Beberapa hari lalu Kompas menulis tentang penutupan sebuah harian besar di Amerika Serikat. Christian Science Monitor, sebuah harian berusia 100 tahun, menerbitkan edisi cetak terakhirnya pada Kamis (26/3). Christian Science Monitor adalah surat kabar cetak besar pertama yang menutup percetakannya. Tampaknya, revolusi media telah dimulai, saatnya rebirth of journalism.
Christian Science Monitor adalah yang pertama, sementara yang masih bertahan, sedang bersiap memotong anggaran, memecat karyawan, bahkan bersiap meninggalkan bisnis ini. Tahun 2008 adalah tahun terburuk bagi sejarah 200 tahun surat kabar. Setidaknya, di Amerika rata-rata saham surat kabar turun 83 persen dan merugi hampir 64 juta dollar dalam setahun, kata sebuah sumber.
Perihal kematian surat kabar cetak, sebenarnya telah diramalkan sejak 30 tahun lalu oleh Leo Bogart, sosiolog yang membantu Newspaper Readership Project, proyek penelitian bentukan American Newspaper Publishers Association dan the Newspaper Advertising Bureau. Proyek tersebut adalah proyek paranoid industri surat kabar dan print capitalism di Amerika karena turunnya oplah yang terjadi pada pertengahan tahun 60an. Bogart menyalahkan radio dan televisi kecepatan informasi yang ditawarkan keduanya telah menurunkan oplah surat kabar.
Penelitian Bogart membuahkan solusi seperti yang masih sering kita dengar saat ini. Solusinya standar, menjangkau kembali pembaca yang mulai teralienasi dari surat kabar kesayangannya, menyempit pada isu lokal dan spesifik., dan peluasan ruang dan kesempatan kepada pembaca untuk berbicara. Dapat dipahami kemudian jika sebuah koran lokal dapat bertahan meski dengan gaya tulisan yang bercitarasa lebih rendah daripada koran nasional karena kedekatan isu lebih dipilih pembaca. Data Kompas membuktikannya, dari tahun 1998 hingga 2002, koran nasional turun dari 79 judul menjadi 28 judul, sementara koran lokal naik dari 20 judul menjadi 138 judul (Kompas, Menulis dari Dalam, 2007).
Meski hampir semua media telah melakukan resep kuno tersebut, penurunan oplah global tetap terjadi. Seperti evolusi, yang sebenarnya terjadi adalah perubahan kebutuhan manusia akan berita. 30 tahun lalu, televisi dan radio menekan oplah surat kabar karena kecepatan informasi yang disampaikan dengan cara yang berbeda dengan surat kabar. Karena tekanan, surat kabar pun berubah dengan menyediakan berita-berita mendalam melalui teks, sesuatu yang tak bisa dilakukan media elektronik.
Saat ini, internet adalah ancaman baru bagi surat kabar. Internet mempercepat berita sampai kepada pembaca dengan sudut pandang dan sumber yang lebih luas dengan biaya murah. Semua yang ditawarkan oleh media tradisional seperti koran, majalah, televisi, dan radio, dapat dilakukan media modern ini. Sementara itu, beberapa orang, dari kalangan berpendidikan mungkin mempertimbangkan bahwa berlangganan koran dengan biaya 70 ribu rupiah perbulan tidak lebih efisien dari pada biaya berlangganan internet yang beberapa puluh ribu sedikit lebih mahal. Keuntungannya, pencari berita akan disuguhkan pada ribuan halaman informasi mulai dari yang esensial sampai yang tidak dibutuhkan.
Dalam konteks global, sebenarnya semua media tradisional terancam meski surat kabar yang paling merasakan dampaknya. Sementara dalam konteks Indonesia, penurunan tetap terjadi meski tidak sampai mengancam keberadaan surat kabar. Nilai belanja iklan stagnan 26 persen setelah beberapa tahun anjlok drastis. Selebihnya, kue iklan diambil televisi, radio, dan internet. Tingkat penggunaan internet di Indonesia yang masih rendah , hanya sekitar 16 persen anak muda yang mengakses informasi melalui internet, adalah penyelamat ditengah kecenderungan global turunnya oplah surat kabar. Bandingkan dengan tingkat pemakaian internet untuk mencari informasi di negara maju yang sudah melebihi 80 persen. Maka wajar saja, koran menjadi spesies yang hampir punah dinegara maju.
Isyarat kematian surat kabar di Indonesia masih jauh, namun beberapa sudah bersiap dengan melakukan revolusi pada website mereka. Sebut saja media dominan seperti Kompas, Media Indonesia, dan Tempo yang mulai memberdayakan internet untuk menyediakan informasi yang baru dan semakin cepat. Media-media tersebut kini menyediakan e-paper bagi pembacanya, sekedar untuk menjaga agar mereka tidak lari ke media online, yang pada dasarnya hanya menjadi media copy-paste dari liputan media cetak.
Declining of newspaper dan rebirth of journalism berjalan beriringan. Apapun bentuknya, turunnya oplah telah memaksa surat kabar untuk menjadi lebih baik. Beberapa media, mulai mengintegrasikan binis cetaknya dengan internet. Coba lihat bagaimana situs-situs surat kabar yang mulai dipenuhi iklan. Beberapa tahun lalu, website surat kabar hanyalah halaman statis yang membosankan. Kini iklan mulai muncul terlalu banyak yang kadang menutupi headline. Isinya pun mulai dinamis dengan update berita yang semakin rajin, melengkapi isu yang sedang diangkat dalam versi cetak.
Yang paling mengerikan, jika kematian atau rebirth of journalism yang mengarah pada kematian on-the-ground reporting yang dilakukan oleh wartawan-wartawan terlatih yang menguasai isu, memiliki akses pada sumber-sumber penting yang terpercaya, dan tumbuh dalam iklim dimana obyektifitas adalah segalanya. Ditambah lagi, para wartawan on-the-ground bekerja dibawah para editor yang mengecek setiap fakta dan data secara mendetail, mengontrol para wartawan dari pikiran-pikiran yang tak perlu dicetak karena bias dan ketidak-rapian berpikir.
On-the-ground reporting dengan hasil mendalam memang keunggulan surat kabar yang telah menghindarkannya dari kematian sejak 30 tahun lalu karena tekanan radio dan televisi. “on-the-ground reporting adalah ciri khas koran” kata Gary Kamiya, kolumnis pada situs berita salon.com. kekhawatirannya adalah kematian koran yang diikuti kematian on-the-ground reporting yang mendalam yang dilakukan wartawan profesional yang kredibel.
Arah rebirth of journalism bisa kita lihat dengan tumbuhnya jumlah blogger, twitterer, dan berbagai jenis jurnalisme tak resmi lainnya yang tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi. Mereka bekerja dibalik layar komputer dan hanya sesekali turun kejalanan melihat realitas. Wawancara face to face yang dilakukan para wartawan surat kabar tradisional pun mungkin suatu saat nanti akan menjadi cara yang kuno karena blogger cukup melakukan riset dengan google dan menuliskannya.
Sekali lagi internet telah membuka dunia yang selama ini hanya diakses oleh editor dan wartawan profesional. Sekarang siapa saja bisa menulis tentang apa saja dan mempublikasikannya di internet melalui akun-akun blog yang tersedia gratis. Berita kemudian menjadi produk masal karena semua orang bisa menuliskannya. Seperti kata George Ritzer, produk masal akan selalu kehilangan maknanya. Maka demikian juga dengan berita yang semakin masal tumbuh tak terkontrol yang ditulis siapa saja dengan sedikit memperhatikan etika jurnalistik.
Bisnis media cetak pada dasarnya adalah pertukaran antara jualan kata-kata kepada pembaca dan jualan pembaca kepada pengiklan. Ketika oplah menurun, maka nilai media dimata pengiklan juga akan turun. Kapitalisme cetak yang pernah menjadi tambang emas sejak 200 tahun lalu dalam beberapa tahun kedepan akan menjadi bisnis tak menguntungkan. Dan suatu saat nanti, jurnalisme yang dikerjakan dengan 9 elemen jurnalisme Bill Kovach akan dibangkitkan kembali oleh lembaga-lembaga non profit yang mengerjakannya sebagai bantuan kemanusiaan.
Secara global, penurunan oplah memang terjadi. Namun di Indonesia, data masih menunjukkan 42 persen orang muda masih membaca koran untuk mendapatkan informasi. Sisanya, 28 persen mencari di televisi, 10 persen di radio, dan 16 persen menggunakan internet. Artinya, orang masih lebih banyak mencari informasi melalui koran. Koran Indonesia memang belum akan mati. Setidaknya kematian koran Indonesia tertunda sampai infrastruktur internet bisa lebih mapan menjangkau daerah terpencil dengan harga yang semakin manusiawi. Maka kita tunggu saja rebirth of journalism, semakin dangkal atau semakin kaya makna.