Beberapa hari ini saya sering ke rumah sakit, sekedar menengok nenek yang beberapa hari lalu koma, tak sadarakan diri karena gangguan aliran darah di otak yang sering disebut stroke. Dia ditemukan didapur, setelah beberapa jam lamanya setelah pingsan di samping kompor dan beberapa komposisi yang siap dimasak menjadi sayur asem, masakan kesukaan keluarga besar.
Ditemukan didapur, nenek langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, masuk ke ruang ICU. Koma, kata dokter. Dan koma itu seperti tidur, hanya saja tidur dalam jangka waktu yang lama, mungkin untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan kedepan.
Stroke itu seperti serangan jantung, kata paman yang tampaknya sudah menjadi ahli penyakit dalam karena sudah puluhan tahun bekerja di rumah sakit, meski bukan sebagai dokter. Secepatnya harus segera dilakukan tindakan sebelum terlambat. Tapi, dokter-dokter Indonesia mana ada yang cekatan. Dan saya jadi semakin tahu kenapa serangan jantung dan stroke adalah penyebab kematian pertama dan kedua di Indonesia. Pasti, karena dokter-dokter yang kurang cekatan, yang mungkin lebih cekatan bermain mata dengan perawat-perawat rumah sakit.
Ironis, dirumah sakit terdekat yang paling diharapkan, ternyata tidak memiliki alat. Demi mencari alat yang dinamakan CT Scan pun orang harus ke rumah sakit besar di pusat kota yang berjarak beberapa jam. Artinya, tetap tinggal di rumah sakit terdekat, atau mencari CT scan di Yogyakarta, adalah keterlambatan penanganan.
Tak ada yang bisa diharapkan dari keterlambatan, kecuali mukjisat yang sepertinya hanya terjadi di jaman-jaman para nabi. Meski dokter kurang cekatan, alat tak ada, dan keterlambatan penanganan, tapi semua keluarga tampak lebih cekatan merawat berat nenek agar tak berkurang satu gram pun. Karena konon, 21 gram adalah berat kehidupan.
Ditemukan didapur, nenek langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, masuk ke ruang ICU. Koma, kata dokter. Dan koma itu seperti tidur, hanya saja tidur dalam jangka waktu yang lama, mungkin untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan kedepan.
Stroke itu seperti serangan jantung, kata paman yang tampaknya sudah menjadi ahli penyakit dalam karena sudah puluhan tahun bekerja di rumah sakit, meski bukan sebagai dokter. Secepatnya harus segera dilakukan tindakan sebelum terlambat. Tapi, dokter-dokter Indonesia mana ada yang cekatan. Dan saya jadi semakin tahu kenapa serangan jantung dan stroke adalah penyebab kematian pertama dan kedua di Indonesia. Pasti, karena dokter-dokter yang kurang cekatan, yang mungkin lebih cekatan bermain mata dengan perawat-perawat rumah sakit.
Ironis, dirumah sakit terdekat yang paling diharapkan, ternyata tidak memiliki alat. Demi mencari alat yang dinamakan CT Scan pun orang harus ke rumah sakit besar di pusat kota yang berjarak beberapa jam. Artinya, tetap tinggal di rumah sakit terdekat, atau mencari CT scan di Yogyakarta, adalah keterlambatan penanganan.
Tak ada yang bisa diharapkan dari keterlambatan, kecuali mukjisat yang sepertinya hanya terjadi di jaman-jaman para nabi. Meski dokter kurang cekatan, alat tak ada, dan keterlambatan penanganan, tapi semua keluarga tampak lebih cekatan merawat berat nenek agar tak berkurang satu gram pun. Karena konon, 21 gram adalah berat kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar