Selasa, 31 Maret 2009

Kematian Surat Kabar atau Rebirth of Journalism ?

Beberapa hari lalu Kompas menulis tentang penutupan sebuah harian besar di Amerika Serikat. Christian Science Monitor, sebuah harian berusia 100 tahun, menerbitkan edisi cetak terakhirnya pada Kamis (26/3). Christian Science Monitor adalah surat kabar cetak besar pertama yang menutup percetakannya. Tampaknya, revolusi media telah dimulai, saatnya rebirth of journalism.

Christian Science Monitor adalah yang pertama, sementara yang masih bertahan, sedang bersiap memotong anggaran, memecat karyawan, bahkan bersiap meninggalkan bisnis ini. Tahun 2008 adalah tahun terburuk bagi sejarah 200 tahun surat kabar. Setidaknya, di Amerika rata-rata saham surat kabar turun 83 persen dan merugi hampir 64 juta dollar dalam setahun, kata sebuah sumber.

Perihal kematian surat kabar cetak, sebenarnya telah diramalkan sejak 30 tahun lalu oleh Leo Bogart, sosiolog yang membantu Newspaper Readership Project, proyek penelitian bentukan American Newspaper Publishers Association dan the Newspaper Advertising Bureau. Proyek tersebut adalah proyek paranoid industri surat kabar dan print capitalism di Amerika karena turunnya oplah yang terjadi pada pertengahan tahun 60an. Bogart menyalahkan radio dan televisi kecepatan informasi yang ditawarkan keduanya telah menurunkan oplah surat kabar.

Penelitian Bogart membuahkan solusi seperti yang masih sering kita dengar saat ini. Solusinya standar, menjangkau kembali pembaca yang mulai teralienasi dari surat kabar kesayangannya, menyempit pada isu lokal dan spesifik., dan peluasan ruang dan kesempatan kepada pembaca untuk berbicara. Dapat dipahami kemudian jika sebuah koran lokal dapat bertahan meski dengan gaya tulisan yang bercitarasa lebih rendah daripada koran nasional karena kedekatan isu lebih dipilih pembaca. Data Kompas membuktikannya, dari tahun 1998 hingga 2002, koran nasional turun dari 79 judul menjadi 28 judul, sementara koran lokal naik dari 20 judul menjadi 138 judul (Kompas, Menulis dari Dalam, 2007).

Meski hampir semua media telah melakukan resep kuno tersebut, penurunan oplah global tetap terjadi. Seperti evolusi, yang sebenarnya terjadi adalah perubahan kebutuhan manusia akan berita. 30 tahun lalu, televisi dan radio menekan oplah surat kabar karena kecepatan informasi yang disampaikan dengan cara yang berbeda dengan surat kabar. Karena tekanan, surat kabar pun berubah dengan menyediakan berita-berita mendalam melalui teks, sesuatu yang tak bisa dilakukan media elektronik.

Saat ini, internet adalah ancaman baru bagi surat kabar. Internet mempercepat berita sampai kepada pembaca dengan sudut pandang dan sumber yang lebih luas dengan biaya murah. Semua yang ditawarkan oleh media tradisional seperti koran, majalah, televisi, dan radio, dapat dilakukan media modern ini. Sementara itu, beberapa orang, dari kalangan berpendidikan mungkin mempertimbangkan bahwa berlangganan koran dengan biaya 70 ribu rupiah perbulan tidak lebih efisien dari pada biaya berlangganan internet yang beberapa puluh ribu sedikit lebih mahal. Keuntungannya, pencari berita akan disuguhkan pada ribuan halaman informasi mulai dari yang esensial sampai yang tidak dibutuhkan.

Dalam konteks global, sebenarnya semua media tradisional terancam meski surat kabar yang paling merasakan dampaknya. Sementara dalam konteks Indonesia, penurunan tetap terjadi meski tidak sampai mengancam keberadaan surat kabar. Nilai belanja iklan stagnan 26 persen setelah beberapa tahun anjlok drastis. Selebihnya, kue iklan diambil televisi, radio, dan internet. Tingkat penggunaan internet di Indonesia yang masih rendah , hanya sekitar 16 persen anak muda yang mengakses informasi melalui internet, adalah penyelamat ditengah kecenderungan global turunnya oplah surat kabar. Bandingkan dengan tingkat pemakaian internet untuk mencari informasi di negara maju yang sudah melebihi 80 persen. Maka wajar saja, koran menjadi spesies yang hampir punah dinegara maju.

Isyarat kematian surat kabar di Indonesia masih jauh, namun beberapa sudah bersiap dengan melakukan revolusi pada website mereka. Sebut saja media dominan seperti Kompas, Media Indonesia, dan Tempo yang mulai memberdayakan internet untuk menyediakan informasi yang baru dan semakin cepat. Media-media tersebut kini menyediakan e-paper bagi pembacanya, sekedar untuk menjaga agar mereka tidak lari ke media online, yang pada dasarnya hanya menjadi media copy-paste dari liputan media cetak.

Declining of newspaper dan rebirth of journalism berjalan beriringan. Apapun bentuknya, turunnya oplah telah memaksa surat kabar untuk menjadi lebih baik. Beberapa media, mulai mengintegrasikan binis cetaknya dengan internet. Coba lihat bagaimana situs-situs surat kabar yang mulai dipenuhi iklan. Beberapa tahun lalu, website surat kabar hanyalah halaman statis yang membosankan. Kini iklan mulai muncul terlalu banyak yang kadang menutupi headline. Isinya pun mulai dinamis dengan update berita yang semakin rajin, melengkapi isu yang sedang diangkat dalam versi cetak.

Yang paling mengerikan, jika kematian atau rebirth of journalism yang mengarah pada kematian on-the-ground reporting yang dilakukan oleh wartawan-wartawan terlatih yang menguasai isu, memiliki akses pada sumber-sumber penting yang terpercaya, dan tumbuh dalam iklim dimana obyektifitas adalah segalanya. Ditambah lagi, para wartawan on-the-ground bekerja dibawah para editor yang mengecek setiap fakta dan data secara mendetail, mengontrol para wartawan dari pikiran-pikiran yang tak perlu dicetak karena bias dan ketidak-rapian berpikir.

On-the-ground reporting dengan hasil mendalam memang keunggulan surat kabar yang telah menghindarkannya dari kematian sejak 30 tahun lalu karena tekanan radio dan televisi. “on-the-ground reporting adalah ciri khas koran” kata Gary Kamiya, kolumnis pada situs berita salon.com. kekhawatirannya adalah kematian koran yang diikuti kematian on-the-ground reporting yang mendalam yang dilakukan wartawan profesional yang kredibel.

Arah rebirth of journalism bisa kita lihat dengan tumbuhnya jumlah blogger, twitterer, dan berbagai jenis jurnalisme tak resmi lainnya yang tumbuh seiring dengan kemajuan teknologi. Mereka bekerja dibalik layar komputer dan hanya sesekali turun kejalanan melihat realitas. Wawancara face to face yang dilakukan para wartawan surat kabar tradisional pun mungkin suatu saat nanti akan menjadi cara yang kuno karena blogger cukup melakukan riset dengan google dan menuliskannya.

Sekali lagi internet telah membuka dunia yang selama ini hanya diakses oleh editor dan wartawan profesional. Sekarang siapa saja bisa menulis tentang apa saja dan mempublikasikannya di internet melalui akun-akun blog yang tersedia gratis. Berita kemudian menjadi produk masal karena semua orang bisa menuliskannya. Seperti kata George Ritzer, produk masal akan selalu kehilangan maknanya. Maka demikian juga dengan berita yang semakin masal tumbuh tak terkontrol yang ditulis siapa saja dengan sedikit memperhatikan etika jurnalistik.

Bisnis media cetak pada dasarnya adalah pertukaran antara jualan kata-kata kepada pembaca dan jualan pembaca kepada pengiklan. Ketika oplah menurun, maka nilai media dimata pengiklan juga akan turun. Kapitalisme cetak yang pernah menjadi tambang emas sejak 200 tahun lalu dalam beberapa tahun kedepan akan menjadi bisnis tak menguntungkan. Dan suatu saat nanti, jurnalisme yang dikerjakan dengan 9 elemen jurnalisme Bill Kovach akan dibangkitkan kembali oleh lembaga-lembaga non profit yang mengerjakannya sebagai bantuan kemanusiaan.

Secara global, penurunan oplah memang terjadi. Namun di Indonesia, data masih menunjukkan 42 persen orang muda masih membaca koran untuk mendapatkan informasi. Sisanya, 28 persen mencari di televisi, 10 persen di radio, dan 16 persen menggunakan internet. Artinya, orang masih lebih banyak mencari informasi melalui koran. Koran Indonesia memang belum akan mati. Setidaknya kematian koran Indonesia tertunda sampai infrastruktur internet bisa lebih mapan menjangkau daerah terpencil dengan harga yang semakin manusiawi. Maka kita tunggu saja rebirth of journalism, semakin dangkal atau semakin kaya makna.

Minggu, 29 Maret 2009

Sunyi Perayaan Seabad Bung Kecil

Dhaniel Dhakidae, dalam Sjahrir Dalam Renungan Dua Jilid, menyebut Sjahrir sebagai a man of paradox. Daniel menempelkan paradox dalam diri Sjahrir dengan rasionalisasi yang absurd. Ia membandingkan sisi fisik Sjahrir yang kecil dengan intelektualitasnya dan energi didalam diri Sjahrir yang mengagumkan. Rasionalisasi inipun sebenarnya adalah paradox tersendiri.

Paradox karena dengan intelektualitas yang melebihi jamannya dan Sjahrir tidak mau sedikitpun melanjutkan studinya di Leiden, Belanda. Tidak mau sedikitpun, kata Daniel. Sementara fakta lain menyebutkan bahwa Sjahrir dijegal, diasingkan oleh Belanda ke Boven Digul sesaat sebelum dia kembali ke Leiden untuk melanjutkan studinya. Rasionalisasi paradox yang paradox, karena fakta dimainkan untuk mendukung sebuah cerita, Sjahrir Dalam Renungan Dua Jilid, dan mendukung sebuah hipotesis, a man of paradox.

Banyak julukan bagi Sjahrir yang terlupakan dalam sejarah Indonesia. Dia disebut the atomic prime minister karena keberaniannya berbicara atau secara satir untuk mengkritik Sjahrir yang tak pernah meledak. Dikesempatan lain ia disebut Meteor Politik karena karirnya yang menanjak sebagai pemimpin dan tenggelam begitu cepat bahkan mati tahanan politik. Dari sekian banyak sebutan untuknya, tetap saja Sjahrir adalah orang yang dilupakan karena pengelabuan sejarah.

Sjahrir adalah orang yang melebihi jamannya, kata Budiman Sudjatmiko. Waktu itu Soekarno berbusa-busa mendukung nasionalisme, sementara Sjahrir sudah meramalkan bahaya fasisme dalam nasionalisme yang berlebihan, seperti yang dipraktikkan Soekarno, beberapa tahun menjelang kejatuhannya. Ketika revolusi dan konfrontasi menjadi pokok pembicaraan para pejuang pendiri bangsa, ia memilih diplomasi, sesuatu yang dianggap banci oleh para pejuang macam Sudirman. Diplomasi beras mungkin salah satu karya monumentalnya yang berhasil membuahkan dukungan India terhadap kemerdekaan Indonesia dan naiknya pamor Indonesia di mata Internasional.

Tapi perjanjian Linggarjati sering dianggap sebagai kegagalan Sjahrir. Lewat Linggarjati, Indonesia hanya diakui berdaulat sebatas Jawa dan Sumatra, suatu yang disayangkan para pejuang saat itu. Sementara orang lupa, pasal arbitrase yang dimasukkan Sjahrir dalam perjanjian itu adalah pintu masuk bagi Internasionalisasi kasus Indonesia. Via Linggarjati, konflik Indonesia-Belanda dibicarakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB tahun 1947, dan Sjahrir memanfaatkan kesempatannya dengan baik ketika harus berpidato dalam sidang itu.

Jalan diplomasi Sjahrir adalah jalan yang realistis yang membedakannya dengan Soekarno. Dan untuk dekade pertama kemerdekaan, Soekarno tak berperan lebih besar dari Sjahrir. Tapi sayang, sejarah ditulis oleh pemenang, yang memang pada akhir cerita, pada tahun 1962, Sjahrir dijebloskan ke penjara oleh Soekarno dengan tuduhan absurd, makar. Akhir cerita, Sjahrir mati sebagai tahanan politik, yang kemudian dijadikan pahlawan nasional. Satu paradox lain, tapol yang mati dan jadi pahlawan nasional.

Satu hal yang saya sukai dari Sjahrir adalah keberaniannya memaki Soekarno, tokoh idola mainstream para Nasionalis hingga saat ini. Ini pula yang membuat saya suka dengan Gie, karena keberaniannya memaki Soekarno, meski hanya dalam catatan harian. Suatu kali, ketika Triumvirat masih muda, dalam sebuah pertemuan pemuda pra sumpah pemuda, tiba-tiba Sjahrir membentak Soekarno yang memaki-maki seorang perempuan dalam bahasa Belanda. Perempuan itu, Sukarni namanya, mengkritik Soekarno yang berbicara dalam rapat umum dalam bahasa campuran Indonesia dan Belanda, dengan nada kesombongan khas penikmat politik etis Belanda, dan Soekarno marah, balik mengkritik dan memaki wanita itu. “Tidak baik memaki seorang perempuan” kata Sjahrir, dan disini, jauh sebelum keduanya menjadi pemimpin bangsa, Bung Kecil lebih dulu menang dari Bung Besar. ia lebih heroik dari siapapun saat itu.

Dalam beberapa hal, Sjahrir memang lebih heroik, dan mungkin lebih idealis dari Soekarno. Ia mendesak Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu restu Jepang. Dan nyatanya, Soekarno menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dan menunggu restu Jepang. Balasannya, Sjahrir mengata-ngatai Soekarno kejepang-jepangan, dan Sjahrir pun mangkir dalam pembacaan Proklamasi.

Budiarto Sambazi, di harian Kompas menuliskan anekdot tentang dwi-tunggal beberapa. Katanya, Soekarno ngutang untuk beli rumah, Hatta sampai mati tak mampu beli sepatu Bally. Dan Sjahrir berkata kepada Soekarno, “mana gengsimu”, ketika Soekarno, sang presiden terhormat itu, meminta kemeja Arrow kepada seorang prajurit rendahan Belanda.

Nyatanya, seperti kata Daniel Dhakidae, peran besar dan kebesaran Bung Kecil sebagai manusia dilupakan karena pengelabuan sejarah. Sejarah menulis pengelabuan, kemerdekaan adalah hasil perang, dan diplomasi adalah kecelakaan sejarah. Sementara orang PSI selalu bertanya, bisakah Indonesia merdeka jika tak ada Sjahrir? Karena sejatinya diplomasi adalah komplemen yang tak kalah penting disamping kekuatan militer, kata MT. Kahin.

Dan selalu sampai sekarang Bung Besar tetaplah besar dan Bung Kecil tetap kecil dalam perayaan seabad kehadirannya di Bumi. Sepi, karena pengelabuan sejarah, karena sejatinya sejarah adalah milik pemenang, milik penguasa rejim. Rejim kolot yang mudah dihasut hingga menjebloskan Sjahrir ke penjara, rejim yang mengeluarkan dekrit 5 juli 59 dan menerbitkan jargon, “rediscovery of our Revolution”. Dan Sjahrir pun tenggelam atau sengaja ditenggelamkan?.

Rabu, 25 Maret 2009

Fatamorgana – netral 9th

Waktu jua yang bicara mengakhiri sebuah kisah
Hidup adalah cerita petualangan anak manusia
Kelahiran kematian pertemuan perpisahan
Semua telah ditakdirkan kita yang jalani alurnya

Selamat datang didunia tempat mencuci mata
Semua fatamorgana surganya hawa nafsu

Akhirnya ditemukan juga sebuah lagu enerjik khas grup band Netral yang secara positif melihat kehidupan yang berjalin kelindan dengan dosa, godaan dan hawa nafsu. “Selamat datang di dunia, tempat mencuci mata, dan surga hawa nafsu”, kata mereka. Di gereja-gereja, di masjid, bahkan hampir disemua tempat yang dinyatakan sebagai tempat ibadah, saya kira tak mungkin kita menemukan ucapan selamat datang di dunia. “dunia itu fana” kata mereka. Memang mereka sepertinya menyesal terlahir kedunia, mencoba mengurung diri dan bermimpi tentang surga, yang masih patut diperdebatkan keberadaannya.

Semua tempat ibadah selalu mencoba berkampanye tentang indahnya surga, hina bagi semua hawa nafsu dan keduniawian. Ada yang sampai bergaya Timur Tengah dari tampak luar hingga tampak dalam, padahal mereka berada ribuan kilometer dari Timur Tengah, dan ironisnya mereka pun belum bernah sekalipun mencium bau padang pasir. Ada pula yang bergaya cleric jaman batu, memakai jubah, dan menempelkan gelar ordo didepan atau dibelakang nama mereka.

Orang kristen pun tak kalah lucu, mereka berdoa, menangis, yang lebih mengagumkan, mereka bisa berdoa sekaligus menangis tiap lima menit dalam satu kali ibadah. Yang paling lucu, bahasa roh syana na na bla bla bla, yang sebenarnya tak mereka pahami pun mereka kuasai dari mulut ke mulut. Saya membayangkan, mereka berlatih beberapa bulan, mengimitasi gembala-gembala gereja mereka yang absurd. Saya pun lalu berpikir, benarkah mereka yang pertama kali berkata-kata sya na na bla bla, syaka tak ka tak, bahasa roh, benar-benar anugrah, atau sekedar karangan, yang kemudian menular dari mulut ke mulut, sampai ke gereja-gereja di kampung-kampung terpencil di Indonesia.

Saya pun mengenal orang yang tak percaya Tuhan tapi juga menyesal terlahir didunia. Lalu dia mencari penyelamatan kepada siapa? Kepada batu yang selalu disimpan dikantong celana untuk menahan sesak boker ? atau mencari penyelamatan dari pohon didepan kamar kos yang memang kelihatan rimbun dan angker? Yang sering saya lihat orang-orang seperti ini mengadu pada manusia, sesamannya. Hina ...!

Lucu-lucu memang tingkah laku orang-orang yang menyesal hidup di dunia. Secara alamiah mereka selalu mencari penyelamatan dengan berkostum seperti jaman nabi, berkostum padang pasir, dan berbahasa roh dan bergaya seperti orang kerasukan roh yang mereka sebut kudus, atau menyembah pohon, dan mengantongi batu di kantong celana, sekedar mencari penyelamatan ketika sesak boker sudah diujung tanduk.

Absurd, tapi Netral membuat saya tersadar, masih ada orang yang bersyukur terlahir didunia, bersyukur berada di dalam surga hawa nafsu, dan selalu mencicipi dosa. Maka “Selamat datang didunia, tempat mencuci mata, surga hawa nafsu, tempat terbaik berbuat dosa”.

Treating 21 Grams

Beberapa hari ini saya sering ke rumah sakit, sekedar menengok nenek yang beberapa hari lalu koma, tak sadarakan diri karena gangguan aliran darah di otak yang sering disebut stroke. Dia ditemukan didapur, setelah beberapa jam lamanya setelah pingsan di samping kompor dan beberapa komposisi yang siap dimasak menjadi sayur asem, masakan kesukaan keluarga besar.

Ditemukan didapur, nenek langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, masuk ke ruang ICU. Koma, kata dokter. Dan koma itu seperti tidur, hanya saja tidur dalam jangka waktu yang lama, mungkin untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan kedepan.

Stroke itu seperti serangan jantung, kata paman yang tampaknya sudah menjadi ahli penyakit dalam karena sudah puluhan tahun bekerja di rumah sakit, meski bukan sebagai dokter. Secepatnya harus segera dilakukan tindakan sebelum terlambat. Tapi, dokter-dokter Indonesia mana ada yang cekatan. Dan saya jadi semakin tahu kenapa serangan jantung dan stroke adalah penyebab kematian pertama dan kedua di Indonesia. Pasti, karena dokter-dokter yang kurang cekatan, yang mungkin lebih cekatan bermain mata dengan perawat-perawat rumah sakit.

Ironis, dirumah sakit terdekat yang paling diharapkan, ternyata tidak memiliki alat. Demi mencari alat yang dinamakan CT Scan pun orang harus ke rumah sakit besar di pusat kota yang berjarak beberapa jam. Artinya, tetap tinggal di rumah sakit terdekat, atau mencari CT scan di Yogyakarta, adalah keterlambatan penanganan.

Tak ada yang bisa diharapkan dari keterlambatan, kecuali mukjisat yang sepertinya hanya terjadi di jaman-jaman para nabi. Meski dokter kurang cekatan, alat tak ada, dan keterlambatan penanganan, tapi semua keluarga tampak lebih cekatan merawat berat nenek agar tak berkurang satu gram pun. Karena konon, 21 gram adalah berat kehidupan.