Minggu, 09 Agustus 2009

Teganya Media

Beberapa hari lalu dua orang populer meninggalkan dunia. W.S. Rendra dan Mbah Surip meninggal dalam waktu yang berdekatan. Pemakaman Mbah Surip disiarkan langsung, sementara slot untuk W.S. Rendra sudah dihabiskan untuk Noordin M. Top.

Kira-kira berapa gelintir orang yang benar-benar sedih ketika mendengar Mbah Surip meninggal ? ketika Michael Jackson meninggal, jutaan orang menangisinya. Begitu pula ketika Rendra meninggal, setidaknya ribuan orang turut berduka. Lalu, ketika Mbah Surip meninggal, sebenarnya hanya segelintir seniman yang sudah menaruh harapan pada Mbah Surip yang tiba-tiba populer.

Popularitas Mbah Surip adalah harapan bagi segelintir seniman di Gelanggang Remaja Bulungan di Jakarta Selatan atau Pasar Seni Ancol di Jakarta Utara. Dan pantas saja jika beberapa orang dari dua komunitas ini sangat sedih ketika Mbah Surip meninggal tiba-tiba. Harapan yang muncul pun sirna begitu saja. Lalu bukan kematian Mbah Surip yang membuat sedih, tapi sirnanya harapan itu yang ditangisi segelilntir seniman.

Minggu malam (9/8), TV One dengan tega menyandingkan kedua seniman itu. Yang satu, W S Rendra sudah melakukan “seni yang terlibat” sejak puluhan tahun lalu sementara yang lain, Mbah Surip, baru terkenal dua bulan belakangan lewat lagu “Tak Gendhong”. Para presenter membawakan acara dengan serius, mencoba membangkitkan kesedihan. Namun sayang, kematian Mbah Surip sebenarnya hanya membuat sedih beberapa gelintir seniman jalanan benar-benar dekat dengannya. Mereka tentu sudah berharap perubahan nasib ketika Mbah Surip tiba-tiba populer.

Agak disayangkan ketika Putu Wijaya dan Taufik Ismail mau berkontribusi pada acara remeh temeh seperti itu. Keduanya dengan cara berbeda memang mencoba mengenang W.S Rendra secara serius. Dan sesuatu yang pas jika W.S Rendra dikenang dengan serius mengingat kontribusinya yang besar bagi bangsa ini. Tercatat, puluhan sajak dan naskah drama Rendra adalah kritik bagi rejim, sebuah inspirasi bagi jutaan kaum muda.

Yang kemudian patut dipertanyakan, apakah kontribusi Mbah Surip bagi bangsa ini selain lagu “tak gendhong”? perkara Mbah Surip sudah menjadi inspirasi, tentunya hanya bagi segelintir seniman senasib yang ada di Gelanggang Remaja Bulungan atau Pasar Seni Ancol. Bagi saya dan anda, sebenarnya Mbah Surip tak berkontribusi apa-apa kecuali anda atau saya memasang lagu “Tak Gendhong” sebagai RBT.

Atau mungkin perlu dipertanyakan, apakah kontribusi Mbah Surip bagi TV One ? atau apa kontribusi Mbah Surip bagi Karni Ilyas ? belakangan memang hanya TV One aktifitasnya terlihat cukup berlebihan. Sekali, TV One menyiarkan pemakaman Mbah Surip secara langsung. Minggu malam (9/8) TV One kembali menyiarkan acara semacam “tribute to Mbah Surip” tapi kali ini dengan tega, disandingkan dengan W.S Rendra. Dan saya, jelas-jelas tidak rela.

Setelah kematian Mbah Surip, tak hanya media kosong macam TV One yang mencoba mencari konten. Kompas, dengan lebih berisi pun menampilkan beberapa artikel opini tentang kematian Mbah Surip. Alois Nugroho di Kompas (9/8) menuliskan, Mbah Surip adalah “suara lain” dari normalitas kemanusiaan. Suara yang mencemooh masyarakat dimana ia tinggal Lalu suara saya, anda, atau suara Mbah Wagiyem, mantan pembantu di kos-kosan saya itu suara apa ? saya, anda, atau Mbah Wagiyem, jelas cukup sering pula mencemooh masyarakat tempat dimana kita tinggal. Semua orang bisa menjadi “suara lain” namun, konstruksi media memang menjungkir balikkan semuanya. “suara lain”, suara yang diperhitungkan, hanya mereka yang tampil di tivi. Suara yang sudah dikonstruksikan, suara yang kira-kira menarik para pemasang iklan. Jika saya, anda, atau siapapun, tidak memiliki bakat menarik iklan, jelas tidak akan pernah dilirik media, tak akan dilirik untuk dikonstruksi.

Mbah Surip mencapai taraf seperti popularitas yang luar biasa hanya dalam waktu dua bulan setelah “tak gendhong’ dipopulerkan. Hal ini tentunya telah melewati beberapa tahap konstruksi popularitas. Mulanya seorang produser tertarik dengan lagu unik “tak gendhong”. Karena tidak ekonomis jika hanya sebuah lagu yang direkam, lalu demi Mbah Surip pun dipaksa mengeluarkan lagu-lagu aneh lainnya hingga cukuplah menjadi sebuah album. Satu album selesai, sang produser kemudian mengkonstruksikan “tak gendhong’ sebagai single andalan. Karena lucu, semua orang pun memasangnya sebagai RBT.

Dan semua berjalan serba kebetulan. Mbah Surip kebetulan menciptakan lagu “tak gendhon” di waktu senggangnya. Kebetulan pasar musik sedang jenuh dengan lagu melo, menye-menye tentang cinta. Kebetulan seorang produser yang sedang berpikir mencari ceruk pasar lain mendengar lagu “Mbah Surip” diperempatan. Kebetulan Mbah Surip dan Produser tadi mencapai kesepakatan untuk rekaman. Kebetulan pasar yang jenuh merespon dengan baik. Lalu, tiba-tiba saja Mbah Surip menjadi terkenal.

Coba bandingkan dengan serba kebetulan W.S Rendra. Kebetulan Rendra kuliah di Sastra Inggris, UGM, meski tidak tamat. Kebetulan ia menyukai sastra, bisa menyusun kata dan membentuk syair. Kebetulan ia mendapat beasiswa ke Amerika. Kebetulan ia memiliki kesempatan untuk meninkatkan kemampuannya. Kebetulan ia memiliki kepedulian terhadap kaum tertindas. Kebetulan ia berani, bukan pemalu, dan nekat membaca puisi, karena sepertinya tidak mungkin Rendra menyanyi dalam sebuah aksi atau unjuk rasa. Lalu waktu berjalan puluhan tahun, dan Rendra terus menekuni dunianya, dunia syair, kata-kata, drama, aski politik, kritik, dan sejalan dengan itu, ia telah menginspirasi banyak orang.

Serba kebetulan dua tokoh tersebut jelas tak bisa disandingkan. Rendra menginspirasi banyak orang dan Putu Wijaya adalah salah satu hasilnya. Mbah Surip mengispirasi segelintir seniman dan hasilnya adalah “si Jenggot” yang anda dan saya pun tak pernah lihat dan dengar aksinya dimanapun, kecuali ketika diwawancara TV One untuk mengenang Mbah Surip.

Jelas, Mbah Surip sebenarnya bukan siapa-siapa kecuali sekedar pencipta dan penyanyi beberapa lagu termasuk “tak gendhong”. Tapi Rendra adalah seorang penyair yang berani menyuarakan keberpihakannya. Coba bandingkan, ketika suara Amien Rais belum terdengar, pada tahun 70an, Rendra sudah mengkritik Soeharto. Jauh Sebelum Budiman Sudjatmiko populer, Rendra sudah mengkritik Soeharto. Tapi Mbah Surip, pada tahun 80an, bersepeda dari Mojokerto ke Jakarta untuk menantan Ellias Pical. Apakah itu sebanding ?

Rabu, 05 Agustus 2009

The Facebook Economy

Kungfu Pets yang saya hidupi beberapa hari terakhir sudah mencapai titik yang membanggakan. Puluhan barang yang dijual dalam Pets Store sudah saya beli, belasan properti juga sudah saya miliki, ratusan orang sudah saya kalahkan, keuntungan lebih dari satu juta dollar per jam sudah mengalir otomatis ke dalam kantng, dan level 60 pun sudah terlewati.


Untuk mencapai titik yang membanggakan ini, diperlukan konsentrasi dan dedikasi waktu yang tidak sedikit. Dan titik ini, bukanlah titik akhir karena ternyata masih ada puluhan level diatas level saya. “reach level 61 to unlock more training missions” begitu katanya ketika saya sudah mencapai level 60 dengan susah payah. Hal ini tentu sekedar kalimat paksaan agar orang untuk tidak puas dan berhenti pada suatu pencapaian. “find out who’s the best trainer in the world” katanya memancing perkelahian para pengguna. Hal ini tentu untuk memancing keramaian dan “viral effect dari sebuah permainan jejaring sosial.

Level permainan yang tak akan pernah ada ujungnya, dan kejutan-kejutan baru disetiap level memang menantang para pemain untuk terus meningkatkan kemampuan. Lalu, dengan ketagihan seperti ini, ribuan penggua aplikasi Kungfu Pets pun terus berusaha online, kembali dan terus kembali membuka facebook.

Begitulah cerita yang tak mungkin terjadi jika Zuckerberg tidak membuka platform situs jejaring social buatannya kepada pengembang aplikasi pihak ketiga. Loncatan Zuckerberg pada suatu sore di bulan Mei 2004 ini kemudian menjadi titik bersejarah lahirnya sebuah mesin ekonomi baru yang oleh CNN disebut sebagai “the facebook economy”. Sebuah mesin pengumpul uang yang berkedok situs jejaring social.

Delapan bulan kemudian, 14.000 aplikasi sudah terpasang. Aplikasi penting, tak penting, serius, dan main-main sudah terpasang memanjakan pengguna facebook. Aplikasi yang terpasang pada dasarnya adalah aplikasi sederhana yang bisa dibuat oleh beberapa orang kelompok programmer saja. Lihat saja. Scrabulous, game populer mirip Scrable ini dibuat oleh dua orang programmer bersaudara asal India.

Bagi para pengembang, facebook adalah mesin yang telah membangkitkan ekonomi kreatif yang belum pernah ada. Sebelumnya, situs jejaring social selalu tertutup terhadap pengembang pihak ketiga. Keuntungan selalu dimonopoli oleh pemilik situs jejaring sosial. Namun, facebook telah mematahkan kebiasaan kapitalistik macam ini. Hasilnya kemudian adalah lahirnya platform terbuka yang mendulang uang lebih banyak dan menguntungkan lebih banyak orang. Sebelumnya, platform terbuka selalu menjadi momok hilangnya akumulasi keuntungan yang ditakuti oleh para kapitalis digital.

Dengan loncatan besarnya, Zuckerberg telah mengubah Facebook menjadi situs jejaring sosial yang digemari tidak hanya oleh pengguna tetapi juga oleh para pengembang aplikasi. Alhasil, meskipun dengan cara akumulasi modal yang masih primitif melalui iklan, facebook mampu mendulang keuntungan hingga lebih dari $ 300.000 per kuartal di tahun 2004.

Sistem yang dikembangkan oleh Zuckerberg memang memberi kemudahan bagi para programmer bermodal cekak untuk memulai bisnisnya. Mereka bisa dengan mudah memasarkan aplikasinya melalui facebook. aplikasi populer semacam Scrabulous contohnya, merupakan aplikasi sederhana yang dibuat hanya dengan modal kemampuan programming sederhana. Lalu setelah populer game semacam ini pun dibeli oleh kapitalis besar semacam Electronic Arts Inc dan pengembang game besar lainnya.

Suatu kali, Zuckerberg mengutarakan visi dan misinya. “facebook’s priority is growth not profit” katanya suatu kali seperti dikutip Telegraph. Hal ini tentunya menggemaskan mengingat menurut ComScore, sebuah perusahaan riset marketing internet, saat ini facebook sudah bernilai lebih dari $ 15 juta. Sementara itu, demi 1,6 persen kepemilikan, Microsoft pun rela menggelontorkan dana segar $ 240 juta kepada Zuckerberg.

Dengan prioritas seperti itu, Zuckerberg memang sejauh ini masih mengarahkan facebook sebagai situs jejaring sosial yang non profit. Namun, platform-nya yang terbuka tak dapat dipungkiri telah menggerakkan jutaan dollar uang bagi kehidupan para pengembang aplikasi.

Sebenarnya, jutaan dollar tidak hanya bergerak menghidupkan para pengembang aplikasi. Bisnis penyedia jaringan internet (ISP) pun terkena imbasnya. Kira-kira sudah tak terhitung jumlah penggemar facebook yang relah merogoh koceknya lebih dalam untuk memasang jaringan internet ‘dedicated’ di rumah. Tujuannya sederhanya, hanya untuk mempermudah akses facebook setiap saat.

Para penjual handphone pun kebanjiran pesanan. Ribuan orang telah rela mengganti handphone kesayangannya yang monokrom dengan model warna-warni berteknologi lebih maju. Beberapa bermigrasi ke 3 G, yang berdana cekak masih memilih teknologi GPRS. Tujuannya jelas, untuk mempermudah akses facebook secara mobile.

Zuckerberg pun mengakui, akses facebook terbesar adalah melalui gadget mobile. Pertumbuhan terbesar tahun lalu disumbang oleh meningkatnya pengakses mobile. Lalu kini, di mall-mall dapat semakin mudah ditemui orang-orang yang berkonsentrasi memelototi handphone demi membaca huruf-huruf kecil tampilan facebook di layar sempit handphone masing-masing.

Dan begitulah sebuah mesin ekonomi masa kini bergerak dengan platform terbuka yang mampu menjaring lebih banyak pengguna. Lalu ketika pengguna ketagihan berbagai aplikasi yang secara liberal dan masiv terpasang, mereka pun menjadi pengguna setia. Efek viral pun semakin menggelembungkan jumlah pengguna. Akhirnya, jutaan dollar berberak tak hanya diantara pengembang aplikasi, tetapi juga diantara para penyedia jasa jaringan internet hingga penyedia hardware penunjang. Lalu apa lagi setelah facebook ?

Jumat, 17 Juli 2009

Bom Tanpa Pesan, Dan Dua Hotel Internasional

Dua bom meledak dan menggemparkan Indonesia (16/7). Sebuah tim sepakbola dunia, Manchester United pun membatalkan turnya ke Indonesia. Dua Bom meluluhlantakkan dua hotel internasional berbintang lima, Ritz Carlton dan J.W. Marriott.

Beberapa tiga kali Marriott pernah mengalami insiden ledakan. Tercatat di Indonesia, J.W. Marriott pernah dua kali dibom pada tahun 2003 dan 2009. Sementara itu, di Islamabad, hotel ini dibom pada tahun 2008.

Beberapa analis keamanan dan terorisme mengungkapkan bahwa ikon-ikon Amerika memang sering menjadi sasaran para teroris. Selain jaringan yang mengglobal memang menciptakan efek publisitas yang bisa didapatkan dengan pengeboman hotel melati biasa, serangan terhadap ikon-ikon Amerika tersebut memang dinilai dapat mengirimkan pesan teror dengan efisien.

Sebagai ikon Amerika, Marriott menjadi salah satu pilar imperialisme ekonomi Amerika. Majalah Forbes pun mengaitkan laba Marriott sebagai salah satu indikator bagi makroekonomi Amerika.

Majalah Forbes melaporkan laba perusahaan penginapan Marriott yang mencapai $ 6,6 miliar di kuarter kedua tahun 2009. Secara internasional, seperti diberitakan washington post, laba Marriott ini mengalami penurunan 76 persen dari laba kuarter sebelumnya. Namun di Amerika, laba ini diperkuat dengan fakta bahwa terjadi pertumbuhan tingkat hunian meski masih bertumbuh satu digit.

Beberapa analis menilai pertumbuhan tingkat hunian di New York ini dapat menjadi dasar bagi prediksi kondisi makroekonomi Amerika yang menguat. Hal ini didasari pada fakta pertumbuhan konsumsi waktu luang di Amerika yang dapat diartikan sebagai terjadinya perbaikan tingkat kesejahteraan individu yang mendorong konsumsi salah satunya pada konsumsi untuk jasa dan industri waktu luang termasuk konsumsi hiburan dan penginapan. Joseph Greff, analis JP Morgan, seperti dikutip Forbes (15/7) membenarkan fakta bahwa tingkat hunian di New York yang tumbuh satu digit belakangan ini. b

Dua hotel internasional yang menjadi sasaran peledakan di Jakarta, Ritz Carlton dan J.W. Marriott adalah perusahaan internasional yang sudah memulai usahanya sejak 1920an. Keduanya tumbuh mengglobal bersama gelembung ekonomi Amerika paska perang dunia pertama.

Marriott Internasional Inc adalah perusahaan franchise Internasional yang bergerak di bidang perhotelan dan resort. J. Willard Marriott, seorang mantan misionaris Mormon yang kemudian membuka kedai root beer adalah pendiri perusahaan penginapan franchise ini.

Awalnya, J. W. Marriott bersama dengan istrinya, Alice, membuka kedai root beer pertama di Whasington D.C pada tahun 1927. belakangan bisnis bertumbuh sangat cepat. Dibawah J.W (Bill) Marriott, bisnis penginapan keluarga Marriott ini mencapai puncaknya.

Pada tahun 1995 Marriott membeli 49 persen kepemilikan hotel Ritz Carlton-Hotel Company LLC. Investasi awal Marriott dalam akuisisi tersebut diperkirakan mencapai $ 200 juta. Tahun berikutnya, Marriott menggelontorkan dana segar mencapai $330 juta untuk membeli Ritz Carlton Atalanta. Selanjutnya, Ritz Carlton pun menjadi anak perusahaan Marriott International Inc.

Ritz Carlton yang belakangan dibeli Marriott adalah perusahaan hotel dan resort mewah dengan 70 properti yang terletak di kota-kota besar di 23 negara. Ritz Carlton didirikan pada tahun 1927 di Boston, Amerika Serikat, jauh sebelum Marriott memulai usaha hotelnya. Tercatat, 32.000 pekerja diperkerjakan di perusahaan ini.

Kedua hotel berbintang lima ini memang menjadi langganan turis asing khususnya turus Amerika dan Eropa. Tidak hanya di Indonesia, tren ini juga terjadi di beberapa negara lain. Hal ini tak mengherankan mengingat fasilitas bintang lima yang berstandar internasional memang sudah tak diragukan lagi.

Dengan fasilitas mewahnya, hotel yang biasa terletak di daerah strategis pusat kota ini kemudian menjadi favorit para bos besar. Di Jakarta, Ritz Carlton dan Marriott terletak di Mega Kuningan, sebuah lokasi paling strategis di Jakarta. Beberapa perusahaan besar baik asing maupun dalam negeri berkantor didaerah ini. Beberapa kantor-kantor kedutaan pun ada didaerah ini. Dengan letak yang sangat strategis tersebut maka tak jarang meeting dan lobi-lobi bisnis terjadi di kedua hotel tersebut.

Rencananya, tim papan atas Eropa, Manchester United akan menginap di Hotel Ritz Carlton untuk beberapa hari selama turnya di Jakarta. Tim Indonesia all star pun sudah mulai menginap di J.W, Marriott sebelum menghadapi setan merah. Beruntung, tim Indonesia sudah meninggalkan hotel untuk berlatih, beberapa menit sebelum ledakan terjadi. Namun malang, setan merah yang rencananya baru tiba di Indonesia malam ini urung datang ke Indonesia.

Teroris yang sampai saat ini belum mengaku bertanggung jawab dan menyampaikan pesan terornya secara langsung memang telah berhasil menembus sistem keamanan dua hotel internasional ini. pengalaman pengeboman beberapa kali sebenarnya telah memberi pelajaran pada Marriott dan Ritz Carlton untuk meningkatkan keamanan hotel mereka.

Namun, teroris memang selalu mau belajar. Sistem keamanan dua hotel internasional yang dinilai terketat di Indonesia telah ditembus. Kini puing-puing sisa ledakan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan tidak hanya oleh pemerintah Indonesia tetapi juga ikon-ikon Amerika lain yang munkin akan menjadi sasaran teror. ni56pa98kx

Rabu, 01 Juli 2009

Berapa Gajimu?

Hari ini Pepih Nugraha, seorang wartawan Kompas menuliskan laporannya tentang peluncuran sebuah situs gaji. Nama situsnya, gajimu.com. situs non-profit ini berafiliasi dengan The WageIndicator Foundation dan rubrik perempuan Kompas.

Situs baru tersebut memang membuat penasaran. Apalagi jika melihat afiliasi dibelakang situs non-profit tersebut. Laporan yang didedikasikan oleh Pepih Nugraha di Kompasiana pun semakin menambah penasaran. Pepih Nugraha melaporkan bagaimana peluncuran situs tersebut dilaksanakan di Pisa Cafe dengan dihadiri beberapa selebritis seperti Shahnaz Haque, Santi Manuhutu, dan Anya Dwinov sebagai host.

Dengan penasaran, lalu situs tersebut saya kunjungi. Sekilas memang situs tersebut menawarkan konten yang tampak menarik, sebuah situs yang menawarkan informasi perbandingan gaji pekerja. Ketika dicek, ternyata konten andalan situs ini, yaitu konten survey gaji masih belum berjalan dengan baik. Ketika dicoba, konten tersebut tidak berhasil menampilkan data. Konten lain di situs gajimu.com pun masih belum optimal. Beberapa konten tampak menampilkan data-data gaji tahun 2007.

Situs ini berafiliasi dengan The WageIndicator Foundation, sebuah lembaga non profit Internasional yang mengerjakan proyek pertamanya di Belanda dengan situs Loonwijzer.nl. Di Indonesia, proyek tersebut diteruskan dengan sebuah situs bernama gajimu.com.

Di Belanda, Yayasan Loonwijzer merupakan inisiatif bersama FNV (serikat datang Belanda), University of Amsterdam / AIAS (Institute of Labour Studies) dan situs karir Belanda, Monsterboard. Beberapa lembaga tersebut kemudian membentuk dewan pengawas dan menjalankan proyek The WageIndicator Foundation.

Terlepas dari konten yang belum terlalu siap dan acara peluncuran yang kelewat mantap seperti dilaporkan oleh Pepih Nugraha, masa depan proyek ini tampak cukup menjanjikan. Indikator upah yang ditawarkan dan jaringan global yang sedang dibangun akan menajadi salah satu keuntungan bagi kelas pekerja untuk tidak terlalu didikte oleh pembuat kebijakan upah minimum.

Selama ini, upah minimum adalah instrumen negara untuk menarik investor. Semakin kecil upah minimum, investor akan semakin tertarik dengan efisiensi biaya produksi yang ditawarkan. Namun, tak dapat disangkal bahwa perselingkuhan antara negara dengan kapital akan merugikan kelas pekerja domesktik. Lihat saja, ketika demi investor negara menurunkan standar gaji minimum, maka pekerja pun akan dirugikan.

Informasi upah selama ini memang minim. Beberapa kelompok kepentingan seperti serikat-serikat buruh tak dapat dipungkiri memang kesulitan menyuarakan kepentingannya terkait dengan upah dan kesejahteraan mereka. Kedepan, ketika indikator upah yang dijalankan oleh The WageIndicator Foundation terbagun dengan baik, serikat-serikat pekerja dan kelompok-kelompok kepentingan dapat menyusun berbagai kepentingannya terkait dengan upah dan kesejahteraan berdasarkan indikator upah global.

Bagi individu, indikator upah ini nantinya memang bisa menjadi salah satu referensi kenaikan gaji. Terbatasnya informasi tentang gaji memang membuat pekerja kadang terkungkung dalam skema gaji yang kadang merugikan. Dengan informasi dan referensi yang ditawarkan situs gajimu.com, maka keterbatasan informasi ini dapat di atasi. Individu dan serikat pekerja pun dapat bersuara lantang ketika gaji mereka berada dibawah indikator upah global.

Namun, mengingat usianya di Indonesia yang baru sehari, maka berbagai kekurangan memang bisa dimaklumi. Minimal, keseriusan proyek ini di Indonesia bisa kita lihat dari acara peluncuran yang tampak bonafid seperti yang dilaporkan oleh Pepih Nugraha. Maka, inilah konten baru yang patut kita tunggu.

Minggu, 31 Mei 2009

Hercules dan Securitization

Beberapa waktu lalu sebuah Hercules tua jatuh di Magetan membawa hampir 140 nyawa. Sampai-sampai Adjie Suradji pun mengibaratkan Hercules sebagai peti mati terbang (Kompas, 27 Mei 2009). Arah pembicaraan dengan latar belakang peti mati terbang kemudian bisa ditebak.

Setiap kali terjadi kecelakaan militer, selalu saja anggaran pertahanan menjadi perhatian. Logika yang dibangun, anggaran pertahanan yang kecil akan berakibat pada perawatan dan pengadaan alutista. Beberapa kecelakaan armada militer kemudian disebut-sebut sebagai efek anggaran minimal bagi perawatan alutista.

Jika dirunut kebelakang, sudah tak terhitung lagi kecelakaan militer yang disebabkan karena ketidaksiapan armada. Di tahun 2009 saja sudah ada 3 kecelakaan pesawat militer. 72 nyawa prajurit melayang, belum lagi ditambah nyawa sipil yang sama-sama berharga.

Wacana pertahanan pun kemudian mengemuka. Mulai dari reformasi TNI, reformasi pertahanan hingga anggaran semakin ramai dibicarakan. Belakangan kapal perang malaysia yang mondar-mandir pun kembali dibicarakan. Malaysia disebut-sebut melecehkan kedaulatan negara.

Arahnya kemudian semakin jelas, securitization dalam ranah tradisionalis (Buzan, 2007). Meskipun baru dalam tahap wacana, atau meminjam istilah Weaver, securitizing move, jelas securitisasi adalah hal yang bisa jadi membahayakan demokrasi yang sudah dibangun sepuluh tahun terakhir. Wacananya, sudah dibangun bahwa negara sebagai referent obect akan terancam. Yang paling mungkin mengancam adalah negara tetangga dalam kawasan. Maka kemudian isu blok ambalat pun dihidupkan lagi.

Dalam perspektif tradisional, negara sudah jelas menjadi referen object. Namun yang kemudian menjadi agak kabur adalah jejaring konstruktor ancaman. Para aktor yang membangun logika ancaman telah membentuk jejaring yang sulit ditebak secara individual. Jaringannya jelas ketika media massa, para perwira, hingga beberapa gelintir akademisi termasuk orang-orang LIPI mulai berbicara soal pertahanan dan anggaran di berbagai media memanfaatkan jatuhnya Hercules.

Media massa dengan kepentingan dan keberpihakannya memang menjadi jalur transmisi gagasan yang paling utama. Kepentingan media saling bertemu dalam keseimbangan dengan kepentingan para aktor. Maka kemudian wacana-wacana pertahanan pun bisa ditampilkan sebagai headline dan memenuhi sebagian besar ruang dalam media.

Media massa berkepentingan mengkonstruksikan derajat kepublikan. Maka kemudian beberapa gelintir orang pun dikaburkan agar wacana pertahanan bukan lagi menjadi wacana segelintir orang tetapi menjadi pendapat umum. Jejaring Aktor-aktor individu memang perlu dikaburkan ketika media massa mencoba memproduksi opini publik karena derajat kekaburan yang selalu berbanding lurus dengan derajat kepublikan. Semakin individu tak terlihat, maka apa yang dibangun media massa menjadi semakin terlihat sebagai opini publik. Kemudian, media massa pun laku di pasaran. Sebagai ciri negara yang sudah punya sedikit sense berdemokrasi, maka kaburnya securitizing aktor yang mengkonstruksi ancaman menjadi hal biasa.

Dasar opini pertahanan memang bermacam-macam. Ada yang beropini secara emosional karena kehilangan teman, ada yang emosional karena hidup dalam lingkungan peti mati terbang, atau ada pula yang beropini berapi-api mencoba menampilkan nasionalisme. Namun satu benang merah diantara opini-opini dalam media massa tersebut adalah logika money follows security. Semakin banyak anggaran pertahanan, maka negara semakin aman.

TNI jelas akan menjadi insitusi yang paling diuntungkan jika securitizing move naik kelas menjadi securitization. Seperti mendapatkan durian runtuh, bisa saja tiba-tiba anggaran pertahanan dinaikkan dengan mengorbankan anggaran lain. Bisa saja tiba-tiba anggaran pendidikan yang sudah 20 persen dipotong demi pertahanan. Alurnya jelas kemudian hak pendidikan anak-anak Indonesia menjadi terancam.

Securitisasi perlu diwaspadai karena sifatnya yang beyond politic. Bisa saja demokrasi kemudian tercederai karena sifat dasar sekuritisasi selalu mendobrak rule of game. Rule of game demokrasi yang sudah dibangun selama sepuluh tahun terakhir bisa saja didobrak untuk menaikkan anggaran secara instan. Alasannya, negara sedang terancam.

Mungkin perlu diingat bagaimana Soekarno melakukan sekuritisasi untuk merebut Irian Barat dan melawan negara boneka Malaysia. Rule of game demokrasi yang rapuh pada masa Orde Lama menjadi semakin parah ketika anggaran pertahanan dinaikkan dengan mengabaikan hak sipil, politik, dan ekosob warga negara. Alhasil, hutang menumpuk, dan rakyat kelaparan tanpa pendidikan, demi memuaskan hasrat berperang para pemimpin. Memang TNI kemudian menjadi salah satu yang terkuat di Asia waktu itu, tapi sayangnya, sektor sekuriti non-tradisional menjadi diabaikan.

Entah kebetulan atau direncanakan, belakangan Wacana Blok Ambalat kembali hidup bersamaan dengan jatuhnya Hercules. Isu ambalat hidup dengan latar belakang pelanggaran batas negara oleh kapal perang Malaysia. Janggal karena, seperti diakui Petinggi Angkatan Laut, hal ini sudah biasa terjadi tetapi baru kali ini dipublikasikan setelah sejak 2005 lalu isu ambalat hilang dari peredaran. Bisa jadi, isu blok ambalat dihidupkan lagi untuk semakin menonjokan urgensi sekuriti.

Sejauh ini, wacana masih ada dalam tahap securitizing move. Presiden dan Menteri Pertahanan sebagai aktor fungsional pun masih bersikukuh bahwa tidak ada yang salah dengan anggaran. Alhasil, kenaikan anggaran pertahanan belum menjadi panic policy. Namun yang kemudian mengkhawatirkan, isu seperti ini akan menjadi barang dagangan para capres. Hidden agendanya, menggaet dukungan TNI yang sudah berkomitmen netral.

Satu-dua capres memang sudah mulai menjanjikan kenaikan anggaran pertahanan. TNI dengan pilihan rasionalnya pun bisa saja memilih untuk berpihak. Maka kemudian yang perlu kita lakukan adalah berdoa agar securitizing move tak menjadi securitization.

Senin, 27 April 2009

Ekonomi Politik Ujian Nasional

Ujian Nasional memang salah satu kontroversi populer dalam dunia pendidikan Indonesia. Namun siapa sangka sisi ekonomi-politiknya lebih menyenangkan?

Proyek Ujian Nasional (UN) sebenarnya mulai dijalankan sejak tahun 2003 dengan nama Ujian Akhir Nasional (UAN). Entah apa bedanya, belakangan UAN diganti nama menjadi UN. Proyek ini bukanlah proyek baru. Sebelumnya proyek semacam ini juga pernah dijalankan dengan nama Ebtanas yang populer pada dekade 90an. Dekade ini, UN adalah bintangnya.

Kontroversi multidimensi muncul mulai dari segi pedagogis, hingga fundamental formulasi kebijakan. Beberapa orang mengkritik Ujian Nasional karena kaidah formulasi kebijakan yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Beberapa mengeluh karena sosialisasi dan fondasi pelaksanaan mulai dari kualitas pendidikan hingga moral dinilai rapuh. Sosialisasi minimal pun juga awalnya dikeluhkan.

Kontroversi tak berhenti. Kontroversi lain mulai bergerak ke ranah pedagogis. Beberapa mengkritik Ujian Nasional yang mencederai semangat intelektualitas dan mereduksinya dalam angka-angka.

UN memang menjadi tolok ukur standarisai produk pendidikan. Kualitas pendidikan dan hasilnya kemudian dilihat dari angka-angka sertifikat hasil UN. Namun siapa sangka proyek ini telah menciptakan lapangan kerja, dan menggalirkan uang dari siswa dan orang tua yang nervous menghadapi UN.

Belakangan bersamaan dengan semakin populernya UN, mulai muncul lembaga-lembaga bimbingan belajar. Lembaga-lembaga ini awalnya pada dekade 80an, sekedar bertujuan membantu anak-anak sekolah untuk mengejar ketertinggalannya di sekolah. Namun belakangan lembaga-lembaga ini malah mengkooptasi peran sekolah dalam mendidik anak. Lihat saja ketika beberapa sekolah lebih mempercayakan persiapan UN anak didiknya pada lembaga bimbingan belajar swasta.

Pertama kali, tren lembaga bimbingan belajar dimulai oleh Primagama. Lembaga ini didirikan sejak 1982 oleh Purdy E. Chandra dan kawan-kawan di Yogykarata. persaingan semakin seru namun belakangan, Primagama dengan anak-anak usahanya muncul sebagai lembaga bimbingan belajar paling besar di Indonesia. Entah berapa miliar rupiah sudah bisa diputar lembaga-lembaga ini dan berapa ribu pekerja terkena cipratannya. Yang jelas bisnis bimbingan belajar memang semakin menggiurkan seiring dengan semakin menegangkannya Ujian Nasional.

Beberapa tahun kemudian, Ganesha Operation didirikan di Bandung tahun 1984. lembaga ini mengklaim memiliki 60.000 siswa, dan 6000 diantaranya berhasil menembut PTN. Bandingkan saja dengan jumlah yang diklaim Primagama yang mencapai 350.000 di 83 kota.

Primagama dan Ganesha Operation bukan satu-dua pemain utama. Dibelakangnya masih ada puluhan bimbingan belajar lain yang berebut ceruk pasar. Sebut saja Sony Sugema College, Neutron Yogyakarta, SSC Intersolusi, Bulaksumur Association (BSA), hingga Kumon. Beberapa lembaga tersebut menjalankan model bisnis franchise seperti Primagama, pendahulu mereka.

Selain lembaga bimbingan belajar franchise yang sudah menyebar dipuluhan kota di Indonesia, muncul juga lembaga-lembaga lokal yang ikut memperebutkan ceruk pasar. Meskipun berskala rumah tangga, para pemain lokal biasanya menjangkau pasar yang tak terjangkau lembaga franchise. Sebut saja Nurul Fikri, Widodo Course, Aktif Course, hingga Bu Supri yang paling terkenal di Temanggung, yang merupakan puncak gunung es, sementara ribuan bahkan jutaan lainnya ada dibawah air.

Mendirikan lembaga bimbingan belajar memang terlalu mudah. Hanya perlu syarat legal formal sebuah yayasan dan sekedar diketahui sub dinas pendidikan luar sekolah. Total biaya pun tak lebih dari Rp. 1 juta untuk sekedar ijin dan syarat legal formal. Namun legal formal bukanlah syarat mutlak. Beberapa pemain lokal sekedar membuka ruang tamu rumah mereka untuk memancing murid-murid yang mulai nervous menghadai UN.

Diluar lembaga-lembaga bimbingan belajar itu, produsen alat tulis juga terkena cipratan bisnis UN. Paling tidak, untuk produsen pensil 2 B dan penghapusnya, bisnis menjadi sangat menguntungkan. Tahun 1998 saja nilai impor alat tulis termasul pensil 2 B dan penghapusnya mencapai 5,9 juta dolar. Sementara tahun 2008 nilai tersebut diperkirakan meningkat tajam mengingat UN yang semakin populer.

Melihat sistem koreksi yang digunakan. Pencil 2 B menjadi produk populer menjelang UN. Setidaknya hampir 6 juta perserta UN SMP dan SMA menggunakan pensil jenis ini. Peta pensil menunjukkan bahwa 60 persen memakai pensil kayu 2 B, sisanya memakai pensil mekanik. Namun pemain utama bisnis ini tetap dipegang oleh Faber Castell dan Staedler.

Strategi kedua perusahaan ini belakangan makin canggih. Lihat saja di pasar, akan dengan mudah ditemui paket-paket ujian dengan kisaran harga antara Rp. 5000 hingga Rp. 15.000. Meski produk eceran lebih murah, tawaran paket yang dikemas menarik memang kadang lebih menggiurkan bagi jutaan peserta UN.

Berkah UN tak berhenti pada pemain bimbingan belajar dan produsen pensil 2B. setidaknya para pengawas juga terkena imbasnya. Lihat saja anggaran UN tahun ini yang mencapai Rp. 439 miliar. 296 miliar dialokasikan untuk eksekusi UN SMP dan SMA, sementar anggaran UASBN SD mencapai 50,5 Miliar. Dana sebesar itu jelas jadi obyek bancakan bagi bagi pemain tetek bengek percetakan, distributor, penjaga soal, hingga pengawas ujian.

Pemerintah melansir data dilibatkannya lebih dari sejuta tim pengawas. Untuk tim independen dilaporkan mencapai 55 ribu dari perguruan tinggi. Sementara sebanyak 1 juta orang menjadi pengawas ruangan dari sekolah pelaksana. Jutaan pengawas tersebut tentu saja tidak bekerja Cuma-Cuma. Jelas mereka kena cipratan anggaran negara.

Dibalik kontroversi multidemensi yang melingkupi UN, paling tidak sisi ekonomi politik memang tetap menggiurkan. Tak heran pemerintah ngotot mempertahankan proyek ini.

Minggu, 26 April 2009

Penguasa Dan Kartini

Tanggal 21 April adalah hari Kartini. Namun beberapa orang lebih sibuk menyiapkan Kebaya yang akan dipakainya esok hari daripada mengingat sosok Kartini. Munkinkah sekarang saatnya merayakan hari Kebaya, bukan lagi hari Kartini ?

Awalnya Kartini hanya menulis surat kepada kawan penjajahnya. Namun sejarah berkata lain ketika penguasa mencatatkannya sebagai salah seorang pahlawan. Hari lahirnya pun dipaksakan untuk diperingati dengan segala simbol-simbol perayaan. Sekarang simbol yang masih tersisa hanyalah Kebaya.

Siapakah Kartini? Kartini adalah anak kelima RM Adipati Ario Sosrodiningrat, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Ngasirah, ibunya adalah jelata anak kiyai dari Jepara. Sesuai aturan penjajah, demi menjadi Bupati, Sosrodiningrat harus mendua dan menikah lagi dengan seorang bangsawan lain. R.A. Woerjan keturunan raja Madura kemudian menjadi istri baru Sosrodiningrat.

Dengan segala privilege yang dimilikinya sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menikmati bonus pendidikan pribumi rasa Belanda. Di sekolah penjajah ia belajar bahasa Belanda dan kultur lainnya hingga ia dipingit pada usia 12 tahun. Jika sekedar belajar bahasa, maka layaknya orang belajar bahasa pada jaman sekarang, menulis surat adalah salah satu sarana mempraktikkan bahasa yang ia pelajari.
Sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menemukan kawan penjajah native yang dapat diajaknya menjadi sahabat pena. Dan secara kebetulan, Kartini mendapatkan Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Belanda yang juga teman ayahnya, sebagai sahabat pena. Abendanon, entah dalam proyek politik etisnya atau tidak, memang pernah berkunjung ke Jepara. Belakangan, bersama dengan Van Deventer, Abendanon juga dikenal sebagai tokoh politik etis.

Bahasa ternyata telah membuka pertemuan Kartini dengan pemikiran baru dari Barat. Sebelum usianya yang ke 20 Kartini sudah membaca banyak ide barat dari majalah, buku, roman, dan surat kabar. Banyak ide masuk dikepalanya tak terkecuali ide feminisme gelombang pertama yang tercatat di surat kabar dan roman. Tulisannya pun pernah dimuat dalam beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Belanda. Namun ia tak pernah menerbitkan buku kecuali kumpulan surat "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang diterbitkan sahabat pena-nya setelah ia meninggal.

Kartini bertemu dengan pemikiran Politik Etis dan Feminisme yang sedang berkembang di Belanda. Maka tak heran kemudian surat-surat kepada kawan penjajahnya adalah pemikiran dan keluh kesahnya tentang ketimpangan pendidikan pribumi khususnya pribumi perempuan. Politik etis sendiri adalah buah kegagalan Belanda menanggung kerugian korupsi dan bengkaknya anggaran perang. Diponegoro adalah salah satu biangnya ketika perang panjang yang diorganisirnya memaksa penjajah untuk mengeluarkan banyak uang.

Kemudian edukasi pribumi adalah salah satu solusi pekerja murah. Sebagai perbandingan, seorang profesional belanda harus digaji 75 gulden, sementara pribumi terdidik hanya perlu dasi, kursi, dan gaji seperlima gaji orang belanda. Entah etis atau tidak, Politik Etis kemudian menjadi projek modern penjajah di Hindia Belanda, setelah sebelumnya kerja rodi telah mengakibatkan jutaan rakyat jelata terbunuh.

Dan Kartini tidak melakukan hal-hal signifikan sampai akhirnya mati setelah melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904, selain berkirim curhat pada kawannya. Ia memang pernah mengorganisir sekolah kaum wanita untuk tetangga sekampungnya, namun itu sekedar kegiatan mengisi waktu luang selama dipingit.

Sejarah kemudian berkata lain ketika ternyata kawan sahabat pena di negeri asalnya adalah pendukung politik etis. Kartini pun dipinjam sebagai ikon. Surat-surat dari Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, kemudian menjadi prawacana Politik Etis yang berhasil berhasil memancing belas kasihan orang-orang Belanda di negerinya.

Kartini tidak mengorganisir perlawanan, adalah salah satu faktor yang membedakannya dengan pahlawan wanita lainnya. Ketimbang pejuang wanita pribumi lainnya seperti Cut Nyak Dien, Christina Matha Tiahahu, Dewi Sartika, dan Siti Aisyah Wie Tienrolle yang memilih jalan perlawanan. Gerakan mereka lebih jelas terlihat namun sayang gerakan itu menyedot anggaran perang penjajah. Maka jadilah Kartini, ikon politik etis karena bagaimanapun juga Politik Etis adalah politik belas kasihan.

Gelombang politik etis pun menguat sampai akhirnya keluarga Van Deventer mendirikan Sekolah Kartini pada tahun 1912, beberapa tahun setelah Kartini meninggal. Sekolah didirikan di beberapa kota di Hindia Belanda seperti di Malang Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Namun sejarah tidak mencatat kelanjutan sekolah itu.

Rakyat Indonesia sepertinya harus berterima kasih pada Politik Etis dan para pencetusnya. Karena politik etis dikemudian hari memunculkan tokoh penting pendiri bangsa. Ide Barat telah menciptakan ke-Indonesia-an. Dan ide itu pula yang membangkitkan Indonesia dari penjajahan. Setidaknya, produk-produk Politik Etis adalah orang-orang yang ingin negaranya bebas merdeka. Maka kemudian munculah Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh produk politik etis lainnya.

Selang beberapa puluh tahun kemudian, Indonesia merdeka dengan gerakan-gerakan yang diorganisir produk-produk politik etis. Entah bagaimana ceritanya kemudian Presiden Soekarno, presiden seumur hidup itu menetapkan Kartini sebagai pahlawan dengan Kepres No 108 Tahun 1964 pada tanggal 2 mei 1964. Keppres sekaligus menetapkan tanggal 21 April sebagai hari kartini.

Entah apapula hubungan Soekarno, Gerwani, dan Kartini. Yang jelas, Gerwani menerbitkan majalah Api Kartini dan Berita Gerwani sebagai media agitasi dan propaganda feminisme. Api Kartini menunjukkan cara Gerwani meminjam nama Kartini atas nama perjuangan wanita. Selain itu, faktanya gelombang feminisme global juga menguat sejak tahun 1960an menjelang Soekarno mengeluarkan Keppresnya tentang Kartini. "Gerwani semakin diperhitungkan dalam percaturan politik Orde Lama sebagai oganisasi feminis di tanah air", kata Saskia Wieringa dalam disertasinya ketika menggambarkan posisi Gerwani. Dan memang gnggotanya yang mencapai 650.000 wanita pada tahun 1957 sudah cukup menggiurkan untuk ditarik sebagai tambahan mesin politik.

Gerwis adalah cikal bakal Gerwani. Awalnya didirikan sekitar tahun 1950an dan 650.000 wanita sudah menjadi anggotanya pada tahun 1957. Sementara ketika dilikuidasi pada tahun 1965/66 akibat G/30/S, Gerwani sudah berkekuatan 1,5 juta wanita Indonesia. Feminisme memang dekat dengan gerakan kiri. Maka tak heran jika Gerwani kemudian semakin dekat dengan PKI, bahkan dianggap sebagai organisasi massa bentukan PKI.

Entah benar atau tidak, bisa jadi tanggal 21 April adalah hadiah Soekarno pada Gerwani yang semakin kuat menjadi suporter Soekarno disamping PKI. Efeknya, Feminisme di Indonesia pun semakin diakui sejak adanya hari Kartini. Namun kedekatan Gerwani dengan PKI mematikan gerakan feminisme yang sudah semakin kuat. Beberapa analis menyayangkan kedekatan yang mengaburkan perjuangan feminisme dan menjerumuskan Gerwani dalam kudeta yang gagal. Dapat dipastikan jika Gerwani tak ikut dilikuidasi paska G/30/S, mainstraiming gender tak perlu lagi jadi tren baru dalam perpolitikan reformasi.

Siapapun Kartini, surat-suratnya adalah jalan pertama menuju sebuah roman politik yang berkepanjangan. Melalui surat-surat itu, Kartini dipinjam sebagai ikon Politik Etis. Politik Etis membuka peluang bagi ke-Indonesia-an untuk merdeka. Belakangan, dalam konteks Feminisme yang menguat pada tahun 1960an, dan Kartini lagi-lagi dipinjam penguasa untuk menggaet Gerwani sebagai mesin politik.

Di kemudian hari, Kartini menjadi lambang gerakan emansipasi wanita. Dan kebaya mungkin akan menjadi satu-satunya simbol yang masih melekat pada hari Kartini. "Meskipun Kartini hanya lambang, nilai yang diperjuangkan harus dikembangkan" kata Harsja Bachtiar. Maka, membawa surat Kartini pada kekinian atau membawa perjuangan wanita sebatas surat Kartini, menjadi sudah tak relevan lagi ketika wanita terdidik sudah semakin banyak. lalu sekarang apa lagi ? apakah berhenti pada 30 persen kursi di parlemen ?