Minggu, 26 April 2009

Penguasa Dan Kartini

Tanggal 21 April adalah hari Kartini. Namun beberapa orang lebih sibuk menyiapkan Kebaya yang akan dipakainya esok hari daripada mengingat sosok Kartini. Munkinkah sekarang saatnya merayakan hari Kebaya, bukan lagi hari Kartini ?

Awalnya Kartini hanya menulis surat kepada kawan penjajahnya. Namun sejarah berkata lain ketika penguasa mencatatkannya sebagai salah seorang pahlawan. Hari lahirnya pun dipaksakan untuk diperingati dengan segala simbol-simbol perayaan. Sekarang simbol yang masih tersisa hanyalah Kebaya.

Siapakah Kartini? Kartini adalah anak kelima RM Adipati Ario Sosrodiningrat, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Ngasirah, ibunya adalah jelata anak kiyai dari Jepara. Sesuai aturan penjajah, demi menjadi Bupati, Sosrodiningrat harus mendua dan menikah lagi dengan seorang bangsawan lain. R.A. Woerjan keturunan raja Madura kemudian menjadi istri baru Sosrodiningrat.

Dengan segala privilege yang dimilikinya sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menikmati bonus pendidikan pribumi rasa Belanda. Di sekolah penjajah ia belajar bahasa Belanda dan kultur lainnya hingga ia dipingit pada usia 12 tahun. Jika sekedar belajar bahasa, maka layaknya orang belajar bahasa pada jaman sekarang, menulis surat adalah salah satu sarana mempraktikkan bahasa yang ia pelajari.
Sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menemukan kawan penjajah native yang dapat diajaknya menjadi sahabat pena. Dan secara kebetulan, Kartini mendapatkan Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Belanda yang juga teman ayahnya, sebagai sahabat pena. Abendanon, entah dalam proyek politik etisnya atau tidak, memang pernah berkunjung ke Jepara. Belakangan, bersama dengan Van Deventer, Abendanon juga dikenal sebagai tokoh politik etis.

Bahasa ternyata telah membuka pertemuan Kartini dengan pemikiran baru dari Barat. Sebelum usianya yang ke 20 Kartini sudah membaca banyak ide barat dari majalah, buku, roman, dan surat kabar. Banyak ide masuk dikepalanya tak terkecuali ide feminisme gelombang pertama yang tercatat di surat kabar dan roman. Tulisannya pun pernah dimuat dalam beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Belanda. Namun ia tak pernah menerbitkan buku kecuali kumpulan surat "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang diterbitkan sahabat pena-nya setelah ia meninggal.

Kartini bertemu dengan pemikiran Politik Etis dan Feminisme yang sedang berkembang di Belanda. Maka tak heran kemudian surat-surat kepada kawan penjajahnya adalah pemikiran dan keluh kesahnya tentang ketimpangan pendidikan pribumi khususnya pribumi perempuan. Politik etis sendiri adalah buah kegagalan Belanda menanggung kerugian korupsi dan bengkaknya anggaran perang. Diponegoro adalah salah satu biangnya ketika perang panjang yang diorganisirnya memaksa penjajah untuk mengeluarkan banyak uang.

Kemudian edukasi pribumi adalah salah satu solusi pekerja murah. Sebagai perbandingan, seorang profesional belanda harus digaji 75 gulden, sementara pribumi terdidik hanya perlu dasi, kursi, dan gaji seperlima gaji orang belanda. Entah etis atau tidak, Politik Etis kemudian menjadi projek modern penjajah di Hindia Belanda, setelah sebelumnya kerja rodi telah mengakibatkan jutaan rakyat jelata terbunuh.

Dan Kartini tidak melakukan hal-hal signifikan sampai akhirnya mati setelah melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904, selain berkirim curhat pada kawannya. Ia memang pernah mengorganisir sekolah kaum wanita untuk tetangga sekampungnya, namun itu sekedar kegiatan mengisi waktu luang selama dipingit.

Sejarah kemudian berkata lain ketika ternyata kawan sahabat pena di negeri asalnya adalah pendukung politik etis. Kartini pun dipinjam sebagai ikon. Surat-surat dari Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, kemudian menjadi prawacana Politik Etis yang berhasil berhasil memancing belas kasihan orang-orang Belanda di negerinya.

Kartini tidak mengorganisir perlawanan, adalah salah satu faktor yang membedakannya dengan pahlawan wanita lainnya. Ketimbang pejuang wanita pribumi lainnya seperti Cut Nyak Dien, Christina Matha Tiahahu, Dewi Sartika, dan Siti Aisyah Wie Tienrolle yang memilih jalan perlawanan. Gerakan mereka lebih jelas terlihat namun sayang gerakan itu menyedot anggaran perang penjajah. Maka jadilah Kartini, ikon politik etis karena bagaimanapun juga Politik Etis adalah politik belas kasihan.

Gelombang politik etis pun menguat sampai akhirnya keluarga Van Deventer mendirikan Sekolah Kartini pada tahun 1912, beberapa tahun setelah Kartini meninggal. Sekolah didirikan di beberapa kota di Hindia Belanda seperti di Malang Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Namun sejarah tidak mencatat kelanjutan sekolah itu.

Rakyat Indonesia sepertinya harus berterima kasih pada Politik Etis dan para pencetusnya. Karena politik etis dikemudian hari memunculkan tokoh penting pendiri bangsa. Ide Barat telah menciptakan ke-Indonesia-an. Dan ide itu pula yang membangkitkan Indonesia dari penjajahan. Setidaknya, produk-produk Politik Etis adalah orang-orang yang ingin negaranya bebas merdeka. Maka kemudian munculah Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh produk politik etis lainnya.

Selang beberapa puluh tahun kemudian, Indonesia merdeka dengan gerakan-gerakan yang diorganisir produk-produk politik etis. Entah bagaimana ceritanya kemudian Presiden Soekarno, presiden seumur hidup itu menetapkan Kartini sebagai pahlawan dengan Kepres No 108 Tahun 1964 pada tanggal 2 mei 1964. Keppres sekaligus menetapkan tanggal 21 April sebagai hari kartini.

Entah apapula hubungan Soekarno, Gerwani, dan Kartini. Yang jelas, Gerwani menerbitkan majalah Api Kartini dan Berita Gerwani sebagai media agitasi dan propaganda feminisme. Api Kartini menunjukkan cara Gerwani meminjam nama Kartini atas nama perjuangan wanita. Selain itu, faktanya gelombang feminisme global juga menguat sejak tahun 1960an menjelang Soekarno mengeluarkan Keppresnya tentang Kartini. "Gerwani semakin diperhitungkan dalam percaturan politik Orde Lama sebagai oganisasi feminis di tanah air", kata Saskia Wieringa dalam disertasinya ketika menggambarkan posisi Gerwani. Dan memang gnggotanya yang mencapai 650.000 wanita pada tahun 1957 sudah cukup menggiurkan untuk ditarik sebagai tambahan mesin politik.

Gerwis adalah cikal bakal Gerwani. Awalnya didirikan sekitar tahun 1950an dan 650.000 wanita sudah menjadi anggotanya pada tahun 1957. Sementara ketika dilikuidasi pada tahun 1965/66 akibat G/30/S, Gerwani sudah berkekuatan 1,5 juta wanita Indonesia. Feminisme memang dekat dengan gerakan kiri. Maka tak heran jika Gerwani kemudian semakin dekat dengan PKI, bahkan dianggap sebagai organisasi massa bentukan PKI.

Entah benar atau tidak, bisa jadi tanggal 21 April adalah hadiah Soekarno pada Gerwani yang semakin kuat menjadi suporter Soekarno disamping PKI. Efeknya, Feminisme di Indonesia pun semakin diakui sejak adanya hari Kartini. Namun kedekatan Gerwani dengan PKI mematikan gerakan feminisme yang sudah semakin kuat. Beberapa analis menyayangkan kedekatan yang mengaburkan perjuangan feminisme dan menjerumuskan Gerwani dalam kudeta yang gagal. Dapat dipastikan jika Gerwani tak ikut dilikuidasi paska G/30/S, mainstraiming gender tak perlu lagi jadi tren baru dalam perpolitikan reformasi.

Siapapun Kartini, surat-suratnya adalah jalan pertama menuju sebuah roman politik yang berkepanjangan. Melalui surat-surat itu, Kartini dipinjam sebagai ikon Politik Etis. Politik Etis membuka peluang bagi ke-Indonesia-an untuk merdeka. Belakangan, dalam konteks Feminisme yang menguat pada tahun 1960an, dan Kartini lagi-lagi dipinjam penguasa untuk menggaet Gerwani sebagai mesin politik.

Di kemudian hari, Kartini menjadi lambang gerakan emansipasi wanita. Dan kebaya mungkin akan menjadi satu-satunya simbol yang masih melekat pada hari Kartini. "Meskipun Kartini hanya lambang, nilai yang diperjuangkan harus dikembangkan" kata Harsja Bachtiar. Maka, membawa surat Kartini pada kekinian atau membawa perjuangan wanita sebatas surat Kartini, menjadi sudah tak relevan lagi ketika wanita terdidik sudah semakin banyak. lalu sekarang apa lagi ? apakah berhenti pada 30 persen kursi di parlemen ?



Tidak ada komentar: