Senin, 27 April 2009

Ekonomi Politik Ujian Nasional

Ujian Nasional memang salah satu kontroversi populer dalam dunia pendidikan Indonesia. Namun siapa sangka sisi ekonomi-politiknya lebih menyenangkan?

Proyek Ujian Nasional (UN) sebenarnya mulai dijalankan sejak tahun 2003 dengan nama Ujian Akhir Nasional (UAN). Entah apa bedanya, belakangan UAN diganti nama menjadi UN. Proyek ini bukanlah proyek baru. Sebelumnya proyek semacam ini juga pernah dijalankan dengan nama Ebtanas yang populer pada dekade 90an. Dekade ini, UN adalah bintangnya.

Kontroversi multidimensi muncul mulai dari segi pedagogis, hingga fundamental formulasi kebijakan. Beberapa orang mengkritik Ujian Nasional karena kaidah formulasi kebijakan yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Beberapa mengeluh karena sosialisasi dan fondasi pelaksanaan mulai dari kualitas pendidikan hingga moral dinilai rapuh. Sosialisasi minimal pun juga awalnya dikeluhkan.

Kontroversi tak berhenti. Kontroversi lain mulai bergerak ke ranah pedagogis. Beberapa mengkritik Ujian Nasional yang mencederai semangat intelektualitas dan mereduksinya dalam angka-angka.

UN memang menjadi tolok ukur standarisai produk pendidikan. Kualitas pendidikan dan hasilnya kemudian dilihat dari angka-angka sertifikat hasil UN. Namun siapa sangka proyek ini telah menciptakan lapangan kerja, dan menggalirkan uang dari siswa dan orang tua yang nervous menghadapi UN.

Belakangan bersamaan dengan semakin populernya UN, mulai muncul lembaga-lembaga bimbingan belajar. Lembaga-lembaga ini awalnya pada dekade 80an, sekedar bertujuan membantu anak-anak sekolah untuk mengejar ketertinggalannya di sekolah. Namun belakangan lembaga-lembaga ini malah mengkooptasi peran sekolah dalam mendidik anak. Lihat saja ketika beberapa sekolah lebih mempercayakan persiapan UN anak didiknya pada lembaga bimbingan belajar swasta.

Pertama kali, tren lembaga bimbingan belajar dimulai oleh Primagama. Lembaga ini didirikan sejak 1982 oleh Purdy E. Chandra dan kawan-kawan di Yogykarata. persaingan semakin seru namun belakangan, Primagama dengan anak-anak usahanya muncul sebagai lembaga bimbingan belajar paling besar di Indonesia. Entah berapa miliar rupiah sudah bisa diputar lembaga-lembaga ini dan berapa ribu pekerja terkena cipratannya. Yang jelas bisnis bimbingan belajar memang semakin menggiurkan seiring dengan semakin menegangkannya Ujian Nasional.

Beberapa tahun kemudian, Ganesha Operation didirikan di Bandung tahun 1984. lembaga ini mengklaim memiliki 60.000 siswa, dan 6000 diantaranya berhasil menembut PTN. Bandingkan saja dengan jumlah yang diklaim Primagama yang mencapai 350.000 di 83 kota.

Primagama dan Ganesha Operation bukan satu-dua pemain utama. Dibelakangnya masih ada puluhan bimbingan belajar lain yang berebut ceruk pasar. Sebut saja Sony Sugema College, Neutron Yogyakarta, SSC Intersolusi, Bulaksumur Association (BSA), hingga Kumon. Beberapa lembaga tersebut menjalankan model bisnis franchise seperti Primagama, pendahulu mereka.

Selain lembaga bimbingan belajar franchise yang sudah menyebar dipuluhan kota di Indonesia, muncul juga lembaga-lembaga lokal yang ikut memperebutkan ceruk pasar. Meskipun berskala rumah tangga, para pemain lokal biasanya menjangkau pasar yang tak terjangkau lembaga franchise. Sebut saja Nurul Fikri, Widodo Course, Aktif Course, hingga Bu Supri yang paling terkenal di Temanggung, yang merupakan puncak gunung es, sementara ribuan bahkan jutaan lainnya ada dibawah air.

Mendirikan lembaga bimbingan belajar memang terlalu mudah. Hanya perlu syarat legal formal sebuah yayasan dan sekedar diketahui sub dinas pendidikan luar sekolah. Total biaya pun tak lebih dari Rp. 1 juta untuk sekedar ijin dan syarat legal formal. Namun legal formal bukanlah syarat mutlak. Beberapa pemain lokal sekedar membuka ruang tamu rumah mereka untuk memancing murid-murid yang mulai nervous menghadai UN.

Diluar lembaga-lembaga bimbingan belajar itu, produsen alat tulis juga terkena cipratan bisnis UN. Paling tidak, untuk produsen pensil 2 B dan penghapusnya, bisnis menjadi sangat menguntungkan. Tahun 1998 saja nilai impor alat tulis termasul pensil 2 B dan penghapusnya mencapai 5,9 juta dolar. Sementara tahun 2008 nilai tersebut diperkirakan meningkat tajam mengingat UN yang semakin populer.

Melihat sistem koreksi yang digunakan. Pencil 2 B menjadi produk populer menjelang UN. Setidaknya hampir 6 juta perserta UN SMP dan SMA menggunakan pensil jenis ini. Peta pensil menunjukkan bahwa 60 persen memakai pensil kayu 2 B, sisanya memakai pensil mekanik. Namun pemain utama bisnis ini tetap dipegang oleh Faber Castell dan Staedler.

Strategi kedua perusahaan ini belakangan makin canggih. Lihat saja di pasar, akan dengan mudah ditemui paket-paket ujian dengan kisaran harga antara Rp. 5000 hingga Rp. 15.000. Meski produk eceran lebih murah, tawaran paket yang dikemas menarik memang kadang lebih menggiurkan bagi jutaan peserta UN.

Berkah UN tak berhenti pada pemain bimbingan belajar dan produsen pensil 2B. setidaknya para pengawas juga terkena imbasnya. Lihat saja anggaran UN tahun ini yang mencapai Rp. 439 miliar. 296 miliar dialokasikan untuk eksekusi UN SMP dan SMA, sementar anggaran UASBN SD mencapai 50,5 Miliar. Dana sebesar itu jelas jadi obyek bancakan bagi bagi pemain tetek bengek percetakan, distributor, penjaga soal, hingga pengawas ujian.

Pemerintah melansir data dilibatkannya lebih dari sejuta tim pengawas. Untuk tim independen dilaporkan mencapai 55 ribu dari perguruan tinggi. Sementara sebanyak 1 juta orang menjadi pengawas ruangan dari sekolah pelaksana. Jutaan pengawas tersebut tentu saja tidak bekerja Cuma-Cuma. Jelas mereka kena cipratan anggaran negara.

Dibalik kontroversi multidemensi yang melingkupi UN, paling tidak sisi ekonomi politik memang tetap menggiurkan. Tak heran pemerintah ngotot mempertahankan proyek ini.

Minggu, 26 April 2009

Penguasa Dan Kartini

Tanggal 21 April adalah hari Kartini. Namun beberapa orang lebih sibuk menyiapkan Kebaya yang akan dipakainya esok hari daripada mengingat sosok Kartini. Munkinkah sekarang saatnya merayakan hari Kebaya, bukan lagi hari Kartini ?

Awalnya Kartini hanya menulis surat kepada kawan penjajahnya. Namun sejarah berkata lain ketika penguasa mencatatkannya sebagai salah seorang pahlawan. Hari lahirnya pun dipaksakan untuk diperingati dengan segala simbol-simbol perayaan. Sekarang simbol yang masih tersisa hanyalah Kebaya.

Siapakah Kartini? Kartini adalah anak kelima RM Adipati Ario Sosrodiningrat, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Ngasirah, ibunya adalah jelata anak kiyai dari Jepara. Sesuai aturan penjajah, demi menjadi Bupati, Sosrodiningrat harus mendua dan menikah lagi dengan seorang bangsawan lain. R.A. Woerjan keturunan raja Madura kemudian menjadi istri baru Sosrodiningrat.

Dengan segala privilege yang dimilikinya sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menikmati bonus pendidikan pribumi rasa Belanda. Di sekolah penjajah ia belajar bahasa Belanda dan kultur lainnya hingga ia dipingit pada usia 12 tahun. Jika sekedar belajar bahasa, maka layaknya orang belajar bahasa pada jaman sekarang, menulis surat adalah salah satu sarana mempraktikkan bahasa yang ia pelajari.
Sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menemukan kawan penjajah native yang dapat diajaknya menjadi sahabat pena. Dan secara kebetulan, Kartini mendapatkan Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Belanda yang juga teman ayahnya, sebagai sahabat pena. Abendanon, entah dalam proyek politik etisnya atau tidak, memang pernah berkunjung ke Jepara. Belakangan, bersama dengan Van Deventer, Abendanon juga dikenal sebagai tokoh politik etis.

Bahasa ternyata telah membuka pertemuan Kartini dengan pemikiran baru dari Barat. Sebelum usianya yang ke 20 Kartini sudah membaca banyak ide barat dari majalah, buku, roman, dan surat kabar. Banyak ide masuk dikepalanya tak terkecuali ide feminisme gelombang pertama yang tercatat di surat kabar dan roman. Tulisannya pun pernah dimuat dalam beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Belanda. Namun ia tak pernah menerbitkan buku kecuali kumpulan surat "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang diterbitkan sahabat pena-nya setelah ia meninggal.

Kartini bertemu dengan pemikiran Politik Etis dan Feminisme yang sedang berkembang di Belanda. Maka tak heran kemudian surat-surat kepada kawan penjajahnya adalah pemikiran dan keluh kesahnya tentang ketimpangan pendidikan pribumi khususnya pribumi perempuan. Politik etis sendiri adalah buah kegagalan Belanda menanggung kerugian korupsi dan bengkaknya anggaran perang. Diponegoro adalah salah satu biangnya ketika perang panjang yang diorganisirnya memaksa penjajah untuk mengeluarkan banyak uang.

Kemudian edukasi pribumi adalah salah satu solusi pekerja murah. Sebagai perbandingan, seorang profesional belanda harus digaji 75 gulden, sementara pribumi terdidik hanya perlu dasi, kursi, dan gaji seperlima gaji orang belanda. Entah etis atau tidak, Politik Etis kemudian menjadi projek modern penjajah di Hindia Belanda, setelah sebelumnya kerja rodi telah mengakibatkan jutaan rakyat jelata terbunuh.

Dan Kartini tidak melakukan hal-hal signifikan sampai akhirnya mati setelah melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904, selain berkirim curhat pada kawannya. Ia memang pernah mengorganisir sekolah kaum wanita untuk tetangga sekampungnya, namun itu sekedar kegiatan mengisi waktu luang selama dipingit.

Sejarah kemudian berkata lain ketika ternyata kawan sahabat pena di negeri asalnya adalah pendukung politik etis. Kartini pun dipinjam sebagai ikon. Surat-surat dari Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, kemudian menjadi prawacana Politik Etis yang berhasil berhasil memancing belas kasihan orang-orang Belanda di negerinya.

Kartini tidak mengorganisir perlawanan, adalah salah satu faktor yang membedakannya dengan pahlawan wanita lainnya. Ketimbang pejuang wanita pribumi lainnya seperti Cut Nyak Dien, Christina Matha Tiahahu, Dewi Sartika, dan Siti Aisyah Wie Tienrolle yang memilih jalan perlawanan. Gerakan mereka lebih jelas terlihat namun sayang gerakan itu menyedot anggaran perang penjajah. Maka jadilah Kartini, ikon politik etis karena bagaimanapun juga Politik Etis adalah politik belas kasihan.

Gelombang politik etis pun menguat sampai akhirnya keluarga Van Deventer mendirikan Sekolah Kartini pada tahun 1912, beberapa tahun setelah Kartini meninggal. Sekolah didirikan di beberapa kota di Hindia Belanda seperti di Malang Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Namun sejarah tidak mencatat kelanjutan sekolah itu.

Rakyat Indonesia sepertinya harus berterima kasih pada Politik Etis dan para pencetusnya. Karena politik etis dikemudian hari memunculkan tokoh penting pendiri bangsa. Ide Barat telah menciptakan ke-Indonesia-an. Dan ide itu pula yang membangkitkan Indonesia dari penjajahan. Setidaknya, produk-produk Politik Etis adalah orang-orang yang ingin negaranya bebas merdeka. Maka kemudian munculah Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh produk politik etis lainnya.

Selang beberapa puluh tahun kemudian, Indonesia merdeka dengan gerakan-gerakan yang diorganisir produk-produk politik etis. Entah bagaimana ceritanya kemudian Presiden Soekarno, presiden seumur hidup itu menetapkan Kartini sebagai pahlawan dengan Kepres No 108 Tahun 1964 pada tanggal 2 mei 1964. Keppres sekaligus menetapkan tanggal 21 April sebagai hari kartini.

Entah apapula hubungan Soekarno, Gerwani, dan Kartini. Yang jelas, Gerwani menerbitkan majalah Api Kartini dan Berita Gerwani sebagai media agitasi dan propaganda feminisme. Api Kartini menunjukkan cara Gerwani meminjam nama Kartini atas nama perjuangan wanita. Selain itu, faktanya gelombang feminisme global juga menguat sejak tahun 1960an menjelang Soekarno mengeluarkan Keppresnya tentang Kartini. "Gerwani semakin diperhitungkan dalam percaturan politik Orde Lama sebagai oganisasi feminis di tanah air", kata Saskia Wieringa dalam disertasinya ketika menggambarkan posisi Gerwani. Dan memang gnggotanya yang mencapai 650.000 wanita pada tahun 1957 sudah cukup menggiurkan untuk ditarik sebagai tambahan mesin politik.

Gerwis adalah cikal bakal Gerwani. Awalnya didirikan sekitar tahun 1950an dan 650.000 wanita sudah menjadi anggotanya pada tahun 1957. Sementara ketika dilikuidasi pada tahun 1965/66 akibat G/30/S, Gerwani sudah berkekuatan 1,5 juta wanita Indonesia. Feminisme memang dekat dengan gerakan kiri. Maka tak heran jika Gerwani kemudian semakin dekat dengan PKI, bahkan dianggap sebagai organisasi massa bentukan PKI.

Entah benar atau tidak, bisa jadi tanggal 21 April adalah hadiah Soekarno pada Gerwani yang semakin kuat menjadi suporter Soekarno disamping PKI. Efeknya, Feminisme di Indonesia pun semakin diakui sejak adanya hari Kartini. Namun kedekatan Gerwani dengan PKI mematikan gerakan feminisme yang sudah semakin kuat. Beberapa analis menyayangkan kedekatan yang mengaburkan perjuangan feminisme dan menjerumuskan Gerwani dalam kudeta yang gagal. Dapat dipastikan jika Gerwani tak ikut dilikuidasi paska G/30/S, mainstraiming gender tak perlu lagi jadi tren baru dalam perpolitikan reformasi.

Siapapun Kartini, surat-suratnya adalah jalan pertama menuju sebuah roman politik yang berkepanjangan. Melalui surat-surat itu, Kartini dipinjam sebagai ikon Politik Etis. Politik Etis membuka peluang bagi ke-Indonesia-an untuk merdeka. Belakangan, dalam konteks Feminisme yang menguat pada tahun 1960an, dan Kartini lagi-lagi dipinjam penguasa untuk menggaet Gerwani sebagai mesin politik.

Di kemudian hari, Kartini menjadi lambang gerakan emansipasi wanita. Dan kebaya mungkin akan menjadi satu-satunya simbol yang masih melekat pada hari Kartini. "Meskipun Kartini hanya lambang, nilai yang diperjuangkan harus dikembangkan" kata Harsja Bachtiar. Maka, membawa surat Kartini pada kekinian atau membawa perjuangan wanita sebatas surat Kartini, menjadi sudah tak relevan lagi ketika wanita terdidik sudah semakin banyak. lalu sekarang apa lagi ? apakah berhenti pada 30 persen kursi di parlemen ?



Senin, 20 April 2009

Hemat (Tidak) Pangkal Kaya

Krisis ekonomi yang bekangan terjadi mengingatkan kembali pada depresi besar yang terjadi 70 tahun lalu. Ditengah depresi, munculah John Maynard Keynes dengan teori-teori yang dulu diragukan keberhasilannya. 70 tahun berlalu, dan sekarang semua orang sudah menjadi keynesian.

Seorang pengajar ternama di Universitas Cambridge, katanya pintar mencari peluang, kolektor barang antik, pemikir kelompok Bloomsbury, pemilik sebuah perusahaan asuransi, suami seorang ballerina, dan terakhir menjadi direktur Bank of London, adalah sedikit informasi tentang Keynes. Ia merasa kemampuan matematikanya lebih baik ketimbang kemampuan ekonominya. Bertrand Russel pun menyegani kemampuan itu. Namun apa daya ia lebih banyak berkecimpung dalam dunia ekonomi dan dikenal karena dunia itu.

Di Cambridge, Inggris tahun 1883, Keynes lahir dengan privilege kelas menengah inggris. Ayahnya, John Neville Keynes, adalah seorang ekonom ternama dan menduduki posisi administratif penting di Universitas Cambridge. Sementara ibunya, Florence Ada Keynes, termasuk menjadi salah satu wanita pertama dapat menembus patriarki Universitas Cambridge dan terakhir menjadi walikota Cambridge. Semua privilege yang melekat membuatnya dengan mudah menikmati pendidikan terbaik dan dengan mudah pula menduduki posisi-posisi penting dalam hidupnya.

Keynes lahir bersamaan dengan matinya Marx tahun 1883. Dan siapa sangka 40 tahun kemudian, Keynes menjadi penyelamat Kapitalisme ketika depresi besar mengguncang dunia. Hampir ekonom pesimis bahwa depresi dapat diatasi, ide Marx hampir bangkit dari kubur, dan Kapitalisme hampir mati karena kontradiksi yang ada didalamnya, seperti yang digembar-gemborkan Marx setengah abad sebelum depresi terjadi. “Keynes adalah juru selamat Kapitalisme” kata Robert B. Reich, seorang profesor ekonomi dalam tulisannya di majalah Times.

Sebelum terlalu terkenal, pada tahun 1915 Keynes menjadi salah satu birokrat departemen keuangan Inggris yang dikemudian hari ditinggalkannya untuk kembali ke Cambridge dan mengajar ekonomi. Setelah menghegemoni ekonomi dunia selama 150 tahun, atau sejak kapitalisme lahir, ekonomi Inggris untuk pertama kalinya morat-marit akibat perang dunia pertama. Keynes dipanggil masuk dalam departemen keuangan, dan ia pun ikut terlibat dalam beberapa negosiasi-negosiasi paska perang, duduk semeja dengan Woodrow Wilson, David Lloyd George dan Georges Clemenceau.

Pasca perang dunia pertama, Keynes dikirim dalam delegasi konferensi perdamaian di Paris 1918. Ketika semua pemimpin dunia ingin membalas dendam pada Jerman, Keynes muncul dengan ide perdamaian dan implikasi ekonominya. Ia menerbitkan buku dengan judul The economic consequences of Peace yang terjual 87000 kopi. Buku kecilnya mempengaruhi banyak orang. Dan akhirnya para pemenang perang setuju untuk membangun kembali Jerman sebagai pasar yang dapat menyerap hasil produksi para pemenang perang.

Perdamaian memang membawa dampat ekonomi yang cukup signifikan. Ekonomi global tumbuh dengan pesat selama tahun 1920-an. Konsumsi meroket. Dan untuk pertama kalinya di Amerika, semua keluarga memiliki mobil, televisi, dan radio. Ekonomi terus meroket hingga akhirnya pada terjun bebas pada tanggal 24 Oktober 1929 yang dikenal sebagai ‘Black Thursday’. Pasar saham amerika secara sporadis jatuh bergelimpangan seperti sekarang. Kekayaan sejumlah perusahaan besar terjun bebas. Akhir 1929, kerugian tercatat mencapai 40 miliar dollar. Aset ekonomi masyarakat tergerus. Yang kaya mendadak menjadi orang kere baru, sementara yang sudah kere mendadak jadi gelandangan baru.

Gejala depresi yang muncul belakangan menurut beberapa analis memang perlu diwaspadai mengingat kerugian ekonomi global yang telah mencapai triliunan dollar. IMF dalam laporannya yang akan dikeluarkan 21 April mendatang mengungkapkan bahwa kerugian global sudah mencapai 4 triliun dollar. Sementara laporan IMF akhir januari lalu hanya menyebutkan 2,2 triliun dollar. Pelaku ekonomi global tak mau kecolongan dengan menerapkan resep-resep Keynes.

Ceritanya, ditengah depresi 70 tahun lalu, Keynes muncul dengan bukunya yang berjudul "The General Theory of Employment, Interest and Money". Pada masa itu, solusi Keynes diragukan banyak ekonom. Dan ekonomi tak dapat dihindari terjun bebas semakin dalam. Nasabah bank panik hingga akhirnya tahun 1933 Franklin Delano Rosevelt, presiden Amerika yang baru saja terpilih mengumumkan ‘bank holiday’ untuk meredamnya.

Ketika semua solusi gagal, satu-satunya solusi yang belum dicoba adalah solusi Keynes. Franklin Delano Rosevelt, akhirnya mencoba mencoba resep Keynes pada tahun 1938. Hasilnya, Amerika mengalami boom ekonomi. Tahun 1944 adalah puncak produksi paska perang. Dan dua tahun kemudian, Keynes meninggal, namun solusi depresinya mengisi undang-undang ketenagakerjaan Amerika. Intinya, negara bertanggung jawab menjaga tingkat pengangguran, produksi, dan daya beli.

Pada intinya adalah konsumsi. Beberapa resep Keynes seperti anggaran defisit, stimulus, insentif, dan beberapa resep lain pada dasarnya bertujuan untuk mendongkrak konsumsi. ‘jika penawaran berlebih, maka permintaan juga’ seperti kata hukum penawaran. Namun hal itu sudah tak berlaku lagi. Karena tanpa daya beli penawaran hanya akan berhenti di gudang, berimplikasi pada kerugian investasi, pengangguran, dan daya beli yang semakin turun, dan akhirnya krisis terulang kembali.

Belakangan gelaja depresi telah merugikan ekonomi global hingga 4 triliun dollar. Beberapa negara, tidak terkecuali Indonesia, yang takut kecolongan segera menerapkan resep Keynes. Maka pemerintah Indonesia pun melakukan buy back saham BUMN, menaikkan jaminan simpanan hingga 2 miliar rupiah, mengeluarkan perpu jaring pengaman sistem keuangan, dan belakangan menjalankan banyak program-program stimulus mulai dari BLT, stimulus pajak, hingga menjalankan PNPM.

‘We are all Keynesian’ entah Richard Nixon atau Milton Friedman yang lebih dulu mengucapkannya, namun jargon lama tersebut adalah pengakuan atas kehebatan Keynes. Ia menyelamatkan Kapitalisme yang hampir hancur karena kontradiksi yang ada didalamnya. Dan hampir saja prediksi Karl Marx benar dan menghegemoni ekonomi dunia.

Jargon hemat pangkal kaya memang sudah saatnya diganti hemat pangkal stagnansi. Bagi Keynesian menyimpan uang dibawah bantal sama halnya dengan menghambat pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya pengeluaran seseorang adalah pendapatan bagi orang lain. Konsumsi seseorang adalah produksi, yang arti lainnya lapangan kerja bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika uang diinvestasikan dibawah bantal, produsen bantal pun tak menaikkan kapasitas produksi dan menambah karyawannya. Akibatnya ekonomi stagnan, produsen bantal mengurangi produksi dan karyawan. Kondisinya berbeda jika uang digunakan untuk membeli bantal, permintaan bertambah, kapasitas produksi dan karyawan pun terpaksa ditambah. Ekonomi bertumbuh.

Lihat saja Indonesia yang juga tak luput dari imbas krisis, tapi perekonomian masih tumbuh positif. Dalam kasus Indonesia, Konsumsi domestik telah berperan penting menjaga pertumbuhan ekonomi indonesia tetap positif diantara pertumbuhan negatif negara-negara maju. Indonesia masih tumbuh 4,5 persen dan menjadi salah satu dari tiga negara Asia yang masih memiliki pertumbuhan ekonomi positif. Pasar domestik yang mengambil porsi 65 persen dari ekonomi nasional adalah penyelamat. Sejak beberapa tahun lalu Indonesia memang tak mampu mendulang devisa lebih banyak dari ekspor karena banyak hal seperti kualitas produksi yang rendah hingga industrialisasi kelas teri. Akibatnya pasar domestik masih menjadi tumpuan. Namun siapa sangka kali ini pasar domestik adalah penyelamat. Inilah kegagalan yang membawa berkah.

“We are all Keynesian”, maka konsumsi adalah hal sentral, rantai pengeluaran adalah rantai penghasilan, dan konsumsi adalah produksi dan investasi yang melibatkan ribuan pekerja dan menggerakkan ekonomi. Jika sekarang hemat pangkal stagnansi, maka saat ini, saat ekonomi global sedang depresi, membelanjakan uang menjadi lebih berguna daripada membiarkannya dimakan jamur diawah bantal. Mari, belanjakan uang.....

Mengabdi Untuk UGM, Tapi UGM Untuk Siapa ?

Universitas Gadjah Mada yang tersohor itu dikenal karena prestasi dan orang-orang besar yang telah dilahirkannya. Besar, entah karena memang besar atau sengaja dibesar-besarkan. Namun, siapa sangka dibalik keangkuhan gedung-gedung kampus yang dibesar-besarkan itu ada jerih payah orang-orang termarjinalkan.

Waktu baru menunjukkan pukul 6.30 pagi ketika seorang bapak tua, mulai mengayuh sepedanya menuju kampus Universitas Gadjah Mada, tempatnya bekerja. Sebelumnya, sang istri telah membungkuskan bekal makan siang untuk menghemat pengeluaran. Dengan Jaket penahan dingin, sepeda tua, dan bungkusan bekal makan siang, bapak tua bergegas menuju tempat kerja. Dia adalah salah satu dari sekian banyak pegawai rendahan di UGM. Dengan tugas-tugas sepele, mereka, bapak tua dan kawan-kawan membuat kampus tetap berjalan normal, meski penghisapan tak membuat mereka hidup normal.

Orang-orang seperti bapak tua ini adalah orang yang selalu ditenggelamkan dibalik keangkuhan orang-orang besar dengan jasa kecil. Atau ditenggelamkan oleh orang-orang kecil dengan jasa yang dibesar-besarkan. Entah mana yang benar, tapi setiap pagi, sepeda kayuh mereka beradu cepat dengan mobil-mobil mahasiswa dan pembesar. Kewajiban memaksa mereka menang beradu dengan roda-roda berpenggerak mesin. Mereka orang-orang kecil itu datang pagi-pagi untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan universitas itu untuk mulai beraktifitas. Jasa yang selalu dianggap sepele oleh sebagian besar orang.

Sudah sejak tahun 1981 bapak tua bekerja sebagai pembantu umum di UGM. Selama hampir 20 tahun bekerja, tugasnya adalah menyapu lorong dan ruang didalam gedung tempatnya bertugas. Sesekali ia mengantar surat ke kantor-kantor fakultas. Tak jarang pula ia membuat minuman bagi para pembesar yang sedang rapat. Jelaslah itu semua adalah pekerjaan remeh-temah. Gajinya pun kecil karena tanggung jawab yang dikatakan orang tanggung jawab orang kere.

Dengan sebuah sepeda tua, bapak tua harus mengayuh selama 15 menit dari rumahnya di Jalan Magelang untuk sampai di tempatnya bekerja. Kadang ia menghabiskan waktu 30 menit mengayuh sepeda pelan-pelan jika ia sedang merasa lelah. Terkadang ia memang kelelahan karena ada pekerjaan tambahan yang harus dilakukan guna memenuhi kebutuhan hidup yang semakin membengkak.

Sepeda tua yang dikayuhnya itu adalah sepeda yang sama dengan sepedanya waktu pertama kali masuk bekerja di UGM. “saya lebih suka naik sepeda karena membuat jantung sehat. Lagian, saya tidak bisa naik motor” kata bapak tua menjelaskan kecintaannya bersepeda. Entah cinta, atau memang ia tak mampu membeli roda-roda bermesin meski ia telah mengabdi lebih dari 20 tahun.

Bersepeda adalah wujud kesederhanaan seorang bapak tua dalam menjalani hidup. Atau wujud ketidakberdayaannya melawan penghisapan ? bagaimanapun juga ia tak seperti orang-orang lain yang semakin sibuk mengejar waktu dan ambisi dengan kendaraan bermesin. Semakin tua, dan bapak tua tetap berjalan santai dengan sepeda tuanya. Tak ada yang perlu dikejar katanya. “Toh saya selalu datang paling pagi, lebih dulu dari mereka yang dikejar ambisi”. Dan memang si bapak tua selalu datang paling pagi di kantor, menyiapkan tempat bagi orang-orang mengejar ambisi. “mereka ambisius” tapi siapa sangka segala sesuatunya disiapkan oleh orang-orang yang tak berambisi.

Memang tak ada alasan untuk menunda pekerjaan remeh temeh. Begitu sampai dikantor, ia langsung bekerja. Tak dikatakan ambisinya, tapi adakah orang serajin itu tanpa ambisi? Semua alat kerja langsung dipegangnya. Ia bahkan mulai bekerja ketika para pegawai lain masih minum kopi dan membaca koran di halaman rumah. Ia menyelesaikan pekerjaannya sebelum orang lain datang. Sepertinya ambisinya hanya ingin pulang lebih cepat, sesuai recehan yang diterimanya sebagai gaji. Tapi apa daya “saya harus datang paling awal dan pulang paling akhir” kata sang bapak meratapi nasib.

Untuk pekerjaan remeh temeh, sebenarnya tidak memerlukan penjelasan dari atasan. Bahkan ia pun malas menjelaskan pekerjaannnya pada orang lain. “semuanya remeh temeh” katanya. Si bos pun hanya menyodorkan sapu tanpa berkata-kata ketika ia pertama kali masuk kerja. Tanpa bertanya pun si bapak tua yang dulu pernah muda itu menyapu semua yang bisa disapu, dari ujung ke ujung yang melelahkan jika dibandingkan dengan recehan yang diterimanya. Ia memang tak perlu bertanya untuk tugasnya, ia hanya perlu bertanya tentang nasibnya. 20 tahun mengabdi untuk UGM, tapi untuk UGM untuk siapa?

Dua anaknya pun hanya berakhir sebagai tukang bakso atau penjual pulsa. UGM tak menerima mereka, alasannya akademis, mereka gagal dalam persaingan dengan ribuan siswa SMA lain yang berebut masuk UGM. Tapi bagaimanapun recehan memang tak memungkinkan si bapak tua memberikan pendidikan dasar dan menengah yang cukup baik. Ia terancam terjebak dalam lingkaran setan pesuruh, lingkaran setan orang-orang kere. Dan sekali lagi memang ia harus bertanya tentang nasibnya, tapi pada siapa ?

Ipod Diplomacy

Beberapa waktu lalu Obama memberi hadiah kepada Gordon Brown, Perdana Menteri Inggris sebuah pemutar DVD. Di kesempatan lain, Obama menghadiahi Ratu Inggris sebuah Ipod lengkap dengan video dan lagu terpilih. Dan sekarang, diplomasi memang semakin populer dengan hadiah-hadiah yang dapat ditemukan di supermarket. Inilah era diplomasi populer, diplomasi supermarket, atau bahkan diplomasi konsumsi ?

Diplomacy gift adalah simbol persahabatan. Obyek yang dipertukarkan pun merupakan simbol pencapaian sosial dan kultural sebuah bangsa. Maka jika Obama menggunakan Ipod sebagai hadiah persahabatan, maka Ipod memang sudah mencapai puncaknya sebagai pencapaian inovasi bangsa Amerika. Setidaknya menjadi pencapaian yang layak dijadikan hadiah diplomasi

Tahun 1979, Masaru Ibuka, salah seorang pendiri Sony meminta para teknisi Sony untuk membuat sebuah alat pemutar musik portabel yang dapat menemaninya dalam penerbangan beberapa jam. Para teknisi kemudian datang dengan prototype besar namun masih dapat dikatakan portable sebagai pemutar musik. Beberapa bulan kemudian, Sony memperbaiki prototipe dan meluncurkan Walkman, pemutar musik pernah menjadi penemuan paling sukses sepanjang abad ini.

Walkman telah mengubah ubah cara dunia mendengarkan musik. Mendengar musik kemudian menjadi sangat populer, bisa dimana saja, sambil lalu, bahkan kadang menjadi alat bantu untuk mengasingkan diri dari lingkungan yang tak diharapkan.

Dengan keangkuhannya, Sony telah terjebak dalam mitologi bisnis inovasi yang dulu pernah mengantar mereka sebagai perusahaan top, menciptakan Walkman yang mengubah dunia. Kini Sony hampir tenggelam karena obsesi lamanya. Sony terlambat menciptakan LCD, TV layar datar, pemutar DVD, dan terlambat menciptakan Mp3 player portabel sebagai pengganti Walkman yang sudah usang.

Sony telah tenggelam dalam romantisme Walkman. Dalam romantisme itu, Sony kemudian dikenal karena keengganannya bekerja sama dengan perusahaan lain. Sony ingin mengulang kesuksesan Walkman yang mereka nikmati sendiri. Lihat saja gadget Sony yang tak kompatibel dengan memori biasa. Mereka memaksa konsumen untuk memakai memori mahal ciptaan mereka. Sony tak sendiri. Beberapa perusahaan seangkatan Sony seperti juga memiliki kepribadian yang sama, ingin memonopoli inovasi.

Namun apa daya, sekarang adalah era ‘open innovation’ kata Henry Chesbrough, profesor bisnis Berkeley, atau jaman ‘democratizing innovation’ kata Eric von Hippel, profesor manajemen M.I.T. Monopoli inovasi seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan masa lalu hanya akan menghisap sumber daya modal demi riset tak terarah yang menenggelamkan mereka.

Walkman yang pernah berjaya kini telah digantikan Ipod buatan Apple. Dengan cepat Ipod menguasai pasar pemutar musik portabel. Ipod menawarkan banyak hal yang sering dianggap sebagai kemudahan oleh khalayak ramai. Kemudahan yang tak bisa didapat dari pemutar musik portabel lain. Misalnya saja, iTunes yang terkenal itu menawarkan file musik digital legal yang bisa dibeli tanpa harus bangun dari kasur.

Awalnya model bisnis iTunes dikhawatirkan makin memperburuk pembajakan. Nyatanya, orang-orang makin rela membayar demi kemudahan yang ditawarkan iTunes. Dan kemudian, iTunes menjadi situs musik digital legal pertama. Pendapatan dari iTunes bahkan kemudian mampu mensubtitusi pendapatan bagi industri musik yang dicuri pasar bajakan.

Seperti kata Keynes, konsumsi adalah peluang bagi ekonomi. Permintaan Ipod yang begitu masif juga telah menciptakan banyak peluang kerja, termasuk menciptakan ekonominya sendiri, Ipod economy. Penggeraknya adalah perusahaan pembuat komponen, pembuat aksesoris, hingga penjual file musik digital online. Dengan demikian, membeli Ipod adalah rantai konsumsi pertama. Rantai-rantai berkutnya adalah rantai konsumsi yang seperti kata Keynes, adalah rantai penggerak pertumbuhan ekonomi.

Consumer Electronics Association (CEA) memperkirakan bisnis tetek bengek aksesori Ipod saja akan memutar uang hingga 1 triliun dollar pada tahun 2008 atau naik 45 persen dari 2007. Saat ini saja sudah ada 93 perusahaan pembuat speaker portabel untuk Ipod. Sementara totalnya mereka memproduksi 279 model speaker yang dijual secara global. Belum lagi bisnis lagu digital via iTunes yang katanya mampu mensubtitusi kerugian akibat pembajakan CD secara global.

Ipod tak hanya menciptakan ekonomi yang ekslusif. Bisnis mp3 player abal-abal juga ikut bergerak memenuhi tren kebutuhan orang-orang yang terobsesi pada pemutar musik digital portabel namun tak mampu masuk dalam rantai konsumsi Ipod. Maka kemudian muncul ribuah merek mp3 player yang menyerbu negara-negara berkembang seperti Indonesia dimana pembajakan masih marak, sementara penduduk masih belum mampu membeli lagu dari iTunes.

Puncaknya, setelah lebih dari 8 tahun diluncurkan, Ipod kini menjadi simbol kultural Amerika. Ia menjadi sejajar dengan simbol kultural Amerika lainnya seperti McDonalds, dan Coca Cola. Hadiah (baca: cenderamata) diplomasi Obama kepada Ratu Inggris pun sekedar Ipod yang bisa dibeli di warung-warung pinggir jalan. Berikutnya, demi perdamaian, Ipod lengkap dengan file audio Al Quran bisa saja diberikan kepada Ahmadinejad.

Maka sekarang sekedar politik luar negeri bebas aktif sudah tak cukup lagi, kini jamannya ipod diplomacy. Jika Sjahrir memainkan diplomasi beras untuk bersahabat dengan India, sekarang diplomasi apa yang akan dimainkan SBY? Lumpur?


Sabtu, 11 April 2009

Hegemoni Mesin Pencari

Internet adalah penemuan paling penting abad ini. Secara sadar atau tidak, internet bergerak menjadi sebuah kebutuhan penting. Namun secara tak sadar juga, internet ada dalam kuasa mesin pencari.

Komputer belakangan mulai bergerak menuju kebutuhan primer. Beberapa orang mulai melihat komputer sebagai barang yang harus dimiliki disamping televisi dan lemari es. Data Apkomindo menujukkan bahwa 3 dari sepuluh rumah tangga sudah memiliki komputer. Sementara untuk kalangan mahasiswa 8 dari 10 sudah memiliki komputer atau laptop sendiri. Kecenderungan kepemilikan komputer dan laptop untuk beberapa tahun kedepan memang akan mengalami kenaikan signifikan

Sementara itu penetrasi internet juga akan mengikuti tren penetrasi kepemilikan komputer dan laptop. Kecenderungan ini dapat dilihat dari data sejak tahun 2000 hingga 2008 yang menunjukkan peningkatan pengguna internet di Indonesia. Data menunjukkan pada tahun 2000 internet hanya digunakan oleh 2 juta pengguna, sementara data tahun 2008 menunjukkan bahwa pengguna internet tanah air sudah mencapai 25 juta atau dengan penetrasi 10 persen. Meski masih jauh lebih rendah dari beberapa negara maju Asia seperti Jepang dengan penetrasi internet 73 persen dan Korea Utara yang mencapai 76 persen, namun peningkatan penetrasi pengguna di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dibalik semakin masifnya penggunaan internet, kemudian muncul pertanyaan siapakah aktor yang mendominasi jadad maya tersebut? Data menunjukkan bahwa mesin pencari adalah elemen inti atau setidaknya elemen penting dalam internet media system. Lihat saja data Nielsen Netrating tahun 2003 yang menunjukkan empat besar mesin pencari berada dalam daftar sepuluh besar.

Penghasilan mesin pencaripun semakin besar meninggalkan konglomerasi media internet lainnya. Google tahun 2003 mengumpulkan laba hampir 1 miliar dollar, sementara kuartal pertama 2008 Google melaporkan laba yang mencapai 5,37 miliar dollar, sebuah peningkatan yang luar biasa besar. Yahoo pun tak kalah, laba iklan Yahoo sudah mencapai 1,3 miliar dollar, waktu itu Yahoo mengalahkan Google. Laporan terakhir memperlihatkan pendapatan Yahoo kuartal pertama 2008 hanya 1,4 miliar dollar, jauh dibawah Google.

Dari tahun ke tahun, laba iklan mesin pencari menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Dalam bisnis media, peningkatan laba ini selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pengguna. Dengan demikian, pengguna google, yahoo dan beberapa mesin pencari lain mengalami kenaikan yang cukup signifikan seiring dengan kenaikan jumlah pengguna internet secara keseluruhan.

Dibalik data, sejak bertahun-tahun lalu menggunakan mesin pencari memang sudah menjadi aktifitas yang paling sering dilakukan pengguna internet setelah mengecek email. Sekarang, setelah muncul facebook yang fenomenal itu, menggunakan mesin pencari tetap menjadi aktifitas yang tak mungkin ditinggalkan seiring masifnya pertumbuhan halaman web. Mengecek email, facebook, dan mesin pencari kemudian menjadi tiga besar aktifitas internet.

Internet telah memudahkan orang mengunggah dan mengunduh informasi. Semua orang bisa menjadi blogger dan twiterer, menduduki posisi yang dulunya hanya bisa diduduki jurnalis dan editor. Bahkan orang iseng pun mampu mengunggah informasi palsunya dalam halaman web yang semakin mudah dibuat. Hasilnya, jutaan halaman web berisi informasi yang penting dan tak penting nongkrong di server-server web. Ditengah hiruk pikuk dunia maya ini, mesin pencari kemudian menjadi jawaban bagi para pencari informasi. Ribuan bahkan jutaan halaman web tersebut memerlukan katalog yang memudahkan pengguna untuk mengakses halaman yang diperlukan. Mesin pencari menjadi filter informasi berdasarkan kata kunci.

Sementara data juga menunjukkan bagaimana laba mesin pencari yang meninggalkan konglomerasi media internet komersial lainnya. “Bagaimanapun besarnya konglomerasi media, internet tetap akan dikuasai mesin pencari” kata Elizabeth Van Couvering dari London School of Economics and Political Science. Ditambah lagi data dari Pricewaterhousecoopers tahun 2004 yang menunjukkan bahwa 70 persen laba iklan internet pada tahun tersebut hanya dimakan oleh beberapa mesin pencari.

Ironisnya, begitu besarnya kuasa mesin pencari tak diimbangi dengan pembagian kekuasaan yang adil. Siapa sangka saat ini, internet hanya dikuasai oleh empat besar mesin pencari. Diantaranya adalah AOL, Yahoo, Google, dan MSN. Empat besar ini adalah hasil caplok mencaplok beberapa mesin pencari gurem yang beberapa tahun lalu sejak tahun 1998 hingga tahun 2004 mencapai belasan perusahaan mesin pencari. Beberapa yang gurem dibeli mesin pencari besar. Hal ini belum akan berhenti hingga beberapa tahun kedepan hingga mesin pencari menyisakan segelintir perusahaan besar yang sama besar dimana rational choice tak memungkinkan mereka saling mencaplok. akan

Dibalik laba yang semakin besar, model bisnis mesin pencari memang tidak semata-mata menjual jasa pencarian gratis. Seperti diungkapkan Couvering, Beberapa mesin pencari menjaring dollar dengan beberapa cara. Couvering membagi model bisnis mesin pencari dalam tiga kategori besar. Diataranya adalah Search model dimana kapitalis hanya berbisnis dengan menyediakan jasa mesin pencari seperti yang dilakukan Google sejak beberapa tahun lalu, access model ketika inti bisnis adalah penyediaan jaringan sementara jasa pencarian dan email hosting adalah bisnis sampingan, dan model campuran seperti yang dilakukan Yahoo ketika bekerja sama dengan penyedia jaringan sekaligus berbisnis mesin pencari dan menjual iklan.

Dari ketiga model bisnis tersebut, iklan kemudian terjaring seiring dengan jumlah pengguna yang semakin besar. Mesin pencari pada dasarnya memiliki model jasa iklan yang mirip dengan model bisnis kapitalisme cetak tradisional yang masih berkutat pada display advertising, sponsorship, dan listing (iklan baris). Namun dengan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mesin pencari kemudian menciptakan model baru yang tak bisa ditiru media tradisional.

Dengan memanfaatkan kekuasaannya mengintip isi web dan kata kunci yang digunakan pengguna, mereka menawarkan jasa search specific advertising yang kemudian turunan model ini menjadi paid performance dimana sebuah iklan atau halaman web dihubungkan dengan keyword tertentu dan Paid inclusion dimana sebuah halaman web dimasukkan diantara hasil pencarian.

Dari beberapa model jasa iklan yang ditawarkan, keyword search advertising adalah jasa yang paling berbahaya bagi pengguna mesin pencari ditengah hegemoni mesin pencari yang semakin kuat. Bagaimana tidak, mesin pencari dapat dengan mudah menjual statistik kata kunci kemudian kepada pengiklan. Selain itu pengiklan pun dapat memesan posisinya dalam hasil pencarian.

Layaknya kacamata kuda, mesin pencari dapat dengan mudah melakukna framing hasil pencarian. Apa yang perlu dibuka pengguna dapat ditentukan hasil pencarian mesin pencari. Sementara itu, model bisnis mesin pencari juga dapat mempengaruhi obyektifitas hasil pencarian karena pengiklan dapat memasukkan halaman webnya diantara halaman web yang dicari oleh pengguna dengan keyword tertentu.

Belakangan muncul bisnis Search Enggine Optimisation yang menawarkan jasa optimasilasi halaman web untuk agar menjadi lebih Search Enggine Friendly. Tak hanya perusahaan third party sevice, mesin pencari juga memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini yang semakin menggelembungkan pundi-pundi mereka.

Dominasi mesin pencari dalam jagad maya menjadi hal yang pelu diwaspadai. Bagaimana tidak, jika kapitalisme dunia maya selalu lebih menggiurkan daripada independensi media maka peselingkuhan antara jasa pencarian dan kapital akan menjadi kacamata kuda bagi pengguna internet ketika harus berselancar dalam tumpukan jutaan halaman web. Atau apakah kita harus kembali pada masa-masa mencari jarum dalam tumpukan halaman web?