aku bisa melanjutkan acara makan pagiku masih dengan perasaan yang terganggu. Aku diingatkan oleh seseorang yang tak terduga bahwa aku akan segera menjadi pengangguran. Tanda-tandanya sudah jelas, bahwa sekarang aku sudah tidak punya kesibukan.
Pertanyaan sederhana dari seorang teman bisa menjadi hal yang sensitif bagi orang seperti aku yang masih sedikit takut melihat masa depan. Efeknya bisa bermacam-macam. Bisa down, termotivasi, atau bahkan tidak ada efek sama sekali. Tapi itu untuk orang-orang yang tidak paham terhadap sebuah pertanyaan sederhana seperti yang dilontarkan Eka kepadaku.
Inilah salah satu bagian hidupku yang sangat-sangat kecil. Bagiku hidup adalah seperti menjawab pertanyaan. Setiap hari selalu ada pertanyaan baru yang harus dijawab. Paling sederhana, setiap pagi pertanyaan tentang menu sarapan harus selalu kujawab sebelum terlambat sarapan. Maka, bagian-bagian hidupku yang lain adalah seperti sebuah buku pelajaran tanya jawab tentang kehidupan, satu-satunya buku pelajaran yang tidak pernah kutemui sejak mulai sekolah di taman kanak-kanak. Mungkin aku yang harus membuatnya sendiri untukku? Sebuah pertanyaan lain yang harus kujawab lagi.
Cerita ini dimulai dari sebuah percakapan di sebuah Burjo pada suatu pagi. Ya, sebuah percakapan, walaupun hanya melibatkan satu pertanyaan dan sebuah jawaban. Seperti pagi di hari-hari sebelumnya, aku biasa mengisi perut di burjo dekat kosan. Hanya perlu sekitar 30 detik berjalan kaki menuju kesana dengan jalan kaki. Jarak tempuh yang bias dibilang sangat-sangat dekat. Umumnya, orang akan memilih berjalan kaki untuk menempuh jarak sedekat itu. Tapi, aku memilih naik motor dengan waktu tempuh yang sedikit lebih lama daripada berjalan kaki.
Kembali ke warung burjo. Seperti biasanya, aku masuk ke warung burjo dengan memberi sedikit senyum pada penjaga burjo yang biasa kupanggil aa, dan langsung memesan menu paling murah disana. Pesananku nasi telor dan es the. Menurutku inilah paket pilihan menu paling murah setiap di burjo yang beroperasi di Jogja. Rp. 4000 cukup logislah untuk biaya sarapan. ”anak orang miskin ini” pikirku dalam hati.
Tak lama menunggu, pesanan pun datang. Aku adalah tipe orang yang tidak suka menunda pekerjaan. Maka es the baru datang pun langsung kusedot. “srettttt…” ini bukan soal kehausan tetapi masalah kebiasaan atau hobi mengulum sedotan dan akupun masih mengulum sedotan ketika Si aa burjo datang lagi membawa sebuah piring dan membantingnya di depanku. Sekali lagi bukan karena kelaparan, tapi aku langsung memakan pesanan yang datang. Inilah kebiasaan baikku, tidak menunda pekerjaan, apalagi pekerjaan menghabiskan makanan.
Terasing dari keramaian Burjo karena sibuk menyendok nasi dan memasukkannya ke dalam mulut, tiba-tiba seseorang melontarkan pertanyaan kepadaku “lagi sibuk apa di?”. Aku kaget, bukan karena suara yang mengagetkan tetapi pertanyaan itu seperti mengingatkan bahwa aku baru saja kehilangan kesibukan. Maklum, skripsi selesai, pekerjaan sebagai asisten peneliti pun selesai kontrak, dan kini aku jadi pengangguran. Tepatnya calon sarjana yang menganggur. Tunggu, bukan calon sarjana, tetapi sarjana yang jadi calon penganggur untuk beberapa bulan kedepan, itu kalau nasibku baik. Kalau bernasib buruk, mungkin jadi sarjana pengangguran dalam beberapa tahun kedepan. Wow, bukankah itu suatu hal yang sangat mengerikan?
Masih dengan keterkejutan, aku menoleh mencari sumber suara itu sambil mengulum sendok berisi nasi, sambal, dan secuil telor yang kusendok dari piring di depanku. Aih, ternyata itu suara Eka, salah satu teman kosku yang orang Bali. Dia melontarkan pertanyaan yang menohok. Aku bingung menjawabnya. Aku takut melontarkan jawaban yang memalukan. Aku takut orang-orang yang ada di burjo mendengar jawabanku dan menoleh kearahku dengan wajah mereka yang mengasihani, atau bahkan menyelamati bahwa aku akan segera jadi pengangguran. Dalam beberapa detik atau menit aku terdiam. “em…” dan akhirnya kutemukan jawaban yang tepat “lagi gak sibuk apa-apa”
Jawaban yang brilian. Aku tak percaya bisa menemukan jawaban brilian tersebut. “brilian” pikirku setelah menjawab si Eka. Setidaknya jawabanku tidak mengungkapkan masa depanku yang masih terbayang suram. Sempat terpikir untuk menjawabnya seperti ini. “lagi sibuk daftar wisuda” bukankah itu jawaban yang konyol? Seingatku mendaftar wisuda bisa selesai dalam satu hari dan itu bukanlah kesibukan yang perlu dibanggakan. Atau kata seorang teman, bukanlah hal yang bisa dikategorikan sebagai kesibukan.
Untungnya percakapan tidak berlanjut. Mungkin si Eka tahu aku tidak nyaman dengan pertanyaannya. Percakapan selesai, dan aku bisa melanjutkan acara makan pagiku masih dengan perasaan yang terganggu. Aku diingatkan oleh seseorang yang tak terduga bahwa aku akan segera menjadi pengangguran. Tanda-tandanya sudah jelas, bahwa sekarang aku sudah tidak punya kesibukan.
Pertanyaan sederhana dari seorang teman bisa menjadi hal yang sensitif bagi orang seperti aku yang masih sedikit takut melihat masa depan. Efeknya bisa bermacam-macam. Bisa down, termotivasi, atau bahkan tidak ada efek sama sekali. Tapi itu untuk orang-orang yang tidak paham terhadap sebuah pertanyaan sederhana seperti yang dilontarkan Eka kepadaku.
Inilah salah satu bagian hidupku yang sangat-sangat kecil. Bagiku hidup adalah seperti menjawab pertanyaan. Setiap hari selalu ada pertanyaan baru yang harus dijawab. Paling sederhana, setiap pagi pertanyaan tentang menu sarapan harus selalu kujawab sebelum terlambat sarapan. Maka, bagian-bagian hidupku yang lain adalah seperti sebuah buku pelajaran tanya jawab tentang kehidupan, satu-satunya buku pelajaran yang tidak pernah kutemui sejak mulai sekolah di taman kanak-kanak. Mungkin aku yang harus membuatnya sendiri untukku? Sebuah pertanyaan lain yang harus kujawab lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar