Beberapa waktu lalu Obama memberi hadiah kepada Gordon Brown, Perdana Menteri Inggris sebuah pemutar DVD. Di kesempatan lain, Obama menghadiahi Ratu Inggris sebuah Ipod lengkap dengan video dan lagu terpilih. Dan sekarang, diplomasi memang semakin populer dengan hadiah-hadiah yang dapat ditemukan di supermarket. Inilah era diplomasi populer, diplomasi supermarket, atau bahkan diplomasi konsumsi ?
Diplomacy gift adalah simbol persahabatan. Obyek yang dipertukarkan pun merupakan simbol pencapaian sosial dan kultural sebuah bangsa. Maka jika Obama menggunakan Ipod sebagai hadiah persahabatan, maka Ipod memang sudah mencapai puncaknya sebagai pencapaian inovasi bangsa Amerika. Setidaknya menjadi pencapaian yang layak dijadikan hadiah diplomasi
Tahun 1979, Masaru Ibuka, salah seorang pendiri Sony meminta para teknisi Sony untuk membuat sebuah alat pemutar musik portabel yang dapat menemaninya dalam penerbangan beberapa jam. Para teknisi kemudian datang dengan prototype besar namun masih dapat dikatakan portable sebagai pemutar musik. Beberapa bulan kemudian, Sony memperbaiki prototipe dan meluncurkan Walkman, pemutar musik pernah menjadi penemuan paling sukses sepanjang abad ini.
Walkman telah mengubah ubah cara dunia mendengarkan musik. Mendengar musik kemudian menjadi sangat populer, bisa dimana saja, sambil lalu, bahkan kadang menjadi alat bantu untuk mengasingkan diri dari lingkungan yang tak diharapkan.
Dengan keangkuhannya, Sony telah terjebak dalam mitologi bisnis inovasi yang dulu pernah mengantar mereka sebagai perusahaan top, menciptakan Walkman yang mengubah dunia. Kini Sony hampir tenggelam karena obsesi lamanya. Sony terlambat menciptakan LCD, TV layar datar, pemutar DVD, dan terlambat menciptakan Mp3 player portabel sebagai pengganti Walkman yang sudah usang.
Sony telah tenggelam dalam romantisme Walkman. Dalam romantisme itu, Sony kemudian dikenal karena keengganannya bekerja sama dengan perusahaan lain. Sony ingin mengulang kesuksesan Walkman yang mereka nikmati sendiri. Lihat saja gadget Sony yang tak kompatibel dengan memori biasa. Mereka memaksa konsumen untuk memakai memori mahal ciptaan mereka. Sony tak sendiri. Beberapa perusahaan seangkatan Sony seperti juga memiliki kepribadian yang sama, ingin memonopoli inovasi.
Namun apa daya, sekarang adalah era ‘open innovation’ kata Henry Chesbrough, profesor bisnis Berkeley, atau jaman ‘democratizing innovation’ kata Eric von Hippel, profesor manajemen M.I.T. Monopoli inovasi seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan masa lalu hanya akan menghisap sumber daya modal demi riset tak terarah yang menenggelamkan mereka.
Walkman yang pernah berjaya kini telah digantikan Ipod buatan Apple. Dengan cepat Ipod menguasai pasar pemutar musik portabel. Ipod menawarkan banyak hal yang sering dianggap sebagai kemudahan oleh khalayak ramai. Kemudahan yang tak bisa didapat dari pemutar musik portabel lain. Misalnya saja, iTunes yang terkenal itu menawarkan file musik digital legal yang bisa dibeli tanpa harus bangun dari kasur.
Awalnya model bisnis iTunes dikhawatirkan makin memperburuk pembajakan. Nyatanya, orang-orang makin rela membayar demi kemudahan yang ditawarkan iTunes. Dan kemudian, iTunes menjadi situs musik digital legal pertama. Pendapatan dari iTunes bahkan kemudian mampu mensubtitusi pendapatan bagi industri musik yang dicuri pasar bajakan.
Seperti kata Keynes, konsumsi adalah peluang bagi ekonomi. Permintaan Ipod yang begitu masif juga telah menciptakan banyak peluang kerja, termasuk menciptakan ekonominya sendiri, Ipod economy. Penggeraknya adalah perusahaan pembuat komponen, pembuat aksesoris, hingga penjual file musik digital online. Dengan demikian, membeli Ipod adalah rantai konsumsi pertama. Rantai-rantai berkutnya adalah rantai konsumsi yang seperti kata Keynes, adalah rantai penggerak pertumbuhan ekonomi.
Consumer Electronics Association (CEA) memperkirakan bisnis tetek bengek aksesori Ipod saja akan memutar uang hingga 1 triliun dollar pada tahun 2008 atau naik 45 persen dari 2007. Saat ini saja sudah ada 93 perusahaan pembuat speaker portabel untuk Ipod. Sementara totalnya mereka memproduksi 279 model speaker yang dijual secara global. Belum lagi bisnis lagu digital via iTunes yang katanya mampu mensubtitusi kerugian akibat pembajakan CD secara global.
Ipod tak hanya menciptakan ekonomi yang ekslusif. Bisnis mp3 player abal-abal juga ikut bergerak memenuhi tren kebutuhan orang-orang yang terobsesi pada pemutar musik digital portabel namun tak mampu masuk dalam rantai konsumsi Ipod. Maka kemudian muncul ribuah merek mp3 player yang menyerbu negara-negara berkembang seperti Indonesia dimana pembajakan masih marak, sementara penduduk masih belum mampu membeli lagu dari iTunes.
Puncaknya, setelah lebih dari 8 tahun diluncurkan, Ipod kini menjadi simbol kultural Amerika. Ia menjadi sejajar dengan simbol kultural Amerika lainnya seperti McDonalds, dan Coca Cola. Hadiah (baca: cenderamata) diplomasi Obama kepada Ratu Inggris pun sekedar Ipod yang bisa dibeli di warung-warung pinggir jalan. Berikutnya, demi perdamaian, Ipod lengkap dengan file audio Al Quran bisa saja diberikan kepada Ahmadinejad.
Maka sekarang sekedar politik luar negeri bebas aktif sudah tak cukup lagi, kini jamannya ipod diplomacy. Jika Sjahrir memainkan diplomasi beras untuk bersahabat dengan India, sekarang diplomasi apa yang akan dimainkan SBY? Lumpur?
Diplomacy gift adalah simbol persahabatan. Obyek yang dipertukarkan pun merupakan simbol pencapaian sosial dan kultural sebuah bangsa. Maka jika Obama menggunakan Ipod sebagai hadiah persahabatan, maka Ipod memang sudah mencapai puncaknya sebagai pencapaian inovasi bangsa Amerika. Setidaknya menjadi pencapaian yang layak dijadikan hadiah diplomasi
Tahun 1979, Masaru Ibuka, salah seorang pendiri Sony meminta para teknisi Sony untuk membuat sebuah alat pemutar musik portabel yang dapat menemaninya dalam penerbangan beberapa jam. Para teknisi kemudian datang dengan prototype besar namun masih dapat dikatakan portable sebagai pemutar musik. Beberapa bulan kemudian, Sony memperbaiki prototipe dan meluncurkan Walkman, pemutar musik pernah menjadi penemuan paling sukses sepanjang abad ini.
Walkman telah mengubah ubah cara dunia mendengarkan musik. Mendengar musik kemudian menjadi sangat populer, bisa dimana saja, sambil lalu, bahkan kadang menjadi alat bantu untuk mengasingkan diri dari lingkungan yang tak diharapkan.
Dengan keangkuhannya, Sony telah terjebak dalam mitologi bisnis inovasi yang dulu pernah mengantar mereka sebagai perusahaan top, menciptakan Walkman yang mengubah dunia. Kini Sony hampir tenggelam karena obsesi lamanya. Sony terlambat menciptakan LCD, TV layar datar, pemutar DVD, dan terlambat menciptakan Mp3 player portabel sebagai pengganti Walkman yang sudah usang.
Sony telah tenggelam dalam romantisme Walkman. Dalam romantisme itu, Sony kemudian dikenal karena keengganannya bekerja sama dengan perusahaan lain. Sony ingin mengulang kesuksesan Walkman yang mereka nikmati sendiri. Lihat saja gadget Sony yang tak kompatibel dengan memori biasa. Mereka memaksa konsumen untuk memakai memori mahal ciptaan mereka. Sony tak sendiri. Beberapa perusahaan seangkatan Sony seperti juga memiliki kepribadian yang sama, ingin memonopoli inovasi.
Namun apa daya, sekarang adalah era ‘open innovation’ kata Henry Chesbrough, profesor bisnis Berkeley, atau jaman ‘democratizing innovation’ kata Eric von Hippel, profesor manajemen M.I.T. Monopoli inovasi seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan masa lalu hanya akan menghisap sumber daya modal demi riset tak terarah yang menenggelamkan mereka.
Walkman yang pernah berjaya kini telah digantikan Ipod buatan Apple. Dengan cepat Ipod menguasai pasar pemutar musik portabel. Ipod menawarkan banyak hal yang sering dianggap sebagai kemudahan oleh khalayak ramai. Kemudahan yang tak bisa didapat dari pemutar musik portabel lain. Misalnya saja, iTunes yang terkenal itu menawarkan file musik digital legal yang bisa dibeli tanpa harus bangun dari kasur.
Awalnya model bisnis iTunes dikhawatirkan makin memperburuk pembajakan. Nyatanya, orang-orang makin rela membayar demi kemudahan yang ditawarkan iTunes. Dan kemudian, iTunes menjadi situs musik digital legal pertama. Pendapatan dari iTunes bahkan kemudian mampu mensubtitusi pendapatan bagi industri musik yang dicuri pasar bajakan.
Seperti kata Keynes, konsumsi adalah peluang bagi ekonomi. Permintaan Ipod yang begitu masif juga telah menciptakan banyak peluang kerja, termasuk menciptakan ekonominya sendiri, Ipod economy. Penggeraknya adalah perusahaan pembuat komponen, pembuat aksesoris, hingga penjual file musik digital online. Dengan demikian, membeli Ipod adalah rantai konsumsi pertama. Rantai-rantai berkutnya adalah rantai konsumsi yang seperti kata Keynes, adalah rantai penggerak pertumbuhan ekonomi.
Consumer Electronics Association (CEA) memperkirakan bisnis tetek bengek aksesori Ipod saja akan memutar uang hingga 1 triliun dollar pada tahun 2008 atau naik 45 persen dari 2007. Saat ini saja sudah ada 93 perusahaan pembuat speaker portabel untuk Ipod. Sementara totalnya mereka memproduksi 279 model speaker yang dijual secara global. Belum lagi bisnis lagu digital via iTunes yang katanya mampu mensubtitusi kerugian akibat pembajakan CD secara global.
Ipod tak hanya menciptakan ekonomi yang ekslusif. Bisnis mp3 player abal-abal juga ikut bergerak memenuhi tren kebutuhan orang-orang yang terobsesi pada pemutar musik digital portabel namun tak mampu masuk dalam rantai konsumsi Ipod. Maka kemudian muncul ribuah merek mp3 player yang menyerbu negara-negara berkembang seperti Indonesia dimana pembajakan masih marak, sementara penduduk masih belum mampu membeli lagu dari iTunes.
Puncaknya, setelah lebih dari 8 tahun diluncurkan, Ipod kini menjadi simbol kultural Amerika. Ia menjadi sejajar dengan simbol kultural Amerika lainnya seperti McDonalds, dan Coca Cola. Hadiah (baca: cenderamata) diplomasi Obama kepada Ratu Inggris pun sekedar Ipod yang bisa dibeli di warung-warung pinggir jalan. Berikutnya, demi perdamaian, Ipod lengkap dengan file audio Al Quran bisa saja diberikan kepada Ahmadinejad.
Maka sekarang sekedar politik luar negeri bebas aktif sudah tak cukup lagi, kini jamannya ipod diplomacy. Jika Sjahrir memainkan diplomasi beras untuk bersahabat dengan India, sekarang diplomasi apa yang akan dimainkan SBY? Lumpur?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar