Sabtu, 28 Februari 2009

Aku Narsis Maka Aku Ada

Alkisah di dunia para Dewa Yunani, Narcissus adalah pria yang sangat tampan, anak hasil perkosaan Dewa sungai Chepisus terhadap bidadari Liriope. Konon, ketampanan Narcissus hanya dapat dibandingkan dengan Adonis pujaan Aphrodite, Endymion kekasih Selene, atau Ganymedes selingkuhan Zeus.

Setelah kelahiran Narcissus, Tiresias seorang dewa nujum meramalkan bahwa Narcissus akan berumur panjang jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Dan ramalan ini terbukti ketika Narcissus tanpa sengaja melihat bayangan dirinya di sebuah kolam sumber air di tengah hutan.

Awalnya Narcissus hanya kehausan ketika berburu, namun tanpa sengaja bayangan dirinya di dalam kolam membuatnya terpesona. Akhirnya ramalan Tiresias pun menjadi kenyataan, Narcissus tak berumur panjang karena mati kehausan demi menjaga bayangannya agar tetap utuh didalam kolam.

Sebenarnya dengan ketampanan yang dimiliki, Narcissus menjadi pujaan para bidadari. Namun, semua ditinggalkannya sampai pada suatu saat ketika Narcissus berburu di sebuah hutan dan Echo, seorang bidadari mengamatinya dari jauh.

Echo adalah seorang dewi yang pernah menjadi selingkuhan Zeus. Karena sebuah perselingkuhan yang tertangkap basah, Echo dikutuk menjadi sulit berbicara kecuali mengulang kata-kata yang diucapkan kepadanya. Kutukan ini terjadi ketika Hera mulai curiga dengan gerak-gerik Zeus dan membututi suaminya itu hingga ke sebuah istana milik Dewi Echo.

Echo dan Hera pun terlibat dalam sebuah perdebatan. Hera menuduh Echo telah merebut suaminya, sementara Echo membela diri dengan cerita tak benar yang panjang lebar demi memberi waktu bagi Zeus untuk melarikan diri dari pintu belakang. Hera yang kesal akhirnya mengutuk Echo. Echo pun terkutuk dan tak bisa berbicara kecuali mengulang kata-kata yang diucapkan kepadanya.

Echo lari bersembunyi ke hutan sampai suatu saat dirinya jatuh cinta pada Narcissus yang sedang berburu. Kutukan Echo membuatnya tak bisa mengungkapkan isi hati. Sementara Narcissus yang tak tertarik pada siapapun mengacuhkan Echo yang hanya mengulang kata-kata.

Ketika Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri, Echo pun hanya bisa mengulang kata-kata cinta Narcissus. Ironisnya, Narcissus hanya mendengar kata-kata ulangan Echo sebagai balasan cinta dari bayangan dirinya di dasar kolam. Karena itu, semakin lama Narcissus justru semakin mencintai bayangannya sendiri. karena takut akan kehilangan bayangannya, Narcissus pun tak pernah meminum air kolam itu maupun meninggalkannya hingga akhirnya Narcissus mati kehausan.

Cerita Narcissus dan Echo adalah sebuah ironi cerita cinta segitiga. Inilah ironi Narsisme yang dapat ditemui dalam dunia kontemporer. Media blogging dan social networking yang semakin menghisap bandwith adalah salah satu indikator Narsisme yang semakin dalam. Tengok saja omong kosong isi blog maupun profil dalam situs-situs social networking yang pada dasarnya adalah informasi yang tak penting.

Orang mulai berlomba untuk berpartisipasi dalam jadad Narsisme yang semakin mudah karena fasilitas teknologi komunikasi yang semakin maju. Namun, semakin kedepan, orang pun semakin kehilangan waktunya. Imbasnya, orang tak lagi punya waktu untuk mengapresiasi Narsisme secara kritis. Kebanyakan orang pun akhirnya menjadi Echo-Echo jaman modern, yang mengapresiasi Narsisme melalui komen-komen basa-basi.

Ironisnya, ulah Echo jaman modern itu, seperti dalam mitologi Yunani, justru membuat orang semakin dalam larut dalam Narsisme. Echo dalam mitologi Yunani membuat Narcissus semakin mencintai bayangannya sendiri, begitu pula yang dilakukan Echo jaman modern yang membuat para narsis semakin mencintai dirinya sendiri.

Asik memang ketika tiba-tiba menemukan sebuah komen Echo dalam blog ataupun situs jejaring sosial. Orang akan semakin bersemangat membalas komen Echo dan tentu saja bersemangat untuk semakin eksis dalam narsisme jagad maya.

Tapi orang-orang juga tak kehilangan akal untuk terus eksis. Tak hanya menjadi Echo, orang pun sekaligus menjadi Narcissus. Orang-orang tak cukup hanya memiliki satu wajah Echo atau Narcissus. Untuk terus eksis, orang perlu memilih dua wajah, Echo bagi orang lain dan Narcissus bagi dirinya sendiri. Seperti sebuah lingkaran setan, semuanya terjadi dalam konteks yang berulang. Semakin narsis, maka semakin echo, dan lingkaran terus berputar menuju kedalaan narsisme dan echoisme.

Sekarang motonya, Aku Narsis maka aku ada, dan memang narsisme semakin diperlukan. Tanpa narsisme, tak akan ada representasi yang kemudian akan berujung pada nihilisasi peran dan keberadaan seseorang. Maka benar sudah ungkapan, aku narsis maka aku ada. Dan semua mahasiswa sekarang berteriak-teriak dijalanan, Hidup narsisme...! bukan lagi lawan kapitalisme...

Tidak ada komentar: