Rabu, 25 Maret 2009

Fatamorgana – netral 9th

Waktu jua yang bicara mengakhiri sebuah kisah
Hidup adalah cerita petualangan anak manusia
Kelahiran kematian pertemuan perpisahan
Semua telah ditakdirkan kita yang jalani alurnya

Selamat datang didunia tempat mencuci mata
Semua fatamorgana surganya hawa nafsu

Akhirnya ditemukan juga sebuah lagu enerjik khas grup band Netral yang secara positif melihat kehidupan yang berjalin kelindan dengan dosa, godaan dan hawa nafsu. “Selamat datang di dunia, tempat mencuci mata, dan surga hawa nafsu”, kata mereka. Di gereja-gereja, di masjid, bahkan hampir disemua tempat yang dinyatakan sebagai tempat ibadah, saya kira tak mungkin kita menemukan ucapan selamat datang di dunia. “dunia itu fana” kata mereka. Memang mereka sepertinya menyesal terlahir kedunia, mencoba mengurung diri dan bermimpi tentang surga, yang masih patut diperdebatkan keberadaannya.

Semua tempat ibadah selalu mencoba berkampanye tentang indahnya surga, hina bagi semua hawa nafsu dan keduniawian. Ada yang sampai bergaya Timur Tengah dari tampak luar hingga tampak dalam, padahal mereka berada ribuan kilometer dari Timur Tengah, dan ironisnya mereka pun belum bernah sekalipun mencium bau padang pasir. Ada pula yang bergaya cleric jaman batu, memakai jubah, dan menempelkan gelar ordo didepan atau dibelakang nama mereka.

Orang kristen pun tak kalah lucu, mereka berdoa, menangis, yang lebih mengagumkan, mereka bisa berdoa sekaligus menangis tiap lima menit dalam satu kali ibadah. Yang paling lucu, bahasa roh syana na na bla bla bla, yang sebenarnya tak mereka pahami pun mereka kuasai dari mulut ke mulut. Saya membayangkan, mereka berlatih beberapa bulan, mengimitasi gembala-gembala gereja mereka yang absurd. Saya pun lalu berpikir, benarkah mereka yang pertama kali berkata-kata sya na na bla bla, syaka tak ka tak, bahasa roh, benar-benar anugrah, atau sekedar karangan, yang kemudian menular dari mulut ke mulut, sampai ke gereja-gereja di kampung-kampung terpencil di Indonesia.

Saya pun mengenal orang yang tak percaya Tuhan tapi juga menyesal terlahir didunia. Lalu dia mencari penyelamatan kepada siapa? Kepada batu yang selalu disimpan dikantong celana untuk menahan sesak boker ? atau mencari penyelamatan dari pohon didepan kamar kos yang memang kelihatan rimbun dan angker? Yang sering saya lihat orang-orang seperti ini mengadu pada manusia, sesamannya. Hina ...!

Lucu-lucu memang tingkah laku orang-orang yang menyesal hidup di dunia. Secara alamiah mereka selalu mencari penyelamatan dengan berkostum seperti jaman nabi, berkostum padang pasir, dan berbahasa roh dan bergaya seperti orang kerasukan roh yang mereka sebut kudus, atau menyembah pohon, dan mengantongi batu di kantong celana, sekedar mencari penyelamatan ketika sesak boker sudah diujung tanduk.

Absurd, tapi Netral membuat saya tersadar, masih ada orang yang bersyukur terlahir didunia, bersyukur berada di dalam surga hawa nafsu, dan selalu mencicipi dosa. Maka “Selamat datang didunia, tempat mencuci mata, surga hawa nafsu, tempat terbaik berbuat dosa”.

Tidak ada komentar: