Krisis ekonomi yang bekangan terjadi mengingatkan kembali pada depresi besar yang terjadi 70 tahun lalu. Ditengah depresi, munculah John Maynard Keynes dengan teori-teori yang dulu diragukan keberhasilannya. 70 tahun berlalu, dan sekarang semua orang sudah menjadi keynesian.
Seorang pengajar ternama di Universitas Cambridge, katanya pintar mencari peluang, kolektor barang antik, pemikir kelompok Bloomsbury, pemilik sebuah perusahaan asuransi, suami seorang ballerina, dan terakhir menjadi direktur Bank of London, adalah sedikit informasi tentang Keynes. Ia merasa kemampuan matematikanya lebih baik ketimbang kemampuan ekonominya. Bertrand Russel pun menyegani kemampuan itu. Namun apa daya ia lebih banyak berkecimpung dalam dunia ekonomi dan dikenal karena dunia itu.
Di Cambridge, Inggris tahun 1883, Keynes lahir dengan privilege kelas menengah inggris. Ayahnya, John Neville Keynes, adalah seorang ekonom ternama dan menduduki posisi administratif penting di Universitas Cambridge. Sementara ibunya, Florence Ada Keynes, termasuk menjadi salah satu wanita pertama dapat menembus patriarki Universitas Cambridge dan terakhir menjadi walikota Cambridge. Semua privilege yang melekat membuatnya dengan mudah menikmati pendidikan terbaik dan dengan mudah pula menduduki posisi-posisi penting dalam hidupnya.
Keynes lahir bersamaan dengan matinya Marx tahun 1883. Dan siapa sangka 40 tahun kemudian, Keynes menjadi penyelamat Kapitalisme ketika depresi besar mengguncang dunia. Hampir ekonom pesimis bahwa depresi dapat diatasi, ide Marx hampir bangkit dari kubur, dan Kapitalisme hampir mati karena kontradiksi yang ada didalamnya, seperti yang digembar-gemborkan Marx setengah abad sebelum depresi terjadi. “Keynes adalah juru selamat Kapitalisme” kata Robert B. Reich, seorang profesor ekonomi dalam tulisannya di majalah Times.
Sebelum terlalu terkenal, pada tahun 1915 Keynes menjadi salah satu birokrat departemen keuangan Inggris yang dikemudian hari ditinggalkannya untuk kembali ke Cambridge dan mengajar ekonomi. Setelah menghegemoni ekonomi dunia selama 150 tahun, atau sejak kapitalisme lahir, ekonomi Inggris untuk pertama kalinya morat-marit akibat perang dunia pertama. Keynes dipanggil masuk dalam departemen keuangan, dan ia pun ikut terlibat dalam beberapa negosiasi-negosiasi paska perang, duduk semeja dengan Woodrow Wilson, David Lloyd George dan Georges Clemenceau.
Pasca perang dunia pertama, Keynes dikirim dalam delegasi konferensi perdamaian di Paris 1918. Ketika semua pemimpin dunia ingin membalas dendam pada Jerman, Keynes muncul dengan ide perdamaian dan implikasi ekonominya. Ia menerbitkan buku dengan judul The economic consequences of Peace yang terjual 87000 kopi. Buku kecilnya mempengaruhi banyak orang. Dan akhirnya para pemenang perang setuju untuk membangun kembali Jerman sebagai pasar yang dapat menyerap hasil produksi para pemenang perang.
Perdamaian memang membawa dampat ekonomi yang cukup signifikan. Ekonomi global tumbuh dengan pesat selama tahun 1920-an. Konsumsi meroket. Dan untuk pertama kalinya di Amerika, semua keluarga memiliki mobil, televisi, dan radio. Ekonomi terus meroket hingga akhirnya pada terjun bebas pada tanggal 24 Oktober 1929 yang dikenal sebagai ‘Black Thursday’. Pasar saham amerika secara sporadis jatuh bergelimpangan seperti sekarang. Kekayaan sejumlah perusahaan besar terjun bebas. Akhir 1929, kerugian tercatat mencapai 40 miliar dollar. Aset ekonomi masyarakat tergerus. Yang kaya mendadak menjadi orang kere baru, sementara yang sudah kere mendadak jadi gelandangan baru.
Gejala depresi yang muncul belakangan menurut beberapa analis memang perlu diwaspadai mengingat kerugian ekonomi global yang telah mencapai triliunan dollar. IMF dalam laporannya yang akan dikeluarkan 21 April mendatang mengungkapkan bahwa kerugian global sudah mencapai 4 triliun dollar. Sementara laporan IMF akhir januari lalu hanya menyebutkan 2,2 triliun dollar. Pelaku ekonomi global tak mau kecolongan dengan menerapkan resep-resep Keynes.
Ceritanya, ditengah depresi 70 tahun lalu, Keynes muncul dengan bukunya yang berjudul "The General Theory of Employment, Interest and Money". Pada masa itu, solusi Keynes diragukan banyak ekonom. Dan ekonomi tak dapat dihindari terjun bebas semakin dalam. Nasabah bank panik hingga akhirnya tahun 1933 Franklin Delano Rosevelt, presiden Amerika yang baru saja terpilih mengumumkan ‘bank holiday’ untuk meredamnya.
Ketika semua solusi gagal, satu-satunya solusi yang belum dicoba adalah solusi Keynes. Franklin Delano Rosevelt, akhirnya mencoba mencoba resep Keynes pada tahun 1938. Hasilnya, Amerika mengalami boom ekonomi. Tahun 1944 adalah puncak produksi paska perang. Dan dua tahun kemudian, Keynes meninggal, namun solusi depresinya mengisi undang-undang ketenagakerjaan Amerika. Intinya, negara bertanggung jawab menjaga tingkat pengangguran, produksi, dan daya beli.
Pada intinya adalah konsumsi. Beberapa resep Keynes seperti anggaran defisit, stimulus, insentif, dan beberapa resep lain pada dasarnya bertujuan untuk mendongkrak konsumsi. ‘jika penawaran berlebih, maka permintaan juga’ seperti kata hukum penawaran. Namun hal itu sudah tak berlaku lagi. Karena tanpa daya beli penawaran hanya akan berhenti di gudang, berimplikasi pada kerugian investasi, pengangguran, dan daya beli yang semakin turun, dan akhirnya krisis terulang kembali.
Belakangan gelaja depresi telah merugikan ekonomi global hingga 4 triliun dollar. Beberapa negara, tidak terkecuali Indonesia, yang takut kecolongan segera menerapkan resep Keynes. Maka pemerintah Indonesia pun melakukan buy back saham BUMN, menaikkan jaminan simpanan hingga 2 miliar rupiah, mengeluarkan perpu jaring pengaman sistem keuangan, dan belakangan menjalankan banyak program-program stimulus mulai dari BLT, stimulus pajak, hingga menjalankan PNPM.
‘We are all Keynesian’ entah Richard Nixon atau Milton Friedman yang lebih dulu mengucapkannya, namun jargon lama tersebut adalah pengakuan atas kehebatan Keynes. Ia menyelamatkan Kapitalisme yang hampir hancur karena kontradiksi yang ada didalamnya. Dan hampir saja prediksi Karl Marx benar dan menghegemoni ekonomi dunia.
Jargon hemat pangkal kaya memang sudah saatnya diganti hemat pangkal stagnansi. Bagi Keynesian menyimpan uang dibawah bantal sama halnya dengan menghambat pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya pengeluaran seseorang adalah pendapatan bagi orang lain. Konsumsi seseorang adalah produksi, yang arti lainnya lapangan kerja bagi orang lain. Bisa dibayangkan jika uang diinvestasikan dibawah bantal, produsen bantal pun tak menaikkan kapasitas produksi dan menambah karyawannya. Akibatnya ekonomi stagnan, produsen bantal mengurangi produksi dan karyawan. Kondisinya berbeda jika uang digunakan untuk membeli bantal, permintaan bertambah, kapasitas produksi dan karyawan pun terpaksa ditambah. Ekonomi bertumbuh.
Lihat saja Indonesia yang juga tak luput dari imbas krisis, tapi perekonomian masih tumbuh positif. Dalam kasus Indonesia, Konsumsi domestik telah berperan penting menjaga pertumbuhan ekonomi indonesia tetap positif diantara pertumbuhan negatif negara-negara maju. Indonesia masih tumbuh 4,5 persen dan menjadi salah satu dari tiga negara Asia yang masih memiliki pertumbuhan ekonomi positif. Pasar domestik yang mengambil porsi 65 persen dari ekonomi nasional adalah penyelamat. Sejak beberapa tahun lalu Indonesia memang tak mampu mendulang devisa lebih banyak dari ekspor karena banyak hal seperti kualitas produksi yang rendah hingga industrialisasi kelas teri. Akibatnya pasar domestik masih menjadi tumpuan. Namun siapa sangka kali ini pasar domestik adalah penyelamat. Inilah kegagalan yang membawa berkah.
“We are all Keynesian”, maka konsumsi adalah hal sentral, rantai pengeluaran adalah rantai penghasilan, dan konsumsi adalah produksi dan investasi yang melibatkan ribuan pekerja dan menggerakkan ekonomi. Jika sekarang hemat pangkal stagnansi, maka saat ini, saat ekonomi global sedang depresi, membelanjakan uang menjadi lebih berguna daripada membiarkannya dimakan jamur diawah bantal. Mari, belanjakan uang.....
Senin, 20 April 2009
Hemat (Tidak) Pangkal Kaya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar