Facebook adalah narsisme, kata sebagian orang yang menolak kehadirannya. Facebook adalah penghisap waktu luang. Waktu luang dihisap melalui sebuah layar monitor. Tapi tunggu, ada hukum kekekalan waktu yang mengaturnya. Waktu yang dihisap tidak serta merta habis. Waktu luang dikonversikan menjadi representasi dalam sebuah media modern, dunia maya.
Sebelumnya tak ada masalah dengan Facebook sampai suatu kali orang menyadari bahwa bukan hanya waktu luangnya saja yang telah dihisap Facebook, tetapi juga waktu produktifnya. Beberapa yang kecewa, mengutuk seakan-akan membenci Facebook tetapi tetap saja mereka tak bisa lepas, Trapped in Toyland kata mister Big.
Tapi apa salahnya jika narsisme adalah sinonim dari Facebook. Sigmund Freud menggunakan istilah narsisme untuk menggambarkan kecintaan orang pada diri sendiri. Andrew Morrison pun mengamini bahwa narsisme membantu orang membangun persepsi diri dan relasinya dengan orang lain.
Dalam dunia modern seperti sekarang ini, narsisme juga berarti representasi. Narsisme adalah kata kunci agar orang dapat dikenal dalam jagad ruang publik yang dipenuhi representasi dan mitologi. Ketika semua orang sudah kehabisan waktu untuk merepresentasi orang lain, maka tak ada jalan lain kecuali menjadi narsis dan merepresentasikan diri sendiri.
Narsisme menjadi semacam alat hegemoni ditingkat individu. Beberapa waktu lalu, Facebook menjadi populer karena digunakan sebagai alat kampanye Barack Obama. Setelah itu, beberapa orang Indonesia yang berencana menjadi presiden seperti Rizal Mallarangeng dan Fadjroel Rachman pun mengikuti jejak Obama. Mereka menempelkan tidak hanya foto dan data pribadi, tetapi juga sedikit pemikiran.
Orang-orang seperti ini mencoba menggunakan Facebook sebagai alat hegemoni. Orang postmodernis akan mengatakan bahwa menghegemoni orang bisa juga dengan menjadi narsis. Kuncinya siapa paling narsis, dialah yang akan mendominasi. Tak perlu mendunia, paling tidak menjadi populer dikalangan aktifis Facebook.
Narsisme terjadi dimana-mana dalam berbagai tingkatan. Mulai dari level politik tingkat tinggi hingga level cinta monyet, narsisme selalu memegan peranan. ‘Pilihlah Mbah Bardi’ kata seorang caleg tua, yang menempelkan foto wajahnya dengan percaya diri di pinggir-pinggir jalan. Dan seperti yang dilakukan mbah Bardi, narsisme memang selalu berkutat pada penonjolkan citra diri dan mengeksklusi citra orang lain. Tujuannya, seperti kata Andrew Morrison, narsisme akan menciptakan sebuah relasi yang politis.
Dalam Facebook relasi politis terjadi pada level individu. Pertarungan wacana pada level individu terjadi didalamnya melalui sebuah mashab, narsisme. Orang yang paling aktif dalam Facebook adalah orang yang akan menjadi dominan, minimal selalu menjadi urutan pertama pada daftar notifikasi terbaru. Kalau demikian jadinya, mengapa harus membenci narsisme. Mengapa pula membenci Facebook yang menghisap waktu luang, bahkan waktu produktif. Sementara Facebook telah menjadi media baru bagi perebutan hegemoni individu melalui narsisme. Sekalipun semua itu dimulai secara tidak sadar dimulai dengan omong kosong, ‘kenalan donk’ dan ‘thx for adding me’
Sebelumnya tak ada masalah dengan Facebook sampai suatu kali orang menyadari bahwa bukan hanya waktu luangnya saja yang telah dihisap Facebook, tetapi juga waktu produktifnya. Beberapa yang kecewa, mengutuk seakan-akan membenci Facebook tetapi tetap saja mereka tak bisa lepas, Trapped in Toyland kata mister Big.
Tapi apa salahnya jika narsisme adalah sinonim dari Facebook. Sigmund Freud menggunakan istilah narsisme untuk menggambarkan kecintaan orang pada diri sendiri. Andrew Morrison pun mengamini bahwa narsisme membantu orang membangun persepsi diri dan relasinya dengan orang lain.
Dalam dunia modern seperti sekarang ini, narsisme juga berarti representasi. Narsisme adalah kata kunci agar orang dapat dikenal dalam jagad ruang publik yang dipenuhi representasi dan mitologi. Ketika semua orang sudah kehabisan waktu untuk merepresentasi orang lain, maka tak ada jalan lain kecuali menjadi narsis dan merepresentasikan diri sendiri.
Narsisme menjadi semacam alat hegemoni ditingkat individu. Beberapa waktu lalu, Facebook menjadi populer karena digunakan sebagai alat kampanye Barack Obama. Setelah itu, beberapa orang Indonesia yang berencana menjadi presiden seperti Rizal Mallarangeng dan Fadjroel Rachman pun mengikuti jejak Obama. Mereka menempelkan tidak hanya foto dan data pribadi, tetapi juga sedikit pemikiran.
Orang-orang seperti ini mencoba menggunakan Facebook sebagai alat hegemoni. Orang postmodernis akan mengatakan bahwa menghegemoni orang bisa juga dengan menjadi narsis. Kuncinya siapa paling narsis, dialah yang akan mendominasi. Tak perlu mendunia, paling tidak menjadi populer dikalangan aktifis Facebook.
Narsisme terjadi dimana-mana dalam berbagai tingkatan. Mulai dari level politik tingkat tinggi hingga level cinta monyet, narsisme selalu memegan peranan. ‘Pilihlah Mbah Bardi’ kata seorang caleg tua, yang menempelkan foto wajahnya dengan percaya diri di pinggir-pinggir jalan. Dan seperti yang dilakukan mbah Bardi, narsisme memang selalu berkutat pada penonjolkan citra diri dan mengeksklusi citra orang lain. Tujuannya, seperti kata Andrew Morrison, narsisme akan menciptakan sebuah relasi yang politis.
Dalam Facebook relasi politis terjadi pada level individu. Pertarungan wacana pada level individu terjadi didalamnya melalui sebuah mashab, narsisme. Orang yang paling aktif dalam Facebook adalah orang yang akan menjadi dominan, minimal selalu menjadi urutan pertama pada daftar notifikasi terbaru. Kalau demikian jadinya, mengapa harus membenci narsisme. Mengapa pula membenci Facebook yang menghisap waktu luang, bahkan waktu produktif. Sementara Facebook telah menjadi media baru bagi perebutan hegemoni individu melalui narsisme. Sekalipun semua itu dimulai secara tidak sadar dimulai dengan omong kosong, ‘kenalan donk’ dan ‘thx for adding me’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar