Senin, 20 April 2009

Mengabdi Untuk UGM, Tapi UGM Untuk Siapa ?

Universitas Gadjah Mada yang tersohor itu dikenal karena prestasi dan orang-orang besar yang telah dilahirkannya. Besar, entah karena memang besar atau sengaja dibesar-besarkan. Namun, siapa sangka dibalik keangkuhan gedung-gedung kampus yang dibesar-besarkan itu ada jerih payah orang-orang termarjinalkan.

Waktu baru menunjukkan pukul 6.30 pagi ketika seorang bapak tua, mulai mengayuh sepedanya menuju kampus Universitas Gadjah Mada, tempatnya bekerja. Sebelumnya, sang istri telah membungkuskan bekal makan siang untuk menghemat pengeluaran. Dengan Jaket penahan dingin, sepeda tua, dan bungkusan bekal makan siang, bapak tua bergegas menuju tempat kerja. Dia adalah salah satu dari sekian banyak pegawai rendahan di UGM. Dengan tugas-tugas sepele, mereka, bapak tua dan kawan-kawan membuat kampus tetap berjalan normal, meski penghisapan tak membuat mereka hidup normal.

Orang-orang seperti bapak tua ini adalah orang yang selalu ditenggelamkan dibalik keangkuhan orang-orang besar dengan jasa kecil. Atau ditenggelamkan oleh orang-orang kecil dengan jasa yang dibesar-besarkan. Entah mana yang benar, tapi setiap pagi, sepeda kayuh mereka beradu cepat dengan mobil-mobil mahasiswa dan pembesar. Kewajiban memaksa mereka menang beradu dengan roda-roda berpenggerak mesin. Mereka orang-orang kecil itu datang pagi-pagi untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan universitas itu untuk mulai beraktifitas. Jasa yang selalu dianggap sepele oleh sebagian besar orang.

Sudah sejak tahun 1981 bapak tua bekerja sebagai pembantu umum di UGM. Selama hampir 20 tahun bekerja, tugasnya adalah menyapu lorong dan ruang didalam gedung tempatnya bertugas. Sesekali ia mengantar surat ke kantor-kantor fakultas. Tak jarang pula ia membuat minuman bagi para pembesar yang sedang rapat. Jelaslah itu semua adalah pekerjaan remeh-temah. Gajinya pun kecil karena tanggung jawab yang dikatakan orang tanggung jawab orang kere.

Dengan sebuah sepeda tua, bapak tua harus mengayuh selama 15 menit dari rumahnya di Jalan Magelang untuk sampai di tempatnya bekerja. Kadang ia menghabiskan waktu 30 menit mengayuh sepeda pelan-pelan jika ia sedang merasa lelah. Terkadang ia memang kelelahan karena ada pekerjaan tambahan yang harus dilakukan guna memenuhi kebutuhan hidup yang semakin membengkak.

Sepeda tua yang dikayuhnya itu adalah sepeda yang sama dengan sepedanya waktu pertama kali masuk bekerja di UGM. “saya lebih suka naik sepeda karena membuat jantung sehat. Lagian, saya tidak bisa naik motor” kata bapak tua menjelaskan kecintaannya bersepeda. Entah cinta, atau memang ia tak mampu membeli roda-roda bermesin meski ia telah mengabdi lebih dari 20 tahun.

Bersepeda adalah wujud kesederhanaan seorang bapak tua dalam menjalani hidup. Atau wujud ketidakberdayaannya melawan penghisapan ? bagaimanapun juga ia tak seperti orang-orang lain yang semakin sibuk mengejar waktu dan ambisi dengan kendaraan bermesin. Semakin tua, dan bapak tua tetap berjalan santai dengan sepeda tuanya. Tak ada yang perlu dikejar katanya. “Toh saya selalu datang paling pagi, lebih dulu dari mereka yang dikejar ambisi”. Dan memang si bapak tua selalu datang paling pagi di kantor, menyiapkan tempat bagi orang-orang mengejar ambisi. “mereka ambisius” tapi siapa sangka segala sesuatunya disiapkan oleh orang-orang yang tak berambisi.

Memang tak ada alasan untuk menunda pekerjaan remeh temeh. Begitu sampai dikantor, ia langsung bekerja. Tak dikatakan ambisinya, tapi adakah orang serajin itu tanpa ambisi? Semua alat kerja langsung dipegangnya. Ia bahkan mulai bekerja ketika para pegawai lain masih minum kopi dan membaca koran di halaman rumah. Ia menyelesaikan pekerjaannya sebelum orang lain datang. Sepertinya ambisinya hanya ingin pulang lebih cepat, sesuai recehan yang diterimanya sebagai gaji. Tapi apa daya “saya harus datang paling awal dan pulang paling akhir” kata sang bapak meratapi nasib.

Untuk pekerjaan remeh temeh, sebenarnya tidak memerlukan penjelasan dari atasan. Bahkan ia pun malas menjelaskan pekerjaannnya pada orang lain. “semuanya remeh temeh” katanya. Si bos pun hanya menyodorkan sapu tanpa berkata-kata ketika ia pertama kali masuk kerja. Tanpa bertanya pun si bapak tua yang dulu pernah muda itu menyapu semua yang bisa disapu, dari ujung ke ujung yang melelahkan jika dibandingkan dengan recehan yang diterimanya. Ia memang tak perlu bertanya untuk tugasnya, ia hanya perlu bertanya tentang nasibnya. 20 tahun mengabdi untuk UGM, tapi untuk UGM untuk siapa?

Dua anaknya pun hanya berakhir sebagai tukang bakso atau penjual pulsa. UGM tak menerima mereka, alasannya akademis, mereka gagal dalam persaingan dengan ribuan siswa SMA lain yang berebut masuk UGM. Tapi bagaimanapun recehan memang tak memungkinkan si bapak tua memberikan pendidikan dasar dan menengah yang cukup baik. Ia terancam terjebak dalam lingkaran setan pesuruh, lingkaran setan orang-orang kere. Dan sekali lagi memang ia harus bertanya tentang nasibnya, tapi pada siapa ?

Tidak ada komentar: