Minggu, 09 Agustus 2009

Teganya Media

Beberapa hari lalu dua orang populer meninggalkan dunia. W.S. Rendra dan Mbah Surip meninggal dalam waktu yang berdekatan. Pemakaman Mbah Surip disiarkan langsung, sementara slot untuk W.S. Rendra sudah dihabiskan untuk Noordin M. Top.

Kira-kira berapa gelintir orang yang benar-benar sedih ketika mendengar Mbah Surip meninggal ? ketika Michael Jackson meninggal, jutaan orang menangisinya. Begitu pula ketika Rendra meninggal, setidaknya ribuan orang turut berduka. Lalu, ketika Mbah Surip meninggal, sebenarnya hanya segelintir seniman yang sudah menaruh harapan pada Mbah Surip yang tiba-tiba populer.

Popularitas Mbah Surip adalah harapan bagi segelintir seniman di Gelanggang Remaja Bulungan di Jakarta Selatan atau Pasar Seni Ancol di Jakarta Utara. Dan pantas saja jika beberapa orang dari dua komunitas ini sangat sedih ketika Mbah Surip meninggal tiba-tiba. Harapan yang muncul pun sirna begitu saja. Lalu bukan kematian Mbah Surip yang membuat sedih, tapi sirnanya harapan itu yang ditangisi segelilntir seniman.

Minggu malam (9/8), TV One dengan tega menyandingkan kedua seniman itu. Yang satu, W S Rendra sudah melakukan “seni yang terlibat” sejak puluhan tahun lalu sementara yang lain, Mbah Surip, baru terkenal dua bulan belakangan lewat lagu “Tak Gendhong”. Para presenter membawakan acara dengan serius, mencoba membangkitkan kesedihan. Namun sayang, kematian Mbah Surip sebenarnya hanya membuat sedih beberapa gelintir seniman jalanan benar-benar dekat dengannya. Mereka tentu sudah berharap perubahan nasib ketika Mbah Surip tiba-tiba populer.

Agak disayangkan ketika Putu Wijaya dan Taufik Ismail mau berkontribusi pada acara remeh temeh seperti itu. Keduanya dengan cara berbeda memang mencoba mengenang W.S Rendra secara serius. Dan sesuatu yang pas jika W.S Rendra dikenang dengan serius mengingat kontribusinya yang besar bagi bangsa ini. Tercatat, puluhan sajak dan naskah drama Rendra adalah kritik bagi rejim, sebuah inspirasi bagi jutaan kaum muda.

Yang kemudian patut dipertanyakan, apakah kontribusi Mbah Surip bagi bangsa ini selain lagu “tak gendhong”? perkara Mbah Surip sudah menjadi inspirasi, tentunya hanya bagi segelintir seniman senasib yang ada di Gelanggang Remaja Bulungan atau Pasar Seni Ancol. Bagi saya dan anda, sebenarnya Mbah Surip tak berkontribusi apa-apa kecuali anda atau saya memasang lagu “Tak Gendhong” sebagai RBT.

Atau mungkin perlu dipertanyakan, apakah kontribusi Mbah Surip bagi TV One ? atau apa kontribusi Mbah Surip bagi Karni Ilyas ? belakangan memang hanya TV One aktifitasnya terlihat cukup berlebihan. Sekali, TV One menyiarkan pemakaman Mbah Surip secara langsung. Minggu malam (9/8) TV One kembali menyiarkan acara semacam “tribute to Mbah Surip” tapi kali ini dengan tega, disandingkan dengan W.S Rendra. Dan saya, jelas-jelas tidak rela.

Setelah kematian Mbah Surip, tak hanya media kosong macam TV One yang mencoba mencari konten. Kompas, dengan lebih berisi pun menampilkan beberapa artikel opini tentang kematian Mbah Surip. Alois Nugroho di Kompas (9/8) menuliskan, Mbah Surip adalah “suara lain” dari normalitas kemanusiaan. Suara yang mencemooh masyarakat dimana ia tinggal Lalu suara saya, anda, atau suara Mbah Wagiyem, mantan pembantu di kos-kosan saya itu suara apa ? saya, anda, atau Mbah Wagiyem, jelas cukup sering pula mencemooh masyarakat tempat dimana kita tinggal. Semua orang bisa menjadi “suara lain” namun, konstruksi media memang menjungkir balikkan semuanya. “suara lain”, suara yang diperhitungkan, hanya mereka yang tampil di tivi. Suara yang sudah dikonstruksikan, suara yang kira-kira menarik para pemasang iklan. Jika saya, anda, atau siapapun, tidak memiliki bakat menarik iklan, jelas tidak akan pernah dilirik media, tak akan dilirik untuk dikonstruksi.

Mbah Surip mencapai taraf seperti popularitas yang luar biasa hanya dalam waktu dua bulan setelah “tak gendhong’ dipopulerkan. Hal ini tentunya telah melewati beberapa tahap konstruksi popularitas. Mulanya seorang produser tertarik dengan lagu unik “tak gendhong”. Karena tidak ekonomis jika hanya sebuah lagu yang direkam, lalu demi Mbah Surip pun dipaksa mengeluarkan lagu-lagu aneh lainnya hingga cukuplah menjadi sebuah album. Satu album selesai, sang produser kemudian mengkonstruksikan “tak gendhong’ sebagai single andalan. Karena lucu, semua orang pun memasangnya sebagai RBT.

Dan semua berjalan serba kebetulan. Mbah Surip kebetulan menciptakan lagu “tak gendhon” di waktu senggangnya. Kebetulan pasar musik sedang jenuh dengan lagu melo, menye-menye tentang cinta. Kebetulan seorang produser yang sedang berpikir mencari ceruk pasar lain mendengar lagu “Mbah Surip” diperempatan. Kebetulan Mbah Surip dan Produser tadi mencapai kesepakatan untuk rekaman. Kebetulan pasar yang jenuh merespon dengan baik. Lalu, tiba-tiba saja Mbah Surip menjadi terkenal.

Coba bandingkan dengan serba kebetulan W.S Rendra. Kebetulan Rendra kuliah di Sastra Inggris, UGM, meski tidak tamat. Kebetulan ia menyukai sastra, bisa menyusun kata dan membentuk syair. Kebetulan ia mendapat beasiswa ke Amerika. Kebetulan ia memiliki kesempatan untuk meninkatkan kemampuannya. Kebetulan ia memiliki kepedulian terhadap kaum tertindas. Kebetulan ia berani, bukan pemalu, dan nekat membaca puisi, karena sepertinya tidak mungkin Rendra menyanyi dalam sebuah aksi atau unjuk rasa. Lalu waktu berjalan puluhan tahun, dan Rendra terus menekuni dunianya, dunia syair, kata-kata, drama, aski politik, kritik, dan sejalan dengan itu, ia telah menginspirasi banyak orang.

Serba kebetulan dua tokoh tersebut jelas tak bisa disandingkan. Rendra menginspirasi banyak orang dan Putu Wijaya adalah salah satu hasilnya. Mbah Surip mengispirasi segelintir seniman dan hasilnya adalah “si Jenggot” yang anda dan saya pun tak pernah lihat dan dengar aksinya dimanapun, kecuali ketika diwawancara TV One untuk mengenang Mbah Surip.

Jelas, Mbah Surip sebenarnya bukan siapa-siapa kecuali sekedar pencipta dan penyanyi beberapa lagu termasuk “tak gendhong”. Tapi Rendra adalah seorang penyair yang berani menyuarakan keberpihakannya. Coba bandingkan, ketika suara Amien Rais belum terdengar, pada tahun 70an, Rendra sudah mengkritik Soeharto. Jauh Sebelum Budiman Sudjatmiko populer, Rendra sudah mengkritik Soeharto. Tapi Mbah Surip, pada tahun 80an, bersepeda dari Mojokerto ke Jakarta untuk menantan Ellias Pical. Apakah itu sebanding ?

Tidak ada komentar: