Minggu, 09 Agustus 2009

Teganya Media

Beberapa hari lalu dua orang populer meninggalkan dunia. W.S. Rendra dan Mbah Surip meninggal dalam waktu yang berdekatan. Pemakaman Mbah Surip disiarkan langsung, sementara slot untuk W.S. Rendra sudah dihabiskan untuk Noordin M. Top.

Kira-kira berapa gelintir orang yang benar-benar sedih ketika mendengar Mbah Surip meninggal ? ketika Michael Jackson meninggal, jutaan orang menangisinya. Begitu pula ketika Rendra meninggal, setidaknya ribuan orang turut berduka. Lalu, ketika Mbah Surip meninggal, sebenarnya hanya segelintir seniman yang sudah menaruh harapan pada Mbah Surip yang tiba-tiba populer.

Popularitas Mbah Surip adalah harapan bagi segelintir seniman di Gelanggang Remaja Bulungan di Jakarta Selatan atau Pasar Seni Ancol di Jakarta Utara. Dan pantas saja jika beberapa orang dari dua komunitas ini sangat sedih ketika Mbah Surip meninggal tiba-tiba. Harapan yang muncul pun sirna begitu saja. Lalu bukan kematian Mbah Surip yang membuat sedih, tapi sirnanya harapan itu yang ditangisi segelilntir seniman.

Minggu malam (9/8), TV One dengan tega menyandingkan kedua seniman itu. Yang satu, W S Rendra sudah melakukan “seni yang terlibat” sejak puluhan tahun lalu sementara yang lain, Mbah Surip, baru terkenal dua bulan belakangan lewat lagu “Tak Gendhong”. Para presenter membawakan acara dengan serius, mencoba membangkitkan kesedihan. Namun sayang, kematian Mbah Surip sebenarnya hanya membuat sedih beberapa gelintir seniman jalanan benar-benar dekat dengannya. Mereka tentu sudah berharap perubahan nasib ketika Mbah Surip tiba-tiba populer.

Agak disayangkan ketika Putu Wijaya dan Taufik Ismail mau berkontribusi pada acara remeh temeh seperti itu. Keduanya dengan cara berbeda memang mencoba mengenang W.S Rendra secara serius. Dan sesuatu yang pas jika W.S Rendra dikenang dengan serius mengingat kontribusinya yang besar bagi bangsa ini. Tercatat, puluhan sajak dan naskah drama Rendra adalah kritik bagi rejim, sebuah inspirasi bagi jutaan kaum muda.

Yang kemudian patut dipertanyakan, apakah kontribusi Mbah Surip bagi bangsa ini selain lagu “tak gendhong”? perkara Mbah Surip sudah menjadi inspirasi, tentunya hanya bagi segelintir seniman senasib yang ada di Gelanggang Remaja Bulungan atau Pasar Seni Ancol. Bagi saya dan anda, sebenarnya Mbah Surip tak berkontribusi apa-apa kecuali anda atau saya memasang lagu “Tak Gendhong” sebagai RBT.

Atau mungkin perlu dipertanyakan, apakah kontribusi Mbah Surip bagi TV One ? atau apa kontribusi Mbah Surip bagi Karni Ilyas ? belakangan memang hanya TV One aktifitasnya terlihat cukup berlebihan. Sekali, TV One menyiarkan pemakaman Mbah Surip secara langsung. Minggu malam (9/8) TV One kembali menyiarkan acara semacam “tribute to Mbah Surip” tapi kali ini dengan tega, disandingkan dengan W.S Rendra. Dan saya, jelas-jelas tidak rela.

Setelah kematian Mbah Surip, tak hanya media kosong macam TV One yang mencoba mencari konten. Kompas, dengan lebih berisi pun menampilkan beberapa artikel opini tentang kematian Mbah Surip. Alois Nugroho di Kompas (9/8) menuliskan, Mbah Surip adalah “suara lain” dari normalitas kemanusiaan. Suara yang mencemooh masyarakat dimana ia tinggal Lalu suara saya, anda, atau suara Mbah Wagiyem, mantan pembantu di kos-kosan saya itu suara apa ? saya, anda, atau Mbah Wagiyem, jelas cukup sering pula mencemooh masyarakat tempat dimana kita tinggal. Semua orang bisa menjadi “suara lain” namun, konstruksi media memang menjungkir balikkan semuanya. “suara lain”, suara yang diperhitungkan, hanya mereka yang tampil di tivi. Suara yang sudah dikonstruksikan, suara yang kira-kira menarik para pemasang iklan. Jika saya, anda, atau siapapun, tidak memiliki bakat menarik iklan, jelas tidak akan pernah dilirik media, tak akan dilirik untuk dikonstruksi.

Mbah Surip mencapai taraf seperti popularitas yang luar biasa hanya dalam waktu dua bulan setelah “tak gendhong’ dipopulerkan. Hal ini tentunya telah melewati beberapa tahap konstruksi popularitas. Mulanya seorang produser tertarik dengan lagu unik “tak gendhong”. Karena tidak ekonomis jika hanya sebuah lagu yang direkam, lalu demi Mbah Surip pun dipaksa mengeluarkan lagu-lagu aneh lainnya hingga cukuplah menjadi sebuah album. Satu album selesai, sang produser kemudian mengkonstruksikan “tak gendhong’ sebagai single andalan. Karena lucu, semua orang pun memasangnya sebagai RBT.

Dan semua berjalan serba kebetulan. Mbah Surip kebetulan menciptakan lagu “tak gendhon” di waktu senggangnya. Kebetulan pasar musik sedang jenuh dengan lagu melo, menye-menye tentang cinta. Kebetulan seorang produser yang sedang berpikir mencari ceruk pasar lain mendengar lagu “Mbah Surip” diperempatan. Kebetulan Mbah Surip dan Produser tadi mencapai kesepakatan untuk rekaman. Kebetulan pasar yang jenuh merespon dengan baik. Lalu, tiba-tiba saja Mbah Surip menjadi terkenal.

Coba bandingkan dengan serba kebetulan W.S Rendra. Kebetulan Rendra kuliah di Sastra Inggris, UGM, meski tidak tamat. Kebetulan ia menyukai sastra, bisa menyusun kata dan membentuk syair. Kebetulan ia mendapat beasiswa ke Amerika. Kebetulan ia memiliki kesempatan untuk meninkatkan kemampuannya. Kebetulan ia memiliki kepedulian terhadap kaum tertindas. Kebetulan ia berani, bukan pemalu, dan nekat membaca puisi, karena sepertinya tidak mungkin Rendra menyanyi dalam sebuah aksi atau unjuk rasa. Lalu waktu berjalan puluhan tahun, dan Rendra terus menekuni dunianya, dunia syair, kata-kata, drama, aski politik, kritik, dan sejalan dengan itu, ia telah menginspirasi banyak orang.

Serba kebetulan dua tokoh tersebut jelas tak bisa disandingkan. Rendra menginspirasi banyak orang dan Putu Wijaya adalah salah satu hasilnya. Mbah Surip mengispirasi segelintir seniman dan hasilnya adalah “si Jenggot” yang anda dan saya pun tak pernah lihat dan dengar aksinya dimanapun, kecuali ketika diwawancara TV One untuk mengenang Mbah Surip.

Jelas, Mbah Surip sebenarnya bukan siapa-siapa kecuali sekedar pencipta dan penyanyi beberapa lagu termasuk “tak gendhong”. Tapi Rendra adalah seorang penyair yang berani menyuarakan keberpihakannya. Coba bandingkan, ketika suara Amien Rais belum terdengar, pada tahun 70an, Rendra sudah mengkritik Soeharto. Jauh Sebelum Budiman Sudjatmiko populer, Rendra sudah mengkritik Soeharto. Tapi Mbah Surip, pada tahun 80an, bersepeda dari Mojokerto ke Jakarta untuk menantan Ellias Pical. Apakah itu sebanding ?

Rabu, 05 Agustus 2009

The Facebook Economy

Kungfu Pets yang saya hidupi beberapa hari terakhir sudah mencapai titik yang membanggakan. Puluhan barang yang dijual dalam Pets Store sudah saya beli, belasan properti juga sudah saya miliki, ratusan orang sudah saya kalahkan, keuntungan lebih dari satu juta dollar per jam sudah mengalir otomatis ke dalam kantng, dan level 60 pun sudah terlewati.


Untuk mencapai titik yang membanggakan ini, diperlukan konsentrasi dan dedikasi waktu yang tidak sedikit. Dan titik ini, bukanlah titik akhir karena ternyata masih ada puluhan level diatas level saya. “reach level 61 to unlock more training missions” begitu katanya ketika saya sudah mencapai level 60 dengan susah payah. Hal ini tentu sekedar kalimat paksaan agar orang untuk tidak puas dan berhenti pada suatu pencapaian. “find out who’s the best trainer in the world” katanya memancing perkelahian para pengguna. Hal ini tentu untuk memancing keramaian dan “viral effect dari sebuah permainan jejaring sosial.

Level permainan yang tak akan pernah ada ujungnya, dan kejutan-kejutan baru disetiap level memang menantang para pemain untuk terus meningkatkan kemampuan. Lalu, dengan ketagihan seperti ini, ribuan penggua aplikasi Kungfu Pets pun terus berusaha online, kembali dan terus kembali membuka facebook.

Begitulah cerita yang tak mungkin terjadi jika Zuckerberg tidak membuka platform situs jejaring social buatannya kepada pengembang aplikasi pihak ketiga. Loncatan Zuckerberg pada suatu sore di bulan Mei 2004 ini kemudian menjadi titik bersejarah lahirnya sebuah mesin ekonomi baru yang oleh CNN disebut sebagai “the facebook economy”. Sebuah mesin pengumpul uang yang berkedok situs jejaring social.

Delapan bulan kemudian, 14.000 aplikasi sudah terpasang. Aplikasi penting, tak penting, serius, dan main-main sudah terpasang memanjakan pengguna facebook. Aplikasi yang terpasang pada dasarnya adalah aplikasi sederhana yang bisa dibuat oleh beberapa orang kelompok programmer saja. Lihat saja. Scrabulous, game populer mirip Scrable ini dibuat oleh dua orang programmer bersaudara asal India.

Bagi para pengembang, facebook adalah mesin yang telah membangkitkan ekonomi kreatif yang belum pernah ada. Sebelumnya, situs jejaring social selalu tertutup terhadap pengembang pihak ketiga. Keuntungan selalu dimonopoli oleh pemilik situs jejaring sosial. Namun, facebook telah mematahkan kebiasaan kapitalistik macam ini. Hasilnya kemudian adalah lahirnya platform terbuka yang mendulang uang lebih banyak dan menguntungkan lebih banyak orang. Sebelumnya, platform terbuka selalu menjadi momok hilangnya akumulasi keuntungan yang ditakuti oleh para kapitalis digital.

Dengan loncatan besarnya, Zuckerberg telah mengubah Facebook menjadi situs jejaring sosial yang digemari tidak hanya oleh pengguna tetapi juga oleh para pengembang aplikasi. Alhasil, meskipun dengan cara akumulasi modal yang masih primitif melalui iklan, facebook mampu mendulang keuntungan hingga lebih dari $ 300.000 per kuartal di tahun 2004.

Sistem yang dikembangkan oleh Zuckerberg memang memberi kemudahan bagi para programmer bermodal cekak untuk memulai bisnisnya. Mereka bisa dengan mudah memasarkan aplikasinya melalui facebook. aplikasi populer semacam Scrabulous contohnya, merupakan aplikasi sederhana yang dibuat hanya dengan modal kemampuan programming sederhana. Lalu setelah populer game semacam ini pun dibeli oleh kapitalis besar semacam Electronic Arts Inc dan pengembang game besar lainnya.

Suatu kali, Zuckerberg mengutarakan visi dan misinya. “facebook’s priority is growth not profit” katanya suatu kali seperti dikutip Telegraph. Hal ini tentunya menggemaskan mengingat menurut ComScore, sebuah perusahaan riset marketing internet, saat ini facebook sudah bernilai lebih dari $ 15 juta. Sementara itu, demi 1,6 persen kepemilikan, Microsoft pun rela menggelontorkan dana segar $ 240 juta kepada Zuckerberg.

Dengan prioritas seperti itu, Zuckerberg memang sejauh ini masih mengarahkan facebook sebagai situs jejaring sosial yang non profit. Namun, platform-nya yang terbuka tak dapat dipungkiri telah menggerakkan jutaan dollar uang bagi kehidupan para pengembang aplikasi.

Sebenarnya, jutaan dollar tidak hanya bergerak menghidupkan para pengembang aplikasi. Bisnis penyedia jaringan internet (ISP) pun terkena imbasnya. Kira-kira sudah tak terhitung jumlah penggemar facebook yang relah merogoh koceknya lebih dalam untuk memasang jaringan internet ‘dedicated’ di rumah. Tujuannya sederhanya, hanya untuk mempermudah akses facebook setiap saat.

Para penjual handphone pun kebanjiran pesanan. Ribuan orang telah rela mengganti handphone kesayangannya yang monokrom dengan model warna-warni berteknologi lebih maju. Beberapa bermigrasi ke 3 G, yang berdana cekak masih memilih teknologi GPRS. Tujuannya jelas, untuk mempermudah akses facebook secara mobile.

Zuckerberg pun mengakui, akses facebook terbesar adalah melalui gadget mobile. Pertumbuhan terbesar tahun lalu disumbang oleh meningkatnya pengakses mobile. Lalu kini, di mall-mall dapat semakin mudah ditemui orang-orang yang berkonsentrasi memelototi handphone demi membaca huruf-huruf kecil tampilan facebook di layar sempit handphone masing-masing.

Dan begitulah sebuah mesin ekonomi masa kini bergerak dengan platform terbuka yang mampu menjaring lebih banyak pengguna. Lalu ketika pengguna ketagihan berbagai aplikasi yang secara liberal dan masiv terpasang, mereka pun menjadi pengguna setia. Efek viral pun semakin menggelembungkan jumlah pengguna. Akhirnya, jutaan dollar berberak tak hanya diantara pengembang aplikasi, tetapi juga diantara para penyedia jasa jaringan internet hingga penyedia hardware penunjang. Lalu apa lagi setelah facebook ?

Jumat, 17 Juli 2009

Bom Tanpa Pesan, Dan Dua Hotel Internasional

Dua bom meledak dan menggemparkan Indonesia (16/7). Sebuah tim sepakbola dunia, Manchester United pun membatalkan turnya ke Indonesia. Dua Bom meluluhlantakkan dua hotel internasional berbintang lima, Ritz Carlton dan J.W. Marriott.

Beberapa tiga kali Marriott pernah mengalami insiden ledakan. Tercatat di Indonesia, J.W. Marriott pernah dua kali dibom pada tahun 2003 dan 2009. Sementara itu, di Islamabad, hotel ini dibom pada tahun 2008.

Beberapa analis keamanan dan terorisme mengungkapkan bahwa ikon-ikon Amerika memang sering menjadi sasaran para teroris. Selain jaringan yang mengglobal memang menciptakan efek publisitas yang bisa didapatkan dengan pengeboman hotel melati biasa, serangan terhadap ikon-ikon Amerika tersebut memang dinilai dapat mengirimkan pesan teror dengan efisien.

Sebagai ikon Amerika, Marriott menjadi salah satu pilar imperialisme ekonomi Amerika. Majalah Forbes pun mengaitkan laba Marriott sebagai salah satu indikator bagi makroekonomi Amerika.

Majalah Forbes melaporkan laba perusahaan penginapan Marriott yang mencapai $ 6,6 miliar di kuarter kedua tahun 2009. Secara internasional, seperti diberitakan washington post, laba Marriott ini mengalami penurunan 76 persen dari laba kuarter sebelumnya. Namun di Amerika, laba ini diperkuat dengan fakta bahwa terjadi pertumbuhan tingkat hunian meski masih bertumbuh satu digit.

Beberapa analis menilai pertumbuhan tingkat hunian di New York ini dapat menjadi dasar bagi prediksi kondisi makroekonomi Amerika yang menguat. Hal ini didasari pada fakta pertumbuhan konsumsi waktu luang di Amerika yang dapat diartikan sebagai terjadinya perbaikan tingkat kesejahteraan individu yang mendorong konsumsi salah satunya pada konsumsi untuk jasa dan industri waktu luang termasuk konsumsi hiburan dan penginapan. Joseph Greff, analis JP Morgan, seperti dikutip Forbes (15/7) membenarkan fakta bahwa tingkat hunian di New York yang tumbuh satu digit belakangan ini. b

Dua hotel internasional yang menjadi sasaran peledakan di Jakarta, Ritz Carlton dan J.W. Marriott adalah perusahaan internasional yang sudah memulai usahanya sejak 1920an. Keduanya tumbuh mengglobal bersama gelembung ekonomi Amerika paska perang dunia pertama.

Marriott Internasional Inc adalah perusahaan franchise Internasional yang bergerak di bidang perhotelan dan resort. J. Willard Marriott, seorang mantan misionaris Mormon yang kemudian membuka kedai root beer adalah pendiri perusahaan penginapan franchise ini.

Awalnya, J. W. Marriott bersama dengan istrinya, Alice, membuka kedai root beer pertama di Whasington D.C pada tahun 1927. belakangan bisnis bertumbuh sangat cepat. Dibawah J.W (Bill) Marriott, bisnis penginapan keluarga Marriott ini mencapai puncaknya.

Pada tahun 1995 Marriott membeli 49 persen kepemilikan hotel Ritz Carlton-Hotel Company LLC. Investasi awal Marriott dalam akuisisi tersebut diperkirakan mencapai $ 200 juta. Tahun berikutnya, Marriott menggelontorkan dana segar mencapai $330 juta untuk membeli Ritz Carlton Atalanta. Selanjutnya, Ritz Carlton pun menjadi anak perusahaan Marriott International Inc.

Ritz Carlton yang belakangan dibeli Marriott adalah perusahaan hotel dan resort mewah dengan 70 properti yang terletak di kota-kota besar di 23 negara. Ritz Carlton didirikan pada tahun 1927 di Boston, Amerika Serikat, jauh sebelum Marriott memulai usaha hotelnya. Tercatat, 32.000 pekerja diperkerjakan di perusahaan ini.

Kedua hotel berbintang lima ini memang menjadi langganan turis asing khususnya turus Amerika dan Eropa. Tidak hanya di Indonesia, tren ini juga terjadi di beberapa negara lain. Hal ini tak mengherankan mengingat fasilitas bintang lima yang berstandar internasional memang sudah tak diragukan lagi.

Dengan fasilitas mewahnya, hotel yang biasa terletak di daerah strategis pusat kota ini kemudian menjadi favorit para bos besar. Di Jakarta, Ritz Carlton dan Marriott terletak di Mega Kuningan, sebuah lokasi paling strategis di Jakarta. Beberapa perusahaan besar baik asing maupun dalam negeri berkantor didaerah ini. Beberapa kantor-kantor kedutaan pun ada didaerah ini. Dengan letak yang sangat strategis tersebut maka tak jarang meeting dan lobi-lobi bisnis terjadi di kedua hotel tersebut.

Rencananya, tim papan atas Eropa, Manchester United akan menginap di Hotel Ritz Carlton untuk beberapa hari selama turnya di Jakarta. Tim Indonesia all star pun sudah mulai menginap di J.W, Marriott sebelum menghadapi setan merah. Beruntung, tim Indonesia sudah meninggalkan hotel untuk berlatih, beberapa menit sebelum ledakan terjadi. Namun malang, setan merah yang rencananya baru tiba di Indonesia malam ini urung datang ke Indonesia.

Teroris yang sampai saat ini belum mengaku bertanggung jawab dan menyampaikan pesan terornya secara langsung memang telah berhasil menembus sistem keamanan dua hotel internasional ini. pengalaman pengeboman beberapa kali sebenarnya telah memberi pelajaran pada Marriott dan Ritz Carlton untuk meningkatkan keamanan hotel mereka.

Namun, teroris memang selalu mau belajar. Sistem keamanan dua hotel internasional yang dinilai terketat di Indonesia telah ditembus. Kini puing-puing sisa ledakan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan tidak hanya oleh pemerintah Indonesia tetapi juga ikon-ikon Amerika lain yang munkin akan menjadi sasaran teror. ni56pa98kx

Rabu, 01 Juli 2009

Berapa Gajimu?

Hari ini Pepih Nugraha, seorang wartawan Kompas menuliskan laporannya tentang peluncuran sebuah situs gaji. Nama situsnya, gajimu.com. situs non-profit ini berafiliasi dengan The WageIndicator Foundation dan rubrik perempuan Kompas.

Situs baru tersebut memang membuat penasaran. Apalagi jika melihat afiliasi dibelakang situs non-profit tersebut. Laporan yang didedikasikan oleh Pepih Nugraha di Kompasiana pun semakin menambah penasaran. Pepih Nugraha melaporkan bagaimana peluncuran situs tersebut dilaksanakan di Pisa Cafe dengan dihadiri beberapa selebritis seperti Shahnaz Haque, Santi Manuhutu, dan Anya Dwinov sebagai host.

Dengan penasaran, lalu situs tersebut saya kunjungi. Sekilas memang situs tersebut menawarkan konten yang tampak menarik, sebuah situs yang menawarkan informasi perbandingan gaji pekerja. Ketika dicek, ternyata konten andalan situs ini, yaitu konten survey gaji masih belum berjalan dengan baik. Ketika dicoba, konten tersebut tidak berhasil menampilkan data. Konten lain di situs gajimu.com pun masih belum optimal. Beberapa konten tampak menampilkan data-data gaji tahun 2007.

Situs ini berafiliasi dengan The WageIndicator Foundation, sebuah lembaga non profit Internasional yang mengerjakan proyek pertamanya di Belanda dengan situs Loonwijzer.nl. Di Indonesia, proyek tersebut diteruskan dengan sebuah situs bernama gajimu.com.

Di Belanda, Yayasan Loonwijzer merupakan inisiatif bersama FNV (serikat datang Belanda), University of Amsterdam / AIAS (Institute of Labour Studies) dan situs karir Belanda, Monsterboard. Beberapa lembaga tersebut kemudian membentuk dewan pengawas dan menjalankan proyek The WageIndicator Foundation.

Terlepas dari konten yang belum terlalu siap dan acara peluncuran yang kelewat mantap seperti dilaporkan oleh Pepih Nugraha, masa depan proyek ini tampak cukup menjanjikan. Indikator upah yang ditawarkan dan jaringan global yang sedang dibangun akan menajadi salah satu keuntungan bagi kelas pekerja untuk tidak terlalu didikte oleh pembuat kebijakan upah minimum.

Selama ini, upah minimum adalah instrumen negara untuk menarik investor. Semakin kecil upah minimum, investor akan semakin tertarik dengan efisiensi biaya produksi yang ditawarkan. Namun, tak dapat disangkal bahwa perselingkuhan antara negara dengan kapital akan merugikan kelas pekerja domesktik. Lihat saja, ketika demi investor negara menurunkan standar gaji minimum, maka pekerja pun akan dirugikan.

Informasi upah selama ini memang minim. Beberapa kelompok kepentingan seperti serikat-serikat buruh tak dapat dipungkiri memang kesulitan menyuarakan kepentingannya terkait dengan upah dan kesejahteraan mereka. Kedepan, ketika indikator upah yang dijalankan oleh The WageIndicator Foundation terbagun dengan baik, serikat-serikat pekerja dan kelompok-kelompok kepentingan dapat menyusun berbagai kepentingannya terkait dengan upah dan kesejahteraan berdasarkan indikator upah global.

Bagi individu, indikator upah ini nantinya memang bisa menjadi salah satu referensi kenaikan gaji. Terbatasnya informasi tentang gaji memang membuat pekerja kadang terkungkung dalam skema gaji yang kadang merugikan. Dengan informasi dan referensi yang ditawarkan situs gajimu.com, maka keterbatasan informasi ini dapat di atasi. Individu dan serikat pekerja pun dapat bersuara lantang ketika gaji mereka berada dibawah indikator upah global.

Namun, mengingat usianya di Indonesia yang baru sehari, maka berbagai kekurangan memang bisa dimaklumi. Minimal, keseriusan proyek ini di Indonesia bisa kita lihat dari acara peluncuran yang tampak bonafid seperti yang dilaporkan oleh Pepih Nugraha. Maka, inilah konten baru yang patut kita tunggu.

Minggu, 31 Mei 2009

Hercules dan Securitization

Beberapa waktu lalu sebuah Hercules tua jatuh di Magetan membawa hampir 140 nyawa. Sampai-sampai Adjie Suradji pun mengibaratkan Hercules sebagai peti mati terbang (Kompas, 27 Mei 2009). Arah pembicaraan dengan latar belakang peti mati terbang kemudian bisa ditebak.

Setiap kali terjadi kecelakaan militer, selalu saja anggaran pertahanan menjadi perhatian. Logika yang dibangun, anggaran pertahanan yang kecil akan berakibat pada perawatan dan pengadaan alutista. Beberapa kecelakaan armada militer kemudian disebut-sebut sebagai efek anggaran minimal bagi perawatan alutista.

Jika dirunut kebelakang, sudah tak terhitung lagi kecelakaan militer yang disebabkan karena ketidaksiapan armada. Di tahun 2009 saja sudah ada 3 kecelakaan pesawat militer. 72 nyawa prajurit melayang, belum lagi ditambah nyawa sipil yang sama-sama berharga.

Wacana pertahanan pun kemudian mengemuka. Mulai dari reformasi TNI, reformasi pertahanan hingga anggaran semakin ramai dibicarakan. Belakangan kapal perang malaysia yang mondar-mandir pun kembali dibicarakan. Malaysia disebut-sebut melecehkan kedaulatan negara.

Arahnya kemudian semakin jelas, securitization dalam ranah tradisionalis (Buzan, 2007). Meskipun baru dalam tahap wacana, atau meminjam istilah Weaver, securitizing move, jelas securitisasi adalah hal yang bisa jadi membahayakan demokrasi yang sudah dibangun sepuluh tahun terakhir. Wacananya, sudah dibangun bahwa negara sebagai referent obect akan terancam. Yang paling mungkin mengancam adalah negara tetangga dalam kawasan. Maka kemudian isu blok ambalat pun dihidupkan lagi.

Dalam perspektif tradisional, negara sudah jelas menjadi referen object. Namun yang kemudian menjadi agak kabur adalah jejaring konstruktor ancaman. Para aktor yang membangun logika ancaman telah membentuk jejaring yang sulit ditebak secara individual. Jaringannya jelas ketika media massa, para perwira, hingga beberapa gelintir akademisi termasuk orang-orang LIPI mulai berbicara soal pertahanan dan anggaran di berbagai media memanfaatkan jatuhnya Hercules.

Media massa dengan kepentingan dan keberpihakannya memang menjadi jalur transmisi gagasan yang paling utama. Kepentingan media saling bertemu dalam keseimbangan dengan kepentingan para aktor. Maka kemudian wacana-wacana pertahanan pun bisa ditampilkan sebagai headline dan memenuhi sebagian besar ruang dalam media.

Media massa berkepentingan mengkonstruksikan derajat kepublikan. Maka kemudian beberapa gelintir orang pun dikaburkan agar wacana pertahanan bukan lagi menjadi wacana segelintir orang tetapi menjadi pendapat umum. Jejaring Aktor-aktor individu memang perlu dikaburkan ketika media massa mencoba memproduksi opini publik karena derajat kekaburan yang selalu berbanding lurus dengan derajat kepublikan. Semakin individu tak terlihat, maka apa yang dibangun media massa menjadi semakin terlihat sebagai opini publik. Kemudian, media massa pun laku di pasaran. Sebagai ciri negara yang sudah punya sedikit sense berdemokrasi, maka kaburnya securitizing aktor yang mengkonstruksi ancaman menjadi hal biasa.

Dasar opini pertahanan memang bermacam-macam. Ada yang beropini secara emosional karena kehilangan teman, ada yang emosional karena hidup dalam lingkungan peti mati terbang, atau ada pula yang beropini berapi-api mencoba menampilkan nasionalisme. Namun satu benang merah diantara opini-opini dalam media massa tersebut adalah logika money follows security. Semakin banyak anggaran pertahanan, maka negara semakin aman.

TNI jelas akan menjadi insitusi yang paling diuntungkan jika securitizing move naik kelas menjadi securitization. Seperti mendapatkan durian runtuh, bisa saja tiba-tiba anggaran pertahanan dinaikkan dengan mengorbankan anggaran lain. Bisa saja tiba-tiba anggaran pendidikan yang sudah 20 persen dipotong demi pertahanan. Alurnya jelas kemudian hak pendidikan anak-anak Indonesia menjadi terancam.

Securitisasi perlu diwaspadai karena sifatnya yang beyond politic. Bisa saja demokrasi kemudian tercederai karena sifat dasar sekuritisasi selalu mendobrak rule of game. Rule of game demokrasi yang sudah dibangun selama sepuluh tahun terakhir bisa saja didobrak untuk menaikkan anggaran secara instan. Alasannya, negara sedang terancam.

Mungkin perlu diingat bagaimana Soekarno melakukan sekuritisasi untuk merebut Irian Barat dan melawan negara boneka Malaysia. Rule of game demokrasi yang rapuh pada masa Orde Lama menjadi semakin parah ketika anggaran pertahanan dinaikkan dengan mengabaikan hak sipil, politik, dan ekosob warga negara. Alhasil, hutang menumpuk, dan rakyat kelaparan tanpa pendidikan, demi memuaskan hasrat berperang para pemimpin. Memang TNI kemudian menjadi salah satu yang terkuat di Asia waktu itu, tapi sayangnya, sektor sekuriti non-tradisional menjadi diabaikan.

Entah kebetulan atau direncanakan, belakangan Wacana Blok Ambalat kembali hidup bersamaan dengan jatuhnya Hercules. Isu ambalat hidup dengan latar belakang pelanggaran batas negara oleh kapal perang Malaysia. Janggal karena, seperti diakui Petinggi Angkatan Laut, hal ini sudah biasa terjadi tetapi baru kali ini dipublikasikan setelah sejak 2005 lalu isu ambalat hilang dari peredaran. Bisa jadi, isu blok ambalat dihidupkan lagi untuk semakin menonjokan urgensi sekuriti.

Sejauh ini, wacana masih ada dalam tahap securitizing move. Presiden dan Menteri Pertahanan sebagai aktor fungsional pun masih bersikukuh bahwa tidak ada yang salah dengan anggaran. Alhasil, kenaikan anggaran pertahanan belum menjadi panic policy. Namun yang kemudian mengkhawatirkan, isu seperti ini akan menjadi barang dagangan para capres. Hidden agendanya, menggaet dukungan TNI yang sudah berkomitmen netral.

Satu-dua capres memang sudah mulai menjanjikan kenaikan anggaran pertahanan. TNI dengan pilihan rasionalnya pun bisa saja memilih untuk berpihak. Maka kemudian yang perlu kita lakukan adalah berdoa agar securitizing move tak menjadi securitization.

Senin, 27 April 2009

Ekonomi Politik Ujian Nasional

Ujian Nasional memang salah satu kontroversi populer dalam dunia pendidikan Indonesia. Namun siapa sangka sisi ekonomi-politiknya lebih menyenangkan?

Proyek Ujian Nasional (UN) sebenarnya mulai dijalankan sejak tahun 2003 dengan nama Ujian Akhir Nasional (UAN). Entah apa bedanya, belakangan UAN diganti nama menjadi UN. Proyek ini bukanlah proyek baru. Sebelumnya proyek semacam ini juga pernah dijalankan dengan nama Ebtanas yang populer pada dekade 90an. Dekade ini, UN adalah bintangnya.

Kontroversi multidimensi muncul mulai dari segi pedagogis, hingga fundamental formulasi kebijakan. Beberapa orang mengkritik Ujian Nasional karena kaidah formulasi kebijakan yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Beberapa mengeluh karena sosialisasi dan fondasi pelaksanaan mulai dari kualitas pendidikan hingga moral dinilai rapuh. Sosialisasi minimal pun juga awalnya dikeluhkan.

Kontroversi tak berhenti. Kontroversi lain mulai bergerak ke ranah pedagogis. Beberapa mengkritik Ujian Nasional yang mencederai semangat intelektualitas dan mereduksinya dalam angka-angka.

UN memang menjadi tolok ukur standarisai produk pendidikan. Kualitas pendidikan dan hasilnya kemudian dilihat dari angka-angka sertifikat hasil UN. Namun siapa sangka proyek ini telah menciptakan lapangan kerja, dan menggalirkan uang dari siswa dan orang tua yang nervous menghadapi UN.

Belakangan bersamaan dengan semakin populernya UN, mulai muncul lembaga-lembaga bimbingan belajar. Lembaga-lembaga ini awalnya pada dekade 80an, sekedar bertujuan membantu anak-anak sekolah untuk mengejar ketertinggalannya di sekolah. Namun belakangan lembaga-lembaga ini malah mengkooptasi peran sekolah dalam mendidik anak. Lihat saja ketika beberapa sekolah lebih mempercayakan persiapan UN anak didiknya pada lembaga bimbingan belajar swasta.

Pertama kali, tren lembaga bimbingan belajar dimulai oleh Primagama. Lembaga ini didirikan sejak 1982 oleh Purdy E. Chandra dan kawan-kawan di Yogykarata. persaingan semakin seru namun belakangan, Primagama dengan anak-anak usahanya muncul sebagai lembaga bimbingan belajar paling besar di Indonesia. Entah berapa miliar rupiah sudah bisa diputar lembaga-lembaga ini dan berapa ribu pekerja terkena cipratannya. Yang jelas bisnis bimbingan belajar memang semakin menggiurkan seiring dengan semakin menegangkannya Ujian Nasional.

Beberapa tahun kemudian, Ganesha Operation didirikan di Bandung tahun 1984. lembaga ini mengklaim memiliki 60.000 siswa, dan 6000 diantaranya berhasil menembut PTN. Bandingkan saja dengan jumlah yang diklaim Primagama yang mencapai 350.000 di 83 kota.

Primagama dan Ganesha Operation bukan satu-dua pemain utama. Dibelakangnya masih ada puluhan bimbingan belajar lain yang berebut ceruk pasar. Sebut saja Sony Sugema College, Neutron Yogyakarta, SSC Intersolusi, Bulaksumur Association (BSA), hingga Kumon. Beberapa lembaga tersebut menjalankan model bisnis franchise seperti Primagama, pendahulu mereka.

Selain lembaga bimbingan belajar franchise yang sudah menyebar dipuluhan kota di Indonesia, muncul juga lembaga-lembaga lokal yang ikut memperebutkan ceruk pasar. Meskipun berskala rumah tangga, para pemain lokal biasanya menjangkau pasar yang tak terjangkau lembaga franchise. Sebut saja Nurul Fikri, Widodo Course, Aktif Course, hingga Bu Supri yang paling terkenal di Temanggung, yang merupakan puncak gunung es, sementara ribuan bahkan jutaan lainnya ada dibawah air.

Mendirikan lembaga bimbingan belajar memang terlalu mudah. Hanya perlu syarat legal formal sebuah yayasan dan sekedar diketahui sub dinas pendidikan luar sekolah. Total biaya pun tak lebih dari Rp. 1 juta untuk sekedar ijin dan syarat legal formal. Namun legal formal bukanlah syarat mutlak. Beberapa pemain lokal sekedar membuka ruang tamu rumah mereka untuk memancing murid-murid yang mulai nervous menghadai UN.

Diluar lembaga-lembaga bimbingan belajar itu, produsen alat tulis juga terkena cipratan bisnis UN. Paling tidak, untuk produsen pensil 2 B dan penghapusnya, bisnis menjadi sangat menguntungkan. Tahun 1998 saja nilai impor alat tulis termasul pensil 2 B dan penghapusnya mencapai 5,9 juta dolar. Sementara tahun 2008 nilai tersebut diperkirakan meningkat tajam mengingat UN yang semakin populer.

Melihat sistem koreksi yang digunakan. Pencil 2 B menjadi produk populer menjelang UN. Setidaknya hampir 6 juta perserta UN SMP dan SMA menggunakan pensil jenis ini. Peta pensil menunjukkan bahwa 60 persen memakai pensil kayu 2 B, sisanya memakai pensil mekanik. Namun pemain utama bisnis ini tetap dipegang oleh Faber Castell dan Staedler.

Strategi kedua perusahaan ini belakangan makin canggih. Lihat saja di pasar, akan dengan mudah ditemui paket-paket ujian dengan kisaran harga antara Rp. 5000 hingga Rp. 15.000. Meski produk eceran lebih murah, tawaran paket yang dikemas menarik memang kadang lebih menggiurkan bagi jutaan peserta UN.

Berkah UN tak berhenti pada pemain bimbingan belajar dan produsen pensil 2B. setidaknya para pengawas juga terkena imbasnya. Lihat saja anggaran UN tahun ini yang mencapai Rp. 439 miliar. 296 miliar dialokasikan untuk eksekusi UN SMP dan SMA, sementar anggaran UASBN SD mencapai 50,5 Miliar. Dana sebesar itu jelas jadi obyek bancakan bagi bagi pemain tetek bengek percetakan, distributor, penjaga soal, hingga pengawas ujian.

Pemerintah melansir data dilibatkannya lebih dari sejuta tim pengawas. Untuk tim independen dilaporkan mencapai 55 ribu dari perguruan tinggi. Sementara sebanyak 1 juta orang menjadi pengawas ruangan dari sekolah pelaksana. Jutaan pengawas tersebut tentu saja tidak bekerja Cuma-Cuma. Jelas mereka kena cipratan anggaran negara.

Dibalik kontroversi multidemensi yang melingkupi UN, paling tidak sisi ekonomi politik memang tetap menggiurkan. Tak heran pemerintah ngotot mempertahankan proyek ini.

Minggu, 26 April 2009

Penguasa Dan Kartini

Tanggal 21 April adalah hari Kartini. Namun beberapa orang lebih sibuk menyiapkan Kebaya yang akan dipakainya esok hari daripada mengingat sosok Kartini. Munkinkah sekarang saatnya merayakan hari Kebaya, bukan lagi hari Kartini ?

Awalnya Kartini hanya menulis surat kepada kawan penjajahnya. Namun sejarah berkata lain ketika penguasa mencatatkannya sebagai salah seorang pahlawan. Hari lahirnya pun dipaksakan untuk diperingati dengan segala simbol-simbol perayaan. Sekarang simbol yang masih tersisa hanyalah Kebaya.

Siapakah Kartini? Kartini adalah anak kelima RM Adipati Ario Sosrodiningrat, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Ngasirah, ibunya adalah jelata anak kiyai dari Jepara. Sesuai aturan penjajah, demi menjadi Bupati, Sosrodiningrat harus mendua dan menikah lagi dengan seorang bangsawan lain. R.A. Woerjan keturunan raja Madura kemudian menjadi istri baru Sosrodiningrat.

Dengan segala privilege yang dimilikinya sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menikmati bonus pendidikan pribumi rasa Belanda. Di sekolah penjajah ia belajar bahasa Belanda dan kultur lainnya hingga ia dipingit pada usia 12 tahun. Jika sekedar belajar bahasa, maka layaknya orang belajar bahasa pada jaman sekarang, menulis surat adalah salah satu sarana mempraktikkan bahasa yang ia pelajari.
Sebagai anak bangsawan, Kartini dengan mudah menemukan kawan penjajah native yang dapat diajaknya menjadi sahabat pena. Dan secara kebetulan, Kartini mendapatkan Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Belanda yang juga teman ayahnya, sebagai sahabat pena. Abendanon, entah dalam proyek politik etisnya atau tidak, memang pernah berkunjung ke Jepara. Belakangan, bersama dengan Van Deventer, Abendanon juga dikenal sebagai tokoh politik etis.

Bahasa ternyata telah membuka pertemuan Kartini dengan pemikiran baru dari Barat. Sebelum usianya yang ke 20 Kartini sudah membaca banyak ide barat dari majalah, buku, roman, dan surat kabar. Banyak ide masuk dikepalanya tak terkecuali ide feminisme gelombang pertama yang tercatat di surat kabar dan roman. Tulisannya pun pernah dimuat dalam beberapa surat kabar dan majalah berbahasa Belanda. Namun ia tak pernah menerbitkan buku kecuali kumpulan surat "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang diterbitkan sahabat pena-nya setelah ia meninggal.

Kartini bertemu dengan pemikiran Politik Etis dan Feminisme yang sedang berkembang di Belanda. Maka tak heran kemudian surat-surat kepada kawan penjajahnya adalah pemikiran dan keluh kesahnya tentang ketimpangan pendidikan pribumi khususnya pribumi perempuan. Politik etis sendiri adalah buah kegagalan Belanda menanggung kerugian korupsi dan bengkaknya anggaran perang. Diponegoro adalah salah satu biangnya ketika perang panjang yang diorganisirnya memaksa penjajah untuk mengeluarkan banyak uang.

Kemudian edukasi pribumi adalah salah satu solusi pekerja murah. Sebagai perbandingan, seorang profesional belanda harus digaji 75 gulden, sementara pribumi terdidik hanya perlu dasi, kursi, dan gaji seperlima gaji orang belanda. Entah etis atau tidak, Politik Etis kemudian menjadi projek modern penjajah di Hindia Belanda, setelah sebelumnya kerja rodi telah mengakibatkan jutaan rakyat jelata terbunuh.

Dan Kartini tidak melakukan hal-hal signifikan sampai akhirnya mati setelah melahirkan anak pertamanya pada 17 September 1904, selain berkirim curhat pada kawannya. Ia memang pernah mengorganisir sekolah kaum wanita untuk tetangga sekampungnya, namun itu sekedar kegiatan mengisi waktu luang selama dipingit.

Sejarah kemudian berkata lain ketika ternyata kawan sahabat pena di negeri asalnya adalah pendukung politik etis. Kartini pun dipinjam sebagai ikon. Surat-surat dari Kartini, ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, kemudian menjadi prawacana Politik Etis yang berhasil berhasil memancing belas kasihan orang-orang Belanda di negerinya.

Kartini tidak mengorganisir perlawanan, adalah salah satu faktor yang membedakannya dengan pahlawan wanita lainnya. Ketimbang pejuang wanita pribumi lainnya seperti Cut Nyak Dien, Christina Matha Tiahahu, Dewi Sartika, dan Siti Aisyah Wie Tienrolle yang memilih jalan perlawanan. Gerakan mereka lebih jelas terlihat namun sayang gerakan itu menyedot anggaran perang penjajah. Maka jadilah Kartini, ikon politik etis karena bagaimanapun juga Politik Etis adalah politik belas kasihan.

Gelombang politik etis pun menguat sampai akhirnya keluarga Van Deventer mendirikan Sekolah Kartini pada tahun 1912, beberapa tahun setelah Kartini meninggal. Sekolah didirikan di beberapa kota di Hindia Belanda seperti di Malang Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Namun sejarah tidak mencatat kelanjutan sekolah itu.

Rakyat Indonesia sepertinya harus berterima kasih pada Politik Etis dan para pencetusnya. Karena politik etis dikemudian hari memunculkan tokoh penting pendiri bangsa. Ide Barat telah menciptakan ke-Indonesia-an. Dan ide itu pula yang membangkitkan Indonesia dari penjajahan. Setidaknya, produk-produk Politik Etis adalah orang-orang yang ingin negaranya bebas merdeka. Maka kemudian munculah Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan beberapa tokoh produk politik etis lainnya.

Selang beberapa puluh tahun kemudian, Indonesia merdeka dengan gerakan-gerakan yang diorganisir produk-produk politik etis. Entah bagaimana ceritanya kemudian Presiden Soekarno, presiden seumur hidup itu menetapkan Kartini sebagai pahlawan dengan Kepres No 108 Tahun 1964 pada tanggal 2 mei 1964. Keppres sekaligus menetapkan tanggal 21 April sebagai hari kartini.

Entah apapula hubungan Soekarno, Gerwani, dan Kartini. Yang jelas, Gerwani menerbitkan majalah Api Kartini dan Berita Gerwani sebagai media agitasi dan propaganda feminisme. Api Kartini menunjukkan cara Gerwani meminjam nama Kartini atas nama perjuangan wanita. Selain itu, faktanya gelombang feminisme global juga menguat sejak tahun 1960an menjelang Soekarno mengeluarkan Keppresnya tentang Kartini. "Gerwani semakin diperhitungkan dalam percaturan politik Orde Lama sebagai oganisasi feminis di tanah air", kata Saskia Wieringa dalam disertasinya ketika menggambarkan posisi Gerwani. Dan memang gnggotanya yang mencapai 650.000 wanita pada tahun 1957 sudah cukup menggiurkan untuk ditarik sebagai tambahan mesin politik.

Gerwis adalah cikal bakal Gerwani. Awalnya didirikan sekitar tahun 1950an dan 650.000 wanita sudah menjadi anggotanya pada tahun 1957. Sementara ketika dilikuidasi pada tahun 1965/66 akibat G/30/S, Gerwani sudah berkekuatan 1,5 juta wanita Indonesia. Feminisme memang dekat dengan gerakan kiri. Maka tak heran jika Gerwani kemudian semakin dekat dengan PKI, bahkan dianggap sebagai organisasi massa bentukan PKI.

Entah benar atau tidak, bisa jadi tanggal 21 April adalah hadiah Soekarno pada Gerwani yang semakin kuat menjadi suporter Soekarno disamping PKI. Efeknya, Feminisme di Indonesia pun semakin diakui sejak adanya hari Kartini. Namun kedekatan Gerwani dengan PKI mematikan gerakan feminisme yang sudah semakin kuat. Beberapa analis menyayangkan kedekatan yang mengaburkan perjuangan feminisme dan menjerumuskan Gerwani dalam kudeta yang gagal. Dapat dipastikan jika Gerwani tak ikut dilikuidasi paska G/30/S, mainstraiming gender tak perlu lagi jadi tren baru dalam perpolitikan reformasi.

Siapapun Kartini, surat-suratnya adalah jalan pertama menuju sebuah roman politik yang berkepanjangan. Melalui surat-surat itu, Kartini dipinjam sebagai ikon Politik Etis. Politik Etis membuka peluang bagi ke-Indonesia-an untuk merdeka. Belakangan, dalam konteks Feminisme yang menguat pada tahun 1960an, dan Kartini lagi-lagi dipinjam penguasa untuk menggaet Gerwani sebagai mesin politik.

Di kemudian hari, Kartini menjadi lambang gerakan emansipasi wanita. Dan kebaya mungkin akan menjadi satu-satunya simbol yang masih melekat pada hari Kartini. "Meskipun Kartini hanya lambang, nilai yang diperjuangkan harus dikembangkan" kata Harsja Bachtiar. Maka, membawa surat Kartini pada kekinian atau membawa perjuangan wanita sebatas surat Kartini, menjadi sudah tak relevan lagi ketika wanita terdidik sudah semakin banyak. lalu sekarang apa lagi ? apakah berhenti pada 30 persen kursi di parlemen ?



Senin, 20 April 2009

Hemat (Tidak) Pangkal Kaya

Krisis ekonomi yang bekangan terjadi mengingatkan kembali pada depresi besar yang terjadi 70 tahun lalu. Ditengah depresi, munculah John Maynard Keynes dengan teori-teori yang dulu diragukan keberhasilannya. 70 tahun berlalu, dan sekarang semua orang sudah menjadi keynesian.

Seorang pengajar ternama di Universitas Cambridge, katanya pintar mencari peluang, kolektor barang antik, pemikir kelompok Bloomsbury, pemilik sebuah perusahaan asuransi, suami seorang ballerina, dan terakhir menjadi direktur Bank of London, adalah sedikit informasi tentang Keynes. Ia merasa kemampuan matematikanya lebih baik ketimbang kemampuan ekonominya. Bertrand Russel pun menyegani kemampuan itu. Namun apa daya ia lebih banyak berkecimpung dalam dunia ekonomi dan dikenal karena dunia itu.

Di Cambridge, Inggris tahun 1883, Keynes lahir dengan privilege kelas menengah inggris. Ayahnya, John Neville Keynes, adalah seorang ekonom ternama dan menduduki posisi administratif penting di Universitas Cambridge. Sementara ibunya, Florence Ada Keynes, termasuk menjadi salah satu wanita pertama dapat menembus patriarki Universitas Cambridge dan terakhir menjadi walikota Cambridge. Semua privilege yang melekat membuatnya dengan mudah menikmati pendidikan terbaik dan dengan mudah pula menduduki posisi-posisi penting dalam hidupnya.

Keynes lahir bersamaan dengan matinya Marx tahun 1883. Dan siapa sangka 40 tahun kemudian, Keynes menjadi penyelamat Kapitalisme ketika depresi besar mengguncang dunia. Hampir ekonom pesimis bahwa depresi dapat diatasi, ide Marx hampir bangkit dari kubur, dan Kapitalisme hampir mati karena kontradiksi yang ada didalamnya, seperti yang digembar-gemborkan Marx setengah abad sebelum depresi terjadi. “Keynes adalah juru selamat Kapitalisme” kata Robert B. Reich, seorang profesor ekonomi dalam tulisannya di majalah Times.

Sebelum terlalu terkenal, pada tahun 1915 Keynes menjadi salah satu birokrat departemen keuangan Inggris yang dikemudian hari ditinggalkannya untuk kembali ke Cambridge dan mengajar ekonomi. Setelah menghegemoni ekonomi dunia selama 150 tahun, atau sejak kapitalisme lahir, ekonomi Inggris untuk pertama kalinya morat-marit akibat perang dunia pertama. Keynes dipanggil masuk dalam departemen keuangan, dan ia pun ikut terlibat dalam beberapa negosiasi-negosiasi paska perang, duduk semeja dengan Woodrow Wilson, David Lloyd George dan Georges Clemenceau.

Pasca perang dunia pertama, Keynes dikirim dalam delegasi konferensi perdamaian di Paris 1918. Ketika semua pemimpin dunia ingin membalas dendam pada Jerman, Keynes muncul dengan ide perdamaian dan implikasi ekonominya. Ia menerbitkan buku dengan judul The economic consequences of Peace yang terjual 87000 kopi. Buku kecilnya mempengaruhi banyak orang. Dan akhirnya para pemenang perang setuju untuk membangun kembali Jerman sebagai pasar yang dapat menyerap hasil produksi para pemenang perang.

Perdamaian memang membawa dampat ekonomi yang cukup signifikan. Ekonomi global tumbuh dengan pesat selama tahun 1920-an. Konsumsi meroket. Dan untuk pertama kalinya di Amerika, semua keluarga memiliki mobil, televisi, dan radio. Ekonomi terus meroket hingga akhirnya pada terjun bebas pada tanggal 24 Oktober 1929 yang dikenal sebagai ‘Black Thursday’. Pasar saham amerika secara sporadis jatuh bergelimpangan seperti sekarang. Kekayaan sejumlah perusahaan besar terjun bebas. Akhir 1929, kerugian tercatat mencapai 40 miliar dollar. Aset ekonomi masyarakat tergerus. Yang kaya mendadak menjadi orang kere baru, sementara yang sudah kere mendadak jadi gelandangan baru.

Gejala depresi yang muncul belakangan menurut beberapa analis memang perlu diwaspadai mengingat kerugian ekonomi global yang telah mencapai triliunan dollar. IMF dalam laporannya yang akan dikeluarkan 21 April mendatang mengungkapkan bahwa kerugian global sudah mencapai 4 triliun dollar. Sementara laporan IMF akhir januari lalu hanya menyebutkan 2,2 triliun dollar. Pelaku ekonomi global tak mau kecolongan dengan menerapkan resep-resep Keynes.

Ceritanya, ditengah depresi 70 tahun lalu, Keynes muncul dengan bukunya yang berjudul "The General Theory of Employment, Interest and Money". Pada masa itu, solusi Keynes diragukan banyak ekonom. Dan ekonomi tak dapat dihindari terjun bebas semakin dalam. Nasabah bank panik hingga akhirnya tahun 1933 Franklin Delano Rosevelt, presiden Amerika yang baru saja terpilih mengumumkan ‘bank holiday’ untuk meredamnya.

Ketika semua solusi gagal, satu-satunya solusi yang belum dicoba adalah solusi Keynes. Franklin Delano Rosevelt, akhirnya mencoba mencoba resep Keynes pada tahun 1938. Hasilnya, Amerika mengalami boom ekonomi. Tahun 1944 adalah puncak produksi paska perang. Dan dua tahun kemudian, Keynes meninggal, namun solusi depresinya mengisi undang-undang ketenagakerjaan Amerika. Intinya, negara bertanggung jawab menjaga tingkat pengangguran, produksi, dan daya beli.

Pada intinya adalah konsumsi. Beberapa resep Keynes seperti anggaran defisit, stimulus, insentif, dan beberapa resep lain pada dasarnya bertujuan untuk mendongkrak konsumsi. ‘jika penawaran berlebih, maka permintaan juga’ seperti kata hukum penawaran. Namun hal itu sudah tak berlaku lagi. Karena tanpa daya beli penawaran hanya akan berhenti di gudang, berimplikasi pada kerugian investasi, pengangguran, dan daya beli yang semakin turun, dan akhirnya krisis terulang kembali.

Belakangan gelaja depresi telah merugikan ekonomi global hingga 4 triliun dollar. Beberapa negara, tidak terkecuali Indonesia, yang takut kecolongan segera menerapkan resep Keynes. Maka pemerintah Indonesia pun melakukan buy back saham BUMN, menaikkan jaminan simpanan hingga 2 miliar rupiah, mengeluarkan perpu jaring pengaman sistem keuangan, dan belakangan menjalankan banyak program-program stimulus mulai dari BLT, stimulus pajak, hingga menjalankan PNPM.

‘We are all Keynesian’ entah Richard Nixon atau Milton Friedman yang lebih dulu mengucapkannya, namun jargon lama tersebut adalah pengakuan atas kehebatan Keynes. Ia menyelamatkan Kapitalisme yang hampir hancur karena kontradiksi yang ada didalamnya. Dan hampir saja prediksi Karl Marx benar dan menghegemoni ekonomi dunia.

Jargon hemat pangkal kaya memang sudah saatnya diganti hemat pangkal stagnansi. Bagi Keynesian menyimpan uang dibawah bantal sama halnya dengan menghambat pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya pengeluaran seseorang adalah pendapatan bagi orang lain. Konsumsi seseorang adalah produksi, yang arti lainnya lapangan kerja bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika uang diinvestasikan dibawah bantal, produsen bantal pun tak menaikkan kapasitas produksi dan menambah karyawannya. Akibatnya ekonomi stagnan, produsen bantal mengurangi produksi dan karyawan. Kondisinya berbeda jika uang digunakan untuk membeli bantal, permintaan bertambah, kapasitas produksi dan karyawan pun terpaksa ditambah. Ekonomi bertumbuh.

Lihat saja Indonesia yang juga tak luput dari imbas krisis, tapi perekonomian masih tumbuh positif. Dalam kasus Indonesia, Konsumsi domestik telah berperan penting menjaga pertumbuhan ekonomi indonesia tetap positif diantara pertumbuhan negatif negara-negara maju. Indonesia masih tumbuh 4,5 persen dan menjadi salah satu dari tiga negara Asia yang masih memiliki pertumbuhan ekonomi positif. Pasar domestik yang mengambil porsi 65 persen dari ekonomi nasional adalah penyelamat. Sejak beberapa tahun lalu Indonesia memang tak mampu mendulang devisa lebih banyak dari ekspor karena banyak hal seperti kualitas produksi yang rendah hingga industrialisasi kelas teri. Akibatnya pasar domestik masih menjadi tumpuan. Namun siapa sangka kali ini pasar domestik adalah penyelamat. Inilah kegagalan yang membawa berkah.

“We are all Keynesian”, maka konsumsi adalah hal sentral, rantai pengeluaran adalah rantai penghasilan, dan konsumsi adalah produksi dan investasi yang melibatkan ribuan pekerja dan menggerakkan ekonomi. Jika sekarang hemat pangkal stagnansi, maka saat ini, saat ekonomi global sedang depresi, membelanjakan uang menjadi lebih berguna daripada membiarkannya dimakan jamur diawah bantal. Mari, belanjakan uang.....

Mengabdi Untuk UGM, Tapi UGM Untuk Siapa ?

Universitas Gadjah Mada yang tersohor itu dikenal karena prestasi dan orang-orang besar yang telah dilahirkannya. Besar, entah karena memang besar atau sengaja dibesar-besarkan. Namun, siapa sangka dibalik keangkuhan gedung-gedung kampus yang dibesar-besarkan itu ada jerih payah orang-orang termarjinalkan.

Waktu baru menunjukkan pukul 6.30 pagi ketika seorang bapak tua, mulai mengayuh sepedanya menuju kampus Universitas Gadjah Mada, tempatnya bekerja. Sebelumnya, sang istri telah membungkuskan bekal makan siang untuk menghemat pengeluaran. Dengan Jaket penahan dingin, sepeda tua, dan bungkusan bekal makan siang, bapak tua bergegas menuju tempat kerja. Dia adalah salah satu dari sekian banyak pegawai rendahan di UGM. Dengan tugas-tugas sepele, mereka, bapak tua dan kawan-kawan membuat kampus tetap berjalan normal, meski penghisapan tak membuat mereka hidup normal.

Orang-orang seperti bapak tua ini adalah orang yang selalu ditenggelamkan dibalik keangkuhan orang-orang besar dengan jasa kecil. Atau ditenggelamkan oleh orang-orang kecil dengan jasa yang dibesar-besarkan. Entah mana yang benar, tapi setiap pagi, sepeda kayuh mereka beradu cepat dengan mobil-mobil mahasiswa dan pembesar. Kewajiban memaksa mereka menang beradu dengan roda-roda berpenggerak mesin. Mereka orang-orang kecil itu datang pagi-pagi untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan universitas itu untuk mulai beraktifitas. Jasa yang selalu dianggap sepele oleh sebagian besar orang.

Sudah sejak tahun 1981 bapak tua bekerja sebagai pembantu umum di UGM. Selama hampir 20 tahun bekerja, tugasnya adalah menyapu lorong dan ruang didalam gedung tempatnya bertugas. Sesekali ia mengantar surat ke kantor-kantor fakultas. Tak jarang pula ia membuat minuman bagi para pembesar yang sedang rapat. Jelaslah itu semua adalah pekerjaan remeh-temah. Gajinya pun kecil karena tanggung jawab yang dikatakan orang tanggung jawab orang kere.

Dengan sebuah sepeda tua, bapak tua harus mengayuh selama 15 menit dari rumahnya di Jalan Magelang untuk sampai di tempatnya bekerja. Kadang ia menghabiskan waktu 30 menit mengayuh sepeda pelan-pelan jika ia sedang merasa lelah. Terkadang ia memang kelelahan karena ada pekerjaan tambahan yang harus dilakukan guna memenuhi kebutuhan hidup yang semakin membengkak.

Sepeda tua yang dikayuhnya itu adalah sepeda yang sama dengan sepedanya waktu pertama kali masuk bekerja di UGM. “saya lebih suka naik sepeda karena membuat jantung sehat. Lagian, saya tidak bisa naik motor” kata bapak tua menjelaskan kecintaannya bersepeda. Entah cinta, atau memang ia tak mampu membeli roda-roda bermesin meski ia telah mengabdi lebih dari 20 tahun.

Bersepeda adalah wujud kesederhanaan seorang bapak tua dalam menjalani hidup. Atau wujud ketidakberdayaannya melawan penghisapan ? bagaimanapun juga ia tak seperti orang-orang lain yang semakin sibuk mengejar waktu dan ambisi dengan kendaraan bermesin. Semakin tua, dan bapak tua tetap berjalan santai dengan sepeda tuanya. Tak ada yang perlu dikejar katanya. “Toh saya selalu datang paling pagi, lebih dulu dari mereka yang dikejar ambisi”. Dan memang si bapak tua selalu datang paling pagi di kantor, menyiapkan tempat bagi orang-orang mengejar ambisi. “mereka ambisius” tapi siapa sangka segala sesuatunya disiapkan oleh orang-orang yang tak berambisi.

Memang tak ada alasan untuk menunda pekerjaan remeh temeh. Begitu sampai dikantor, ia langsung bekerja. Tak dikatakan ambisinya, tapi adakah orang serajin itu tanpa ambisi? Semua alat kerja langsung dipegangnya. Ia bahkan mulai bekerja ketika para pegawai lain masih minum kopi dan membaca koran di halaman rumah. Ia menyelesaikan pekerjaannya sebelum orang lain datang. Sepertinya ambisinya hanya ingin pulang lebih cepat, sesuai recehan yang diterimanya sebagai gaji. Tapi apa daya “saya harus datang paling awal dan pulang paling akhir” kata sang bapak meratapi nasib.

Untuk pekerjaan remeh temeh, sebenarnya tidak memerlukan penjelasan dari atasan. Bahkan ia pun malas menjelaskan pekerjaannnya pada orang lain. “semuanya remeh temeh” katanya. Si bos pun hanya menyodorkan sapu tanpa berkata-kata ketika ia pertama kali masuk kerja. Tanpa bertanya pun si bapak tua yang dulu pernah muda itu menyapu semua yang bisa disapu, dari ujung ke ujung yang melelahkan jika dibandingkan dengan recehan yang diterimanya. Ia memang tak perlu bertanya untuk tugasnya, ia hanya perlu bertanya tentang nasibnya. 20 tahun mengabdi untuk UGM, tapi untuk UGM untuk siapa?

Dua anaknya pun hanya berakhir sebagai tukang bakso atau penjual pulsa. UGM tak menerima mereka, alasannya akademis, mereka gagal dalam persaingan dengan ribuan siswa SMA lain yang berebut masuk UGM. Tapi bagaimanapun recehan memang tak memungkinkan si bapak tua memberikan pendidikan dasar dan menengah yang cukup baik. Ia terancam terjebak dalam lingkaran setan pesuruh, lingkaran setan orang-orang kere. Dan sekali lagi memang ia harus bertanya tentang nasibnya, tapi pada siapa ?

Ipod Diplomacy

Beberapa waktu lalu Obama memberi hadiah kepada Gordon Brown, Perdana Menteri Inggris sebuah pemutar DVD. Di kesempatan lain, Obama menghadiahi Ratu Inggris sebuah Ipod lengkap dengan video dan lagu terpilih. Dan sekarang, diplomasi memang semakin populer dengan hadiah-hadiah yang dapat ditemukan di supermarket. Inilah era diplomasi populer, diplomasi supermarket, atau bahkan diplomasi konsumsi ?

Diplomacy gift adalah simbol persahabatan. Obyek yang dipertukarkan pun merupakan simbol pencapaian sosial dan kultural sebuah bangsa. Maka jika Obama menggunakan Ipod sebagai hadiah persahabatan, maka Ipod memang sudah mencapai puncaknya sebagai pencapaian inovasi bangsa Amerika. Setidaknya menjadi pencapaian yang layak dijadikan hadiah diplomasi

Tahun 1979, Masaru Ibuka, salah seorang pendiri Sony meminta para teknisi Sony untuk membuat sebuah alat pemutar musik portabel yang dapat menemaninya dalam penerbangan beberapa jam. Para teknisi kemudian datang dengan prototype besar namun masih dapat dikatakan portable sebagai pemutar musik. Beberapa bulan kemudian, Sony memperbaiki prototipe dan meluncurkan Walkman, pemutar musik pernah menjadi penemuan paling sukses sepanjang abad ini.

Walkman telah mengubah ubah cara dunia mendengarkan musik. Mendengar musik kemudian menjadi sangat populer, bisa dimana saja, sambil lalu, bahkan kadang menjadi alat bantu untuk mengasingkan diri dari lingkungan yang tak diharapkan.

Dengan keangkuhannya, Sony telah terjebak dalam mitologi bisnis inovasi yang dulu pernah mengantar mereka sebagai perusahaan top, menciptakan Walkman yang mengubah dunia. Kini Sony hampir tenggelam karena obsesi lamanya. Sony terlambat menciptakan LCD, TV layar datar, pemutar DVD, dan terlambat menciptakan Mp3 player portabel sebagai pengganti Walkman yang sudah usang.

Sony telah tenggelam dalam romantisme Walkman. Dalam romantisme itu, Sony kemudian dikenal karena keengganannya bekerja sama dengan perusahaan lain. Sony ingin mengulang kesuksesan Walkman yang mereka nikmati sendiri. Lihat saja gadget Sony yang tak kompatibel dengan memori biasa. Mereka memaksa konsumen untuk memakai memori mahal ciptaan mereka. Sony tak sendiri. Beberapa perusahaan seangkatan Sony seperti juga memiliki kepribadian yang sama, ingin memonopoli inovasi.

Namun apa daya, sekarang adalah era ‘open innovation’ kata Henry Chesbrough, profesor bisnis Berkeley, atau jaman ‘democratizing innovation’ kata Eric von Hippel, profesor manajemen M.I.T. Monopoli inovasi seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan masa lalu hanya akan menghisap sumber daya modal demi riset tak terarah yang menenggelamkan mereka.

Walkman yang pernah berjaya kini telah digantikan Ipod buatan Apple. Dengan cepat Ipod menguasai pasar pemutar musik portabel. Ipod menawarkan banyak hal yang sering dianggap sebagai kemudahan oleh khalayak ramai. Kemudahan yang tak bisa didapat dari pemutar musik portabel lain. Misalnya saja, iTunes yang terkenal itu menawarkan file musik digital legal yang bisa dibeli tanpa harus bangun dari kasur.

Awalnya model bisnis iTunes dikhawatirkan makin memperburuk pembajakan. Nyatanya, orang-orang makin rela membayar demi kemudahan yang ditawarkan iTunes. Dan kemudian, iTunes menjadi situs musik digital legal pertama. Pendapatan dari iTunes bahkan kemudian mampu mensubtitusi pendapatan bagi industri musik yang dicuri pasar bajakan.

Seperti kata Keynes, konsumsi adalah peluang bagi ekonomi. Permintaan Ipod yang begitu masif juga telah menciptakan banyak peluang kerja, termasuk menciptakan ekonominya sendiri, Ipod economy. Penggeraknya adalah perusahaan pembuat komponen, pembuat aksesoris, hingga penjual file musik digital online. Dengan demikian, membeli Ipod adalah rantai konsumsi pertama. Rantai-rantai berkutnya adalah rantai konsumsi yang seperti kata Keynes, adalah rantai penggerak pertumbuhan ekonomi.

Consumer Electronics Association (CEA) memperkirakan bisnis tetek bengek aksesori Ipod saja akan memutar uang hingga 1 triliun dollar pada tahun 2008 atau naik 45 persen dari 2007. Saat ini saja sudah ada 93 perusahaan pembuat speaker portabel untuk Ipod. Sementara totalnya mereka memproduksi 279 model speaker yang dijual secara global. Belum lagi bisnis lagu digital via iTunes yang katanya mampu mensubtitusi kerugian akibat pembajakan CD secara global.

Ipod tak hanya menciptakan ekonomi yang ekslusif. Bisnis mp3 player abal-abal juga ikut bergerak memenuhi tren kebutuhan orang-orang yang terobsesi pada pemutar musik digital portabel namun tak mampu masuk dalam rantai konsumsi Ipod. Maka kemudian muncul ribuah merek mp3 player yang menyerbu negara-negara berkembang seperti Indonesia dimana pembajakan masih marak, sementara penduduk masih belum mampu membeli lagu dari iTunes.

Puncaknya, setelah lebih dari 8 tahun diluncurkan, Ipod kini menjadi simbol kultural Amerika. Ia menjadi sejajar dengan simbol kultural Amerika lainnya seperti McDonalds, dan Coca Cola. Hadiah (baca: cenderamata) diplomasi Obama kepada Ratu Inggris pun sekedar Ipod yang bisa dibeli di warung-warung pinggir jalan. Berikutnya, demi perdamaian, Ipod lengkap dengan file audio Al Quran bisa saja diberikan kepada Ahmadinejad.

Maka sekarang sekedar politik luar negeri bebas aktif sudah tak cukup lagi, kini jamannya ipod diplomacy. Jika Sjahrir memainkan diplomasi beras untuk bersahabat dengan India, sekarang diplomasi apa yang akan dimainkan SBY? Lumpur?


Sabtu, 11 April 2009

Hegemoni Mesin Pencari

Internet adalah penemuan paling penting abad ini. Secara sadar atau tidak, internet bergerak menjadi sebuah kebutuhan penting. Namun secara tak sadar juga, internet ada dalam kuasa mesin pencari.

Komputer belakangan mulai bergerak menuju kebutuhan primer. Beberapa orang mulai melihat komputer sebagai barang yang harus dimiliki disamping televisi dan lemari es. Data Apkomindo menujukkan bahwa 3 dari sepuluh rumah tangga sudah memiliki komputer. Sementara untuk kalangan mahasiswa 8 dari 10 sudah memiliki komputer atau laptop sendiri. Kecenderungan kepemilikan komputer dan laptop untuk beberapa tahun kedepan memang akan mengalami kenaikan signifikan

Sementara itu penetrasi internet juga akan mengikuti tren penetrasi kepemilikan komputer dan laptop. Kecenderungan ini dapat dilihat dari data sejak tahun 2000 hingga 2008 yang menunjukkan peningkatan pengguna internet di Indonesia. Data menunjukkan pada tahun 2000 internet hanya digunakan oleh 2 juta pengguna, sementara data tahun 2008 menunjukkan bahwa pengguna internet tanah air sudah mencapai 25 juta atau dengan penetrasi 10 persen. Meski masih jauh lebih rendah dari beberapa negara maju Asia seperti Jepang dengan penetrasi internet 73 persen dan Korea Utara yang mencapai 76 persen, namun peningkatan penetrasi pengguna di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.

Dibalik semakin masifnya penggunaan internet, kemudian muncul pertanyaan siapakah aktor yang mendominasi jadad maya tersebut? Data menunjukkan bahwa mesin pencari adalah elemen inti atau setidaknya elemen penting dalam internet media system. Lihat saja data Nielsen Netrating tahun 2003 yang menunjukkan empat besar mesin pencari berada dalam daftar sepuluh besar.

Penghasilan mesin pencaripun semakin besar meninggalkan konglomerasi media internet lainnya. Google tahun 2003 mengumpulkan laba hampir 1 miliar dollar, sementara kuartal pertama 2008 Google melaporkan laba yang mencapai 5,37 miliar dollar, sebuah peningkatan yang luar biasa besar. Yahoo pun tak kalah, laba iklan Yahoo sudah mencapai 1,3 miliar dollar, waktu itu Yahoo mengalahkan Google. Laporan terakhir memperlihatkan pendapatan Yahoo kuartal pertama 2008 hanya 1,4 miliar dollar, jauh dibawah Google.

Dari tahun ke tahun, laba iklan mesin pencari menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Dalam bisnis media, peningkatan laba ini selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah pengguna. Dengan demikian, pengguna google, yahoo dan beberapa mesin pencari lain mengalami kenaikan yang cukup signifikan seiring dengan kenaikan jumlah pengguna internet secara keseluruhan.

Dibalik data, sejak bertahun-tahun lalu menggunakan mesin pencari memang sudah menjadi aktifitas yang paling sering dilakukan pengguna internet setelah mengecek email. Sekarang, setelah muncul facebook yang fenomenal itu, menggunakan mesin pencari tetap menjadi aktifitas yang tak mungkin ditinggalkan seiring masifnya pertumbuhan halaman web. Mengecek email, facebook, dan mesin pencari kemudian menjadi tiga besar aktifitas internet.

Internet telah memudahkan orang mengunggah dan mengunduh informasi. Semua orang bisa menjadi blogger dan twiterer, menduduki posisi yang dulunya hanya bisa diduduki jurnalis dan editor. Bahkan orang iseng pun mampu mengunggah informasi palsunya dalam halaman web yang semakin mudah dibuat. Hasilnya, jutaan halaman web berisi informasi yang penting dan tak penting nongkrong di server-server web. Ditengah hiruk pikuk dunia maya ini, mesin pencari kemudian menjadi jawaban bagi para pencari informasi. Ribuan bahkan jutaan halaman web tersebut memerlukan katalog yang memudahkan pengguna untuk mengakses halaman yang diperlukan. Mesin pencari menjadi filter informasi berdasarkan kata kunci.

Sementara data juga menunjukkan bagaimana laba mesin pencari yang meninggalkan konglomerasi media internet komersial lainnya. “Bagaimanapun besarnya konglomerasi media, internet tetap akan dikuasai mesin pencari” kata Elizabeth Van Couvering dari London School of Economics and Political Science. Ditambah lagi data dari Pricewaterhousecoopers tahun 2004 yang menunjukkan bahwa 70 persen laba iklan internet pada tahun tersebut hanya dimakan oleh beberapa mesin pencari.

Ironisnya, begitu besarnya kuasa mesin pencari tak diimbangi dengan pembagian kekuasaan yang adil. Siapa sangka saat ini, internet hanya dikuasai oleh empat besar mesin pencari. Diantaranya adalah AOL, Yahoo, Google, dan MSN. Empat besar ini adalah hasil caplok mencaplok beberapa mesin pencari gurem yang beberapa tahun lalu sejak tahun 1998 hingga tahun 2004 mencapai belasan perusahaan mesin pencari. Beberapa yang gurem dibeli mesin pencari besar. Hal ini belum akan berhenti hingga beberapa tahun kedepan hingga mesin pencari menyisakan segelintir perusahaan besar yang sama besar dimana rational choice tak memungkinkan mereka saling mencaplok. akan

Dibalik laba yang semakin besar, model bisnis mesin pencari memang tidak semata-mata menjual jasa pencarian gratis. Seperti diungkapkan Couvering, Beberapa mesin pencari menjaring dollar dengan beberapa cara. Couvering membagi model bisnis mesin pencari dalam tiga kategori besar. Diataranya adalah Search model dimana kapitalis hanya berbisnis dengan menyediakan jasa mesin pencari seperti yang dilakukan Google sejak beberapa tahun lalu, access model ketika inti bisnis adalah penyediaan jaringan sementara jasa pencarian dan email hosting adalah bisnis sampingan, dan model campuran seperti yang dilakukan Yahoo ketika bekerja sama dengan penyedia jaringan sekaligus berbisnis mesin pencari dan menjual iklan.

Dari ketiga model bisnis tersebut, iklan kemudian terjaring seiring dengan jumlah pengguna yang semakin besar. Mesin pencari pada dasarnya memiliki model jasa iklan yang mirip dengan model bisnis kapitalisme cetak tradisional yang masih berkutat pada display advertising, sponsorship, dan listing (iklan baris). Namun dengan keunggulan teknologi yang dimilikinya, mesin pencari kemudian menciptakan model baru yang tak bisa ditiru media tradisional.

Dengan memanfaatkan kekuasaannya mengintip isi web dan kata kunci yang digunakan pengguna, mereka menawarkan jasa search specific advertising yang kemudian turunan model ini menjadi paid performance dimana sebuah iklan atau halaman web dihubungkan dengan keyword tertentu dan Paid inclusion dimana sebuah halaman web dimasukkan diantara hasil pencarian.

Dari beberapa model jasa iklan yang ditawarkan, keyword search advertising adalah jasa yang paling berbahaya bagi pengguna mesin pencari ditengah hegemoni mesin pencari yang semakin kuat. Bagaimana tidak, mesin pencari dapat dengan mudah menjual statistik kata kunci kemudian kepada pengiklan. Selain itu pengiklan pun dapat memesan posisinya dalam hasil pencarian.

Layaknya kacamata kuda, mesin pencari dapat dengan mudah melakukna framing hasil pencarian. Apa yang perlu dibuka pengguna dapat ditentukan hasil pencarian mesin pencari. Sementara itu, model bisnis mesin pencari juga dapat mempengaruhi obyektifitas hasil pencarian karena pengiklan dapat memasukkan halaman webnya diantara halaman web yang dicari oleh pengguna dengan keyword tertentu.

Belakangan muncul bisnis Search Enggine Optimisation yang menawarkan jasa optimasilasi halaman web untuk agar menjadi lebih Search Enggine Friendly. Tak hanya perusahaan third party sevice, mesin pencari juga memiliki anak-anak perusahaan yang bergerak dalam bisnis ini yang semakin menggelembungkan pundi-pundi mereka.

Dominasi mesin pencari dalam jagad maya menjadi hal yang pelu diwaspadai. Bagaimana tidak, jika kapitalisme dunia maya selalu lebih menggiurkan daripada independensi media maka peselingkuhan antara jasa pencarian dan kapital akan menjadi kacamata kuda bagi pengguna internet ketika harus berselancar dalam tumpukan jutaan halaman web. Atau apakah kita harus kembali pada masa-masa mencari jarum dalam tumpukan halaman web?

Selasa, 31 Maret 2009

Kematian Surat Kabar atau Rebirth of Journalism ?

Beberapa hari lalu Kompas menulis tentang penutupan sebuah harian besar di Amerika Serikat. Christian Science Monitor, sebuah harian berusia 100 tahun, menerbitkan edisi cetak terakhirnya pada Kamis (26/3). Christian Science Monitor adalah surat kabar cetak besar pertama yang menutup percetakannya. Tampaknya, revolusi media telah dimulai, saatnya rebirth of journalism.

Christian Science Monitor adalah yang pertama, sementara yang masih bertahan, sedang bersiap memotong anggaran, memecat karyawan, bahkan bersiap meninggalkan bisnis ini. Tahun 2008 adalah tahun terburuk bagi sejarah 200 tahun surat kabar. Setidaknya, di Amerika rata-rata saham surat kabar turun 83 persen dan merugi hampir 64 juta dollar dalam setahun, kata sebuah sumber.

Perihal kematian surat kabar cetak, sebenarnya telah diramalkan sejak 30 tahun lalu oleh Leo Bogart, sosiolog yang membantu Newspaper Readership Project, proyek penelitian bentukan American Newspaper Publishers Association dan the Newspaper Advertising Bureau. Proyek tersebut adalah proyek paranoid industri surat kabar dan print capitalism di Amerika karena turunnya oplah yang terjadi pada pertengahan tahun 60an. Bogart menyalahkan radio dan televisi kecepatan informasi yang ditawarkan keduanya telah menurunkan oplah surat kabar.

Penelitian Bogart membuahkan solusi seperti yang masih sering kita dengar saat ini. Solusinya standar, menjangkau kembali pembaca yang mulai teralienasi dari surat kabar kesayangannya, menyempit pada isu lokal dan spesifik., dan peluasan ruang dan kesempatan kepada pembaca untuk berbicara. Dapat dipahami kemudian jika sebuah koran lokal dapat bertahan meski dengan gaya tulisan yang bercitarasa lebih rendah daripada koran nasional karena kedekatan isu lebih dipilih pembaca. Data Kompas membuktikannya, dari tahun 1998 hingga 2002, koran nasional turun dari 79 judul menjadi 28 judul, sementara koran lokal naik dari 20 judul menjadi 138 judul (Kompas, Menulis dari Dalam, 2007).

Meski hampir semua media telah melakukan resep kuno tersebut, penurunan oplah global tetap terjadi. Seperti evolusi, yang sebenarnya terjadi adalah perubahan kebutuhan manusia akan berita. 30 tahun lalu, televisi dan radio menekan oplah surat kabar karena kecepatan informasi yang disampaikan dengan cara yang berbeda dengan surat kabar. Karena tekanan, surat kabar pun berubah dengan menyediakan berita-berita mendalam melalui teks, sesuatu yang tak bisa dilakukan media elektronik.

Saat ini, internet adalah ancaman baru bagi surat kabar. Internet mempercepat berita sampai kepada pembaca dengan sudut pandang dan sumber yang lebih luas dengan biaya murah. Semua yang ditawarkan oleh media tradisional seperti koran, majalah, televisi, dan radio, dapat dilakukan media modern ini. Sementara itu, beberapa orang, dari kalangan berpendidikan mungkin mempertimbangkan bahwa berlangganan koran dengan biaya 70 ribu rupiah perbulan tidak lebih efisien dari pada biaya berlangganan internet yang beberapa puluh ribu sedikit lebih mahal. Keuntungannya, pencari berita akan disuguhkan pada ribuan halaman informasi mulai dari yang esensial sampai yang tidak dibutuhkan.

Dalam konteks global, sebenarnya semua media tradisional terancam meski surat kabar yang paling merasakan dampaknya. Sementara dalam konteks Indonesia, penurunan tetap terjadi meski tidak sampai mengancam keberadaan surat kabar. Nilai belanja iklan stagnan 26 persen setelah beberapa tahun anjlok drastis. Selebihnya, kue iklan diambil televisi, radio, dan internet. Tingkat penggunaan internet di Indonesia yang masih rendah , hanya sekitar 16 persen anak muda yang mengakses informasi melalui internet, adalah penyelamat ditengah kecenderungan global turunnya oplah surat kabar. Bandingkan dengan tingkat pemakaian internet untuk mencari informasi di negara maju yang sudah melebihi 80 persen. Maka wajar saja, koran menjadi spesies yang hampir punah dinegara maju.

Isyarat kematian surat kabar di Indonesia masih jauh, namun beberapa sudah bersiap dengan melakukan revolusi pada website mereka. Sebut saja media dominan seperti Kompas, Media Indonesia, dan Tempo yang mulai memberdayakan internet untuk menyediakan informasi yang baru dan semakin cepat. Media-media tersebut kini menyediakan e-paper bagi pembacanya, sekedar untuk menjaga agar mereka tidak lari ke media online, yang pada dasarnya hanya menjadi media copy-paste dari liputan media cetak.

Declining of newspaper dan rebirth of journalism berjalan beriringan. Apapun bentuknya, turunnya oplah telah memaksa surat kabar untuk menjadi lebih baik. Beberapa media, mulai mengintegrasikan binis cetaknya dengan internet. Coba lihat bagaimana situs-situs surat kabar yang mulai dipenuhi iklan. Beberapa tahun lalu, website surat kabar hanyalah halaman statis yang membosankan. Kini iklan mulai muncul terlalu banyak yang kadang menutupi headline. Isinya pun mulai dinamis dengan update berita yang semakin rajin, melengkapi isu yang sedang diangkat dalam versi cetak.

Yang paling mengerikan, jika kematian atau rebirth of journalism yang mengarah pada kematian on-the-ground reporting yang dilakukan oleh wartawan-wartawan terlatih yang menguasai isu, memiliki akses pada sumber-sumber penting yang terpercaya, dan tumbuh dalam iklim dimana obyektifitas adalah segalanya. Ditambah lagi, para wartawan on-the-ground bekerja dibawah para editor yang mengecek setiap fakta dan data secara mendetail, mengontrol para wartawan dari pikiran-pikiran yang tak perlu dicetak karena bias dan ketidak-rapian berpikir.

On-the-ground reporting dengan hasil mendalam memang keunggulan surat kabar yang telah menghindarkannya dari kematian sejak 30 tahun lalu karena tekanan radio dan televisi. “on-the-ground reporting adalah ciri khas koran” kata Gary Kamiya, kolumnis pada situs berita salon.com. kekhawatirannya adalah kematian koran yang diikuti kematian on-the-ground reporting yang mendalam yang dilakukan wartawan profesional yang kredibel.

Arah rebirth of journalism bisa kita lihat dengan tumbuhnya jumlah blogger, twitterer, dan berbagai jenis jurnalisme tak resmi lainnya yang tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi. Mereka bekerja dibalik layar komputer dan hanya sesekali turun kejalanan melihat realitas. Wawancara face to face yang dilakukan para wartawan surat kabar tradisional pun mungkin suatu saat nanti akan menjadi cara yang kuno karena blogger cukup melakukan riset dengan google dan menuliskannya.

Sekali lagi internet telah membuka dunia yang selama ini hanya diakses oleh editor dan wartawan profesional. Sekarang siapa saja bisa menulis tentang apa saja dan mempublikasikannya di internet melalui akun-akun blog yang tersedia gratis. Berita kemudian menjadi produk masal karena semua orang bisa menuliskannya. Seperti kata George Ritzer, produk masal akan selalu kehilangan maknanya. Maka demikian juga dengan berita yang semakin masal tumbuh tak terkontrol yang ditulis siapa saja dengan sedikit memperhatikan etika jurnalistik.

Bisnis media cetak pada dasarnya adalah pertukaran antara jualan kata-kata kepada pembaca dan jualan pembaca kepada pengiklan. Ketika oplah menurun, maka nilai media dimata pengiklan juga akan turun. Kapitalisme cetak yang pernah menjadi tambang emas sejak 200 tahun lalu dalam beberapa tahun kedepan akan menjadi bisnis tak menguntungkan. Dan suatu saat nanti, jurnalisme yang dikerjakan dengan 9 elemen jurnalisme Bill Kovach akan dibangkitkan kembali oleh lembaga-lembaga non profit yang mengerjakannya sebagai bantuan kemanusiaan.

Secara global, penurunan oplah memang terjadi. Namun di Indonesia, data masih menunjukkan 42 persen orang muda masih membaca koran untuk mendapatkan informasi. Sisanya, 28 persen mencari di televisi, 10 persen di radio, dan 16 persen menggunakan internet. Artinya, orang masih lebih banyak mencari informasi melalui koran. Koran Indonesia memang belum akan mati. Setidaknya kematian koran Indonesia tertunda sampai infrastruktur internet bisa lebih mapan menjangkau daerah terpencil dengan harga yang semakin manusiawi. Maka kita tunggu saja rebirth of journalism, semakin dangkal atau semakin kaya makna.

Minggu, 29 Maret 2009

Sunyi Perayaan Seabad Bung Kecil

Dhaniel Dhakidae, dalam Sjahrir Dalam Renungan Dua Jilid, menyebut Sjahrir sebagai a man of paradox. Daniel menempelkan paradox dalam diri Sjahrir dengan rasionalisasi yang absurd. Ia membandingkan sisi fisik Sjahrir yang kecil dengan intelektualitasnya dan energi didalam diri Sjahrir yang mengagumkan. Rasionalisasi inipun sebenarnya adalah paradox tersendiri.

Paradox karena dengan intelektualitas yang melebihi jamannya dan Sjahrir tidak mau sedikitpun melanjutkan studinya di Leiden, Belanda. Tidak mau sedikitpun, kata Daniel. Sementara fakta lain menyebutkan bahwa Sjahrir dijegal, diasingkan oleh Belanda ke Boven Digul sesaat sebelum dia kembali ke Leiden untuk melanjutkan studinya. Rasionalisasi paradox yang paradox, karena fakta dimainkan untuk mendukung sebuah cerita, Sjahrir Dalam Renungan Dua Jilid, dan mendukung sebuah hipotesis, a man of paradox.

Banyak julukan bagi Sjahrir yang terlupakan dalam sejarah Indonesia. Dia disebut the atomic prime minister karena keberaniannya berbicara atau secara satir untuk mengkritik Sjahrir yang tak pernah meledak. Dikesempatan lain ia disebut Meteor Politik karena karirnya yang menanjak sebagai pemimpin dan tenggelam begitu cepat bahkan mati tahanan politik. Dari sekian banyak sebutan untuknya, tetap saja Sjahrir adalah orang yang dilupakan karena pengelabuan sejarah.

Sjahrir adalah orang yang melebihi jamannya, kata Budiman Sudjatmiko. Waktu itu Soekarno berbusa-busa mendukung nasionalisme, sementara Sjahrir sudah meramalkan bahaya fasisme dalam nasionalisme yang berlebihan, seperti yang dipraktikkan Soekarno, beberapa tahun menjelang kejatuhannya. Ketika revolusi dan konfrontasi menjadi pokok pembicaraan para pejuang pendiri bangsa, ia memilih diplomasi, sesuatu yang dianggap banci oleh para pejuang macam Sudirman. Diplomasi beras mungkin salah satu karya monumentalnya yang berhasil membuahkan dukungan India terhadap kemerdekaan Indonesia dan naiknya pamor Indonesia di mata Internasional.

Tapi perjanjian Linggarjati sering dianggap sebagai kegagalan Sjahrir. Lewat Linggarjati, Indonesia hanya diakui berdaulat sebatas Jawa dan Sumatra, suatu yang disayangkan para pejuang saat itu. Sementara orang lupa, pasal arbitrase yang dimasukkan Sjahrir dalam perjanjian itu adalah pintu masuk bagi Internasionalisasi kasus Indonesia. Via Linggarjati, konflik Indonesia-Belanda dibicarakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB tahun 1947, dan Sjahrir memanfaatkan kesempatannya dengan baik ketika harus berpidato dalam sidang itu.

Jalan diplomasi Sjahrir adalah jalan yang realistis yang membedakannya dengan Soekarno. Dan untuk dekade pertama kemerdekaan, Soekarno tak berperan lebih besar dari Sjahrir. Tapi sayang, sejarah ditulis oleh pemenang, yang memang pada akhir cerita, pada tahun 1962, Sjahrir dijebloskan ke penjara oleh Soekarno dengan tuduhan absurd, makar. Akhir cerita, Sjahrir mati sebagai tahanan politik, yang kemudian dijadikan pahlawan nasional. Satu paradox lain, tapol yang mati dan jadi pahlawan nasional.

Satu hal yang saya sukai dari Sjahrir adalah keberaniannya memaki Soekarno, tokoh idola mainstream para Nasionalis hingga saat ini. Ini pula yang membuat saya suka dengan Gie, karena keberaniannya memaki Soekarno, meski hanya dalam catatan harian. Suatu kali, ketika Triumvirat masih muda, dalam sebuah pertemuan pemuda pra sumpah pemuda, tiba-tiba Sjahrir membentak Soekarno yang memaki-maki seorang perempuan dalam bahasa Belanda. Perempuan itu, Sukarni namanya, mengkritik Soekarno yang berbicara dalam rapat umum dalam bahasa campuran Indonesia dan Belanda, dengan nada kesombongan khas penikmat politik etis Belanda, dan Soekarno marah, balik mengkritik dan memaki wanita itu. “Tidak baik memaki seorang perempuan” kata Sjahrir, dan disini, jauh sebelum keduanya menjadi pemimpin bangsa, Bung Kecil lebih dulu menang dari Bung Besar. ia lebih heroik dari siapapun saat itu.

Dalam beberapa hal, Sjahrir memang lebih heroik, dan mungkin lebih idealis dari Soekarno. Ia mendesak Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu restu Jepang. Dan nyatanya, Soekarno menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dan menunggu restu Jepang. Balasannya, Sjahrir mengata-ngatai Soekarno kejepang-jepangan, dan Sjahrir pun mangkir dalam pembacaan Proklamasi.

Budiarto Sambazi, di harian Kompas menuliskan anekdot tentang dwi-tunggal beberapa. Katanya, Soekarno ngutang untuk beli rumah, Hatta sampai mati tak mampu beli sepatu Bally. Dan Sjahrir berkata kepada Soekarno, “mana gengsimu”, ketika Soekarno, sang presiden terhormat itu, meminta kemeja Arrow kepada seorang prajurit rendahan Belanda.

Nyatanya, seperti kata Daniel Dhakidae, peran besar dan kebesaran Bung Kecil sebagai manusia dilupakan karena pengelabuan sejarah. Sejarah menulis pengelabuan, kemerdekaan adalah hasil perang, dan diplomasi adalah kecelakaan sejarah. Sementara orang PSI selalu bertanya, bisakah Indonesia merdeka jika tak ada Sjahrir? Karena sejatinya diplomasi adalah komplemen yang tak kalah penting disamping kekuatan militer, kata MT. Kahin.

Dan selalu sampai sekarang Bung Besar tetaplah besar dan Bung Kecil tetap kecil dalam perayaan seabad kehadirannya di Bumi. Sepi, karena pengelabuan sejarah, karena sejatinya sejarah adalah milik pemenang, milik penguasa rejim. Rejim kolot yang mudah dihasut hingga menjebloskan Sjahrir ke penjara, rejim yang mengeluarkan dekrit 5 juli 59 dan menerbitkan jargon, “rediscovery of our Revolution”. Dan Sjahrir pun tenggelam atau sengaja ditenggelamkan?.

Rabu, 25 Maret 2009

Fatamorgana – netral 9th

Waktu jua yang bicara mengakhiri sebuah kisah
Hidup adalah cerita petualangan anak manusia
Kelahiran kematian pertemuan perpisahan
Semua telah ditakdirkan kita yang jalani alurnya

Selamat datang didunia tempat mencuci mata
Semua fatamorgana surganya hawa nafsu

Akhirnya ditemukan juga sebuah lagu enerjik khas grup band Netral yang secara positif melihat kehidupan yang berjalin kelindan dengan dosa, godaan dan hawa nafsu. “Selamat datang di dunia, tempat mencuci mata, dan surga hawa nafsu”, kata mereka. Di gereja-gereja, di masjid, bahkan hampir disemua tempat yang dinyatakan sebagai tempat ibadah, saya kira tak mungkin kita menemukan ucapan selamat datang di dunia. “dunia itu fana” kata mereka. Memang mereka sepertinya menyesal terlahir kedunia, mencoba mengurung diri dan bermimpi tentang surga, yang masih patut diperdebatkan keberadaannya.

Semua tempat ibadah selalu mencoba berkampanye tentang indahnya surga, hina bagi semua hawa nafsu dan keduniawian. Ada yang sampai bergaya Timur Tengah dari tampak luar hingga tampak dalam, padahal mereka berada ribuan kilometer dari Timur Tengah, dan ironisnya mereka pun belum bernah sekalipun mencium bau padang pasir. Ada pula yang bergaya cleric jaman batu, memakai jubah, dan menempelkan gelar ordo didepan atau dibelakang nama mereka.

Orang kristen pun tak kalah lucu, mereka berdoa, menangis, yang lebih mengagumkan, mereka bisa berdoa sekaligus menangis tiap lima menit dalam satu kali ibadah. Yang paling lucu, bahasa roh syana na na bla bla bla, yang sebenarnya tak mereka pahami pun mereka kuasai dari mulut ke mulut. Saya membayangkan, mereka berlatih beberapa bulan, mengimitasi gembala-gembala gereja mereka yang absurd. Saya pun lalu berpikir, benarkah mereka yang pertama kali berkata-kata sya na na bla bla, syaka tak ka tak, bahasa roh, benar-benar anugrah, atau sekedar karangan, yang kemudian menular dari mulut ke mulut, sampai ke gereja-gereja di kampung-kampung terpencil di Indonesia.

Saya pun mengenal orang yang tak percaya Tuhan tapi juga menyesal terlahir didunia. Lalu dia mencari penyelamatan kepada siapa? Kepada batu yang selalu disimpan dikantong celana untuk menahan sesak boker ? atau mencari penyelamatan dari pohon didepan kamar kos yang memang kelihatan rimbun dan angker? Yang sering saya lihat orang-orang seperti ini mengadu pada manusia, sesamannya. Hina ...!

Lucu-lucu memang tingkah laku orang-orang yang menyesal hidup di dunia. Secara alamiah mereka selalu mencari penyelamatan dengan berkostum seperti jaman nabi, berkostum padang pasir, dan berbahasa roh dan bergaya seperti orang kerasukan roh yang mereka sebut kudus, atau menyembah pohon, dan mengantongi batu di kantong celana, sekedar mencari penyelamatan ketika sesak boker sudah diujung tanduk.

Absurd, tapi Netral membuat saya tersadar, masih ada orang yang bersyukur terlahir didunia, bersyukur berada di dalam surga hawa nafsu, dan selalu mencicipi dosa. Maka “Selamat datang didunia, tempat mencuci mata, surga hawa nafsu, tempat terbaik berbuat dosa”.

Treating 21 Grams

Beberapa hari ini saya sering ke rumah sakit, sekedar menengok nenek yang beberapa hari lalu koma, tak sadarakan diri karena gangguan aliran darah di otak yang sering disebut stroke. Dia ditemukan didapur, setelah beberapa jam lamanya setelah pingsan di samping kompor dan beberapa komposisi yang siap dimasak menjadi sayur asem, masakan kesukaan keluarga besar.

Ditemukan didapur, nenek langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, masuk ke ruang ICU. Koma, kata dokter. Dan koma itu seperti tidur, hanya saja tidur dalam jangka waktu yang lama, mungkin untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan kedepan.

Stroke itu seperti serangan jantung, kata paman yang tampaknya sudah menjadi ahli penyakit dalam karena sudah puluhan tahun bekerja di rumah sakit, meski bukan sebagai dokter. Secepatnya harus segera dilakukan tindakan sebelum terlambat. Tapi, dokter-dokter Indonesia mana ada yang cekatan. Dan saya jadi semakin tahu kenapa serangan jantung dan stroke adalah penyebab kematian pertama dan kedua di Indonesia. Pasti, karena dokter-dokter yang kurang cekatan, yang mungkin lebih cekatan bermain mata dengan perawat-perawat rumah sakit.

Ironis, dirumah sakit terdekat yang paling diharapkan, ternyata tidak memiliki alat. Demi mencari alat yang dinamakan CT Scan pun orang harus ke rumah sakit besar di pusat kota yang berjarak beberapa jam. Artinya, tetap tinggal di rumah sakit terdekat, atau mencari CT scan di Yogyakarta, adalah keterlambatan penanganan.

Tak ada yang bisa diharapkan dari keterlambatan, kecuali mukjisat yang sepertinya hanya terjadi di jaman-jaman para nabi. Meski dokter kurang cekatan, alat tak ada, dan keterlambatan penanganan, tapi semua keluarga tampak lebih cekatan merawat berat nenek agar tak berkurang satu gram pun. Karena konon, 21 gram adalah berat kehidupan.

Sabtu, 28 Februari 2009

Aku Narsis Maka Aku Ada

Alkisah di dunia para Dewa Yunani, Narcissus adalah pria yang sangat tampan, anak hasil perkosaan Dewa sungai Chepisus terhadap bidadari Liriope. Konon, ketampanan Narcissus hanya dapat dibandingkan dengan Adonis pujaan Aphrodite, Endymion kekasih Selene, atau Ganymedes selingkuhan Zeus.

Setelah kelahiran Narcissus, Tiresias seorang dewa nujum meramalkan bahwa Narcissus akan berumur panjang jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Dan ramalan ini terbukti ketika Narcissus tanpa sengaja melihat bayangan dirinya di sebuah kolam sumber air di tengah hutan.

Awalnya Narcissus hanya kehausan ketika berburu, namun tanpa sengaja bayangan dirinya di dalam kolam membuatnya terpesona. Akhirnya ramalan Tiresias pun menjadi kenyataan, Narcissus tak berumur panjang karena mati kehausan demi menjaga bayangannya agar tetap utuh didalam kolam.

Sebenarnya dengan ketampanan yang dimiliki, Narcissus menjadi pujaan para bidadari. Namun, semua ditinggalkannya sampai pada suatu saat ketika Narcissus berburu di sebuah hutan dan Echo, seorang bidadari mengamatinya dari jauh.

Echo adalah seorang dewi yang pernah menjadi selingkuhan Zeus. Karena sebuah perselingkuhan yang tertangkap basah, Echo dikutuk menjadi sulit berbicara kecuali mengulang kata-kata yang diucapkan kepadanya. Kutukan ini terjadi ketika Hera mulai curiga dengan gerak-gerik Zeus dan membututi suaminya itu hingga ke sebuah istana milik Dewi Echo.

Echo dan Hera pun terlibat dalam sebuah perdebatan. Hera menuduh Echo telah merebut suaminya, sementara Echo membela diri dengan cerita tak benar yang panjang lebar demi memberi waktu bagi Zeus untuk melarikan diri dari pintu belakang. Hera yang kesal akhirnya mengutuk Echo. Echo pun terkutuk dan tak bisa berbicara kecuali mengulang kata-kata yang diucapkan kepadanya.

Echo lari bersembunyi ke hutan sampai suatu saat dirinya jatuh cinta pada Narcissus yang sedang berburu. Kutukan Echo membuatnya tak bisa mengungkapkan isi hati. Sementara Narcissus yang tak tertarik pada siapapun mengacuhkan Echo yang hanya mengulang kata-kata.

Ketika Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri, Echo pun hanya bisa mengulang kata-kata cinta Narcissus. Ironisnya, Narcissus hanya mendengar kata-kata ulangan Echo sebagai balasan cinta dari bayangan dirinya di dasar kolam. Karena itu, semakin lama Narcissus justru semakin mencintai bayangannya sendiri. karena takut akan kehilangan bayangannya, Narcissus pun tak pernah meminum air kolam itu maupun meninggalkannya hingga akhirnya Narcissus mati kehausan.

Cerita Narcissus dan Echo adalah sebuah ironi cerita cinta segitiga. Inilah ironi Narsisme yang dapat ditemui dalam dunia kontemporer. Media blogging dan social networking yang semakin menghisap bandwith adalah salah satu indikator Narsisme yang semakin dalam. Tengok saja omong kosong isi blog maupun profil dalam situs-situs social networking yang pada dasarnya adalah informasi yang tak penting.

Orang mulai berlomba untuk berpartisipasi dalam jadad Narsisme yang semakin mudah karena fasilitas teknologi komunikasi yang semakin maju. Namun, semakin kedepan, orang pun semakin kehilangan waktunya. Imbasnya, orang tak lagi punya waktu untuk mengapresiasi Narsisme secara kritis. Kebanyakan orang pun akhirnya menjadi Echo-Echo jaman modern, yang mengapresiasi Narsisme melalui komen-komen basa-basi.

Ironisnya, ulah Echo jaman modern itu, seperti dalam mitologi Yunani, justru membuat orang semakin dalam larut dalam Narsisme. Echo dalam mitologi Yunani membuat Narcissus semakin mencintai bayangannya sendiri, begitu pula yang dilakukan Echo jaman modern yang membuat para narsis semakin mencintai dirinya sendiri.

Asik memang ketika tiba-tiba menemukan sebuah komen Echo dalam blog ataupun situs jejaring sosial. Orang akan semakin bersemangat membalas komen Echo dan tentu saja bersemangat untuk semakin eksis dalam narsisme jagad maya.

Tapi orang-orang juga tak kehilangan akal untuk terus eksis. Tak hanya menjadi Echo, orang pun sekaligus menjadi Narcissus. Orang-orang tak cukup hanya memiliki satu wajah Echo atau Narcissus. Untuk terus eksis, orang perlu memilih dua wajah, Echo bagi orang lain dan Narcissus bagi dirinya sendiri. Seperti sebuah lingkaran setan, semuanya terjadi dalam konteks yang berulang. Semakin narsis, maka semakin echo, dan lingkaran terus berputar menuju kedalaan narsisme dan echoisme.

Sekarang motonya, Aku Narsis maka aku ada, dan memang narsisme semakin diperlukan. Tanpa narsisme, tak akan ada representasi yang kemudian akan berujung pada nihilisasi peran dan keberadaan seseorang. Maka benar sudah ungkapan, aku narsis maka aku ada. Dan semua mahasiswa sekarang berteriak-teriak dijalanan, Hidup narsisme...! bukan lagi lawan kapitalisme...