Internet adalah penemuan paling penting abad ini. Secara sadar atau tidak, internet bergerak menjadi sebuah kebutuhan penting. Namun secara tak sadar juga, internet ada dalam kuasa mesin pencari.
Komputer belakangan mulai bergerak menuju kebutuhan primer. Beberapa orang mulai melihat komputer sebagai barang yang harus dimiliki disamping televisi dan lemari es. Data Apkomindo menujukkan bahwa 3 dari sepuluh rumah tangga sudah memiliki komputer. Sementara untuk kalangan mahasiswa 8 dari 10 sudah memiliki komputer atau laptop sendiri. Kecenderungan kepemilikan komputer dan laptop untuk beberapa tahun kedepan memang akan mengalami kenaikan signifikan
Sementara itu penetrasi internet juga akan mengikuti tren penetrasi kepemilikan komputer dan laptop. Kecenderungan ini dapat dilihat dari data sejak tahun 2000 hingga 2008 yang menunjukkan peningkatan pengguna internet di Indonesia. Data menunjukkan pada tahun 2000 internet hanya digunakan oleh 2 juta pengguna, sementara data tahun 2008 menunjukkan bahwa pengguna internet tanah air sudah mencapai 25 juta atau dengan penetrasi 10 persen. Meski masih jauh lebih rendah dari beberapa negara maju Asia seperti Jepang dengan penetrasi internet 73 persen dan Korea Utara yang mencapai 76 persen, namun peningkatan penetrasi pengguna di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dibalik semakin masifnya penggunaan internet, kemudian muncul pertanyaan siapakah aktor yang mendominasi jadad maya tersebut? Data menunjukkan bahwa mesin pencari adalah elemen inti atau setidaknya elemen penting dalam internet media system. Lihat saja data Nielsen Netrating tahun 2003 yang menunjukkan empat besar mesin pencari berada dalam daftar sepuluh besar.
Penghasilan mesin pencaripun semakin besar meninggalkan konglomerasi media internet lainnya. Google tahun 2003 mengumpulkan laba hampir 1 miliar dollar, sementara kuartal pertama 2008 Google melaporkan laba yang mencapai 5,37 miliar dollar, sebuah peningkatan yang luar biasa besar. Yahoo pun tak kalah, laba iklan Yahoo sudah mencapai 1,3 miliar dollar, waktu itu Yahoo mengalahkan Google. Laporan terakhir memperlihatkan pendapatan Yahoo kuartal pertama 2008 hanya 1,4 miliar dollar, jauh dibawah Google.
Dari tahun ke tahun, laba iklan mesin pencari menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Dalam bisnis media, peningkatan laba ini selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pengguna. Dengan demikian, pengguna google, yahoo dan beberapa mesin pencari lain mengalami kenaikan yang cukup signifikan seiring dengan kenaikan jumlah pengguna internet secara keseluruhan.
Dibalik data, sejak bertahun-tahun lalu menggunakan mesin pencari memang sudah menjadi aktifitas yang paling sering dilakukan pengguna internet setelah mengecek email. Sekarang, setelah muncul facebook yang fenomenal itu, menggunakan mesin pencari tetap menjadi aktifitas yang tak mungkin ditinggalkan seiring masifnya pertumbuhan halaman web. Mengecek email, facebook, dan mesin pencari kemudian menjadi tiga besar aktifitas internet.
Internet telah memudahkan orang mengunggah dan mengunduh informasi. Semua orang bisa menjadi blogger dan twiterer, menduduki posisi yang dulunya hanya bisa diduduki jurnalis dan editor. Bahkan orang iseng pun mampu mengunggah informasi palsunya dalam halaman web yang semakin mudah dibuat. Hasilnya, jutaan halaman web berisi informasi yang penting dan tak penting nongkrong di server-server web. Ditengah hiruk pikuk dunia maya ini, mesin pencari kemudian menjadi jawaban bagi para pencari informasi. Ribuan bahkan jutaan halaman web tersebut memerlukan katalog yang memudahkan pengguna untuk mengakses halaman yang diperlukan. Mesin pencari menjadi filter informasi berdasarkan kata kunci.
Sementara data juga menunjukkan bagaimana laba mesin pencari yang meninggalkan konglomerasi media internet komersial lainnya. “Bagaimanapun besarnya konglomerasi media, internet tetap akan dikuasai mesin pencari” kata Elizabeth Van Couvering dari London School of Economics and Political Science. Ditambah lagi data dari Pricewaterhousecoopers tahun 2004 yang menunjukkan bahwa 70 persen laba iklan internet pada tahun tersebut hanya dimakan oleh beberapa mesin pencari.
Ironisnya, begitu besarnya kuasa mesin pencari tak diimbangi dengan pembagian kekuasaan yang adil. Siapa sangka saat ini, internet hanya dikuasai oleh empat besar mesin pencari. Diantaranya adalah AOL, Yahoo, Google, dan MSN. Empat besar ini adalah hasil caplok mencaplok beberapa mesin pencari gurem yang beberapa tahun lalu sejak tahun 1998 hingga tahun 2004 mencapai belasan perusahaan mesin pencari. Beberapa yang gurem dibeli mesin pencari besar. Hal ini belum akan berhenti hingga beberapa tahun kedepan hingga mesin pencari menyisakan segelintir perusahaan besar yang sama besar dimana rational choice tak memungkinkan mereka saling mencaplok. akan
Dibalik laba yang semakin besar, model bisnis mesin pencari memang tidak semata-mata menjual jasa pencarian gratis. Seperti diungkapkan Couvering, Beberapa mesin pencari menjaring dollar dengan beberapa cara. Couvering membagi model bisnis mesin pencari dalam tiga kategori besar. Diataranya adalah Search model dimana kapitalis hanya berbisnis dengan menyediakan jasa mesin pencari seperti yang dilakukan Google sejak beberapa tahun lalu, access model ketika inti bisnis adalah penyediaan jaringan sementara jasa pencarian dan email hosting adalah bisnis sampingan, dan model campuran seperti yang dilakukan Yahoo ketika bekerja sama dengan penyedia jaringan sekaligus berbisnis mesin pencari dan menjual iklan.
Dari ketiga model bisnis tersebut, iklan kemudian terjaring seiring dengan jumlah pengguna yang semakin besar. Mesin pencari pada dasarnya memiliki model jasa iklan yang mirip dengan model bisnis kapitalisme cetak tradisional yang masih berkutat pada display advertising, sponsorship, dan listing (iklan baris). Namun dengan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mesin pencari kemudian menciptakan model baru yang tak bisa ditiru media tradisional.
Dengan memanfaatkan kekuasaannya mengintip isi web dan kata kunci yang digunakan pengguna, mereka menawarkan jasa search specific advertising yang kemudian turunan model ini menjadi paid performance dimana sebuah iklan atau halaman web dihubungkan dengan keyword tertentu dan Paid inclusion dimana sebuah halaman web dimasukkan diantara hasil pencarian.
Dari beberapa model jasa iklan yang ditawarkan, keyword search advertising adalah jasa yang paling berbahaya bagi pengguna mesin pencari ditengah hegemoni mesin pencari yang semakin kuat. Bagaimana tidak, mesin pencari dapat dengan mudah menjual statistik kata kunci kemudian kepada pengiklan. Selain itu pengiklan pun dapat memesan posisinya dalam hasil pencarian.
Layaknya kacamata kuda, mesin pencari dapat dengan mudah melakukna framing hasil pencarian. Apa yang perlu dibuka pengguna dapat ditentukan hasil pencarian mesin pencari. Sementara itu, model bisnis mesin pencari juga dapat mempengaruhi obyektifitas hasil pencarian karena pengiklan dapat memasukkan halaman webnya diantara halaman web yang dicari oleh pengguna dengan keyword tertentu.
Belakangan muncul bisnis Search Enggine Optimisation yang menawarkan jasa optimasilasi halaman web untuk agar menjadi lebih Search Enggine Friendly. Tak hanya perusahaan third party sevice, mesin pencari juga memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini yang semakin menggelembungkan pundi-pundi mereka.
Dominasi mesin pencari dalam jagad maya menjadi hal yang pelu diwaspadai. Bagaimana tidak, jika kapitalisme dunia maya selalu lebih menggiurkan daripada independensi media maka peselingkuhan antara jasa pencarian dan kapital akan menjadi kacamata kuda bagi pengguna internet ketika harus berselancar dalam tumpukan jutaan halaman web. Atau apakah kita harus kembali pada masa-masa mencari jarum dalam tumpukan halaman web?
Komputer belakangan mulai bergerak menuju kebutuhan primer. Beberapa orang mulai melihat komputer sebagai barang yang harus dimiliki disamping televisi dan lemari es. Data Apkomindo menujukkan bahwa 3 dari sepuluh rumah tangga sudah memiliki komputer. Sementara untuk kalangan mahasiswa 8 dari 10 sudah memiliki komputer atau laptop sendiri. Kecenderungan kepemilikan komputer dan laptop untuk beberapa tahun kedepan memang akan mengalami kenaikan signifikan
Sementara itu penetrasi internet juga akan mengikuti tren penetrasi kepemilikan komputer dan laptop. Kecenderungan ini dapat dilihat dari data sejak tahun 2000 hingga 2008 yang menunjukkan peningkatan pengguna internet di Indonesia. Data menunjukkan pada tahun 2000 internet hanya digunakan oleh 2 juta pengguna, sementara data tahun 2008 menunjukkan bahwa pengguna internet tanah air sudah mencapai 25 juta atau dengan penetrasi 10 persen. Meski masih jauh lebih rendah dari beberapa negara maju Asia seperti Jepang dengan penetrasi internet 73 persen dan Korea Utara yang mencapai 76 persen, namun peningkatan penetrasi pengguna di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dibalik semakin masifnya penggunaan internet, kemudian muncul pertanyaan siapakah aktor yang mendominasi jadad maya tersebut? Data menunjukkan bahwa mesin pencari adalah elemen inti atau setidaknya elemen penting dalam internet media system. Lihat saja data Nielsen Netrating tahun 2003 yang menunjukkan empat besar mesin pencari berada dalam daftar sepuluh besar.
Penghasilan mesin pencaripun semakin besar meninggalkan konglomerasi media internet lainnya. Google tahun 2003 mengumpulkan laba hampir 1 miliar dollar, sementara kuartal pertama 2008 Google melaporkan laba yang mencapai 5,37 miliar dollar, sebuah peningkatan yang luar biasa besar. Yahoo pun tak kalah, laba iklan Yahoo sudah mencapai 1,3 miliar dollar, waktu itu Yahoo mengalahkan Google. Laporan terakhir memperlihatkan pendapatan Yahoo kuartal pertama 2008 hanya 1,4 miliar dollar, jauh dibawah Google.
Dari tahun ke tahun, laba iklan mesin pencari menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Dalam bisnis media, peningkatan laba ini selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pengguna. Dengan demikian, pengguna google, yahoo dan beberapa mesin pencari lain mengalami kenaikan yang cukup signifikan seiring dengan kenaikan jumlah pengguna internet secara keseluruhan.
Dibalik data, sejak bertahun-tahun lalu menggunakan mesin pencari memang sudah menjadi aktifitas yang paling sering dilakukan pengguna internet setelah mengecek email. Sekarang, setelah muncul facebook yang fenomenal itu, menggunakan mesin pencari tetap menjadi aktifitas yang tak mungkin ditinggalkan seiring masifnya pertumbuhan halaman web. Mengecek email, facebook, dan mesin pencari kemudian menjadi tiga besar aktifitas internet.
Internet telah memudahkan orang mengunggah dan mengunduh informasi. Semua orang bisa menjadi blogger dan twiterer, menduduki posisi yang dulunya hanya bisa diduduki jurnalis dan editor. Bahkan orang iseng pun mampu mengunggah informasi palsunya dalam halaman web yang semakin mudah dibuat. Hasilnya, jutaan halaman web berisi informasi yang penting dan tak penting nongkrong di server-server web. Ditengah hiruk pikuk dunia maya ini, mesin pencari kemudian menjadi jawaban bagi para pencari informasi. Ribuan bahkan jutaan halaman web tersebut memerlukan katalog yang memudahkan pengguna untuk mengakses halaman yang diperlukan. Mesin pencari menjadi filter informasi berdasarkan kata kunci.
Sementara data juga menunjukkan bagaimana laba mesin pencari yang meninggalkan konglomerasi media internet komersial lainnya. “Bagaimanapun besarnya konglomerasi media, internet tetap akan dikuasai mesin pencari” kata Elizabeth Van Couvering dari London School of Economics and Political Science. Ditambah lagi data dari Pricewaterhousecoopers tahun 2004 yang menunjukkan bahwa 70 persen laba iklan internet pada tahun tersebut hanya dimakan oleh beberapa mesin pencari.
Ironisnya, begitu besarnya kuasa mesin pencari tak diimbangi dengan pembagian kekuasaan yang adil. Siapa sangka saat ini, internet hanya dikuasai oleh empat besar mesin pencari. Diantaranya adalah AOL, Yahoo, Google, dan MSN. Empat besar ini adalah hasil caplok mencaplok beberapa mesin pencari gurem yang beberapa tahun lalu sejak tahun 1998 hingga tahun 2004 mencapai belasan perusahaan mesin pencari. Beberapa yang gurem dibeli mesin pencari besar. Hal ini belum akan berhenti hingga beberapa tahun kedepan hingga mesin pencari menyisakan segelintir perusahaan besar yang sama besar dimana rational choice tak memungkinkan mereka saling mencaplok. akan
Dibalik laba yang semakin besar, model bisnis mesin pencari memang tidak semata-mata menjual jasa pencarian gratis. Seperti diungkapkan Couvering, Beberapa mesin pencari menjaring dollar dengan beberapa cara. Couvering membagi model bisnis mesin pencari dalam tiga kategori besar. Diataranya adalah Search model dimana kapitalis hanya berbisnis dengan menyediakan jasa mesin pencari seperti yang dilakukan Google sejak beberapa tahun lalu, access model ketika inti bisnis adalah penyediaan jaringan sementara jasa pencarian dan email hosting adalah bisnis sampingan, dan model campuran seperti yang dilakukan Yahoo ketika bekerja sama dengan penyedia jaringan sekaligus berbisnis mesin pencari dan menjual iklan.
Dari ketiga model bisnis tersebut, iklan kemudian terjaring seiring dengan jumlah pengguna yang semakin besar. Mesin pencari pada dasarnya memiliki model jasa iklan yang mirip dengan model bisnis kapitalisme cetak tradisional yang masih berkutat pada display advertising, sponsorship, dan listing (iklan baris). Namun dengan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mesin pencari kemudian menciptakan model baru yang tak bisa ditiru media tradisional.
Dengan memanfaatkan kekuasaannya mengintip isi web dan kata kunci yang digunakan pengguna, mereka menawarkan jasa search specific advertising yang kemudian turunan model ini menjadi paid performance dimana sebuah iklan atau halaman web dihubungkan dengan keyword tertentu dan Paid inclusion dimana sebuah halaman web dimasukkan diantara hasil pencarian.
Dari beberapa model jasa iklan yang ditawarkan, keyword search advertising adalah jasa yang paling berbahaya bagi pengguna mesin pencari ditengah hegemoni mesin pencari yang semakin kuat. Bagaimana tidak, mesin pencari dapat dengan mudah menjual statistik kata kunci kemudian kepada pengiklan. Selain itu pengiklan pun dapat memesan posisinya dalam hasil pencarian.
Layaknya kacamata kuda, mesin pencari dapat dengan mudah melakukna framing hasil pencarian. Apa yang perlu dibuka pengguna dapat ditentukan hasil pencarian mesin pencari. Sementara itu, model bisnis mesin pencari juga dapat mempengaruhi obyektifitas hasil pencarian karena pengiklan dapat memasukkan halaman webnya diantara halaman web yang dicari oleh pengguna dengan keyword tertentu.
Belakangan muncul bisnis Search Enggine Optimisation yang menawarkan jasa optimasilasi halaman web untuk agar menjadi lebih Search Enggine Friendly. Tak hanya perusahaan third party sevice, mesin pencari juga memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini yang semakin menggelembungkan pundi-pundi mereka.
Dominasi mesin pencari dalam jagad maya menjadi hal yang pelu diwaspadai. Bagaimana tidak, jika kapitalisme dunia maya selalu lebih menggiurkan daripada independensi media maka peselingkuhan antara jasa pencarian dan kapital akan menjadi kacamata kuda bagi pengguna internet ketika harus berselancar dalam tumpukan jutaan halaman web. Atau apakah kita harus kembali pada masa-masa mencari jarum dalam tumpukan halaman web?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar