Senin, 02 Februari 2009

Novel Picisan Tentang Pedalaman


Judul : Lembata
Penulis : F. Rahardi
Penerbit : Lamalera, 2008
Tebal : ix + 256


Orang-orang bergerak tak jauh dari kemelaratan. Sementara itu, segelintir orang yang bergerak mendorong orang-orang melarat tersebut menjauh dari kemelaratan. Semua bergerak, namun Lembata, pulau kecil melarat yang baru delapan tahun menjadi kabupaten menjadi simpul utama bagi keseluruhan isi novel.

“Novel ini merupakan gugatan keras atas kebekuan dan ketulian Gereja” begitu pengantar penerbit diawal novel ini dengan sedikit contoh ilustrasi keberhasilan novel Da Vinci Code karya Dan Brown. Penerbit memberi sedikit gambaran kontekstual bagaimana novel karya F. Rahardi ini muncul.

Beberapa novel yang menyinggung sisi “lain” gereja memang sukses dipasaran beberapa tahun belakangan. Sebut saja, setelah Da Vinci Code dan Angel and Demon karya Dan Brown, menjamur novel dan buku dengan tema-tema serupa di Barat. Dan seperti tipikal industri kreatif di Indonesia, para penerbit dan penulis pun latah tak mau ketinggalan. Penerbit ramai menerjemahkan novel kontroversial tersebut. Penulis pun tak mau ketinggalan tren yang sedang digeluti para penerbit dengan menulis novel atau buku dengan tema serupa.

Jika dirunut kebelakang, jauh sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, gereja memang selalu obyek yang menarik. Kesakralan dan kuasa yang dimiliki gereja adalah daya tarik tersendiri bagi beberapa orang untuk imajinasikan isi dibalik temboknya. Hebatnya, di Barat imajinasi paling liar, layaknya ide tentang kebebasan adalah hal yang dilindungi.

Hal ini berbeda dengan dunia Timur yang selalu lebih melindungi simbol-simbol sakral daripada melindungi orang-orang yang menhidupi simbol-simbol tersebut. Lihat saja, orang-orang yang berimajinasi liar tentang Masjid, Al Quran, bahkan tentang ulama adalah orang yang dihalalkan untuk dibunuh. Karena itu, lagi-lagi gereja adalah simbol kesakralan yang aman untuk diimajinasikan secara liar.

Agaknya F. Rahardi menjadi salah satu contoh tipikal penulis Indonesia yang latah tak mau ketinggalan momen. Tanpa tema segar dan original, Lembata menjadi novelnya yang picisan dan mengimitasi ide populer tentang kekolotan gereja. Praktis tak ada hal baru yang akan menjadi inspirasi ketika membaca novel ini, terlebih jika pernah membaca Angel and Demon atau Da Vinci Code.

Dari segi tema, F. Rahardi memang tidak menawarkan hal baru selain sentuhan lokal dalam novelnya. Lembata menjadi pilihan tepat untuk menggambarkan sebagian kecil kemelaratan Indonesia. Selain Lembata, masih banyak pulau-pulau kecil yang dihuni orang-orang yang tak pernah bergerak menjauh dari kemelaratan. Sebut saja pulau-pulau seperti Nipah, Solor, Adonara, dan ratusan pulau kecil lainnya. Di pulau-pulau seperti ini, listrik PLN tidak pernah ada, listrik swadaya pun hanya bertahan dua jam sehari. Selama itulah jatah nonton TV yang interaksi dengan dunia luar dapat dilakukan.

Di pulau-pulau seperti ini, institusi agama menjadi salah satu pemilik kekuasaan politik selain pemerintah. Institusi agama seperti gereja bahkan memiliki jaringan yang bisa lebih dalam masuk dalam komunitas masyarakat daripada yang dilakukan pemerintah. Bayangkan saja, kepala desa bisa lebih tunduk kepada pastor daripada kepada camat maupun bupati.

Tanpa ide segar, memang membosankan membaca novel Lembata karya F. Rahardi ini. Terlebih pembaca Indonesia dalam beberapa tahun belakangan dicekoki dengan novel-novel Barat yang memiliki jalan cerita lebih canggih dan kompleks. Jika dibandingkan, bahkan dalam hal akrobat kata-kata F. Rahardi kalah telak.

Akrobat kata yang minim telah menjebat novel ini dalam kategori novel picisan. Kualitasnya tak mampu mengalahkan Pram dan novelis jadul Indonesia. Namun sepeninggal Pram, novel ini tetap layak dibaca. Minimal jika pembaca tak mendapat pencerahan, pembaca akan sedikit mengetahui kondisi Lembata dan masyarakat di dalamnya.

Tidak ada komentar: