Minggu, 29 Maret 2009

Sunyi Perayaan Seabad Bung Kecil

Dhaniel Dhakidae, dalam Sjahrir Dalam Renungan Dua Jilid, menyebut Sjahrir sebagai a man of paradox. Daniel menempelkan paradox dalam diri Sjahrir dengan rasionalisasi yang absurd. Ia membandingkan sisi fisik Sjahrir yang kecil dengan intelektualitasnya dan energi didalam diri Sjahrir yang mengagumkan. Rasionalisasi inipun sebenarnya adalah paradox tersendiri.

Paradox karena dengan intelektualitas yang melebihi jamannya dan Sjahrir tidak mau sedikitpun melanjutkan studinya di Leiden, Belanda. Tidak mau sedikitpun, kata Daniel. Sementara fakta lain menyebutkan bahwa Sjahrir dijegal, diasingkan oleh Belanda ke Boven Digul sesaat sebelum dia kembali ke Leiden untuk melanjutkan studinya. Rasionalisasi paradox yang paradox, karena fakta dimainkan untuk mendukung sebuah cerita, Sjahrir Dalam Renungan Dua Jilid, dan mendukung sebuah hipotesis, a man of paradox.

Banyak julukan bagi Sjahrir yang terlupakan dalam sejarah Indonesia. Dia disebut the atomic prime minister karena keberaniannya berbicara atau secara satir untuk mengkritik Sjahrir yang tak pernah meledak. Dikesempatan lain ia disebut Meteor Politik karena karirnya yang menanjak sebagai pemimpin dan tenggelam begitu cepat bahkan mati tahanan politik. Dari sekian banyak sebutan untuknya, tetap saja Sjahrir adalah orang yang dilupakan karena pengelabuan sejarah.

Sjahrir adalah orang yang melebihi jamannya, kata Budiman Sudjatmiko. Waktu itu Soekarno berbusa-busa mendukung nasionalisme, sementara Sjahrir sudah meramalkan bahaya fasisme dalam nasionalisme yang berlebihan, seperti yang dipraktikkan Soekarno, beberapa tahun menjelang kejatuhannya. Ketika revolusi dan konfrontasi menjadi pokok pembicaraan para pejuang pendiri bangsa, ia memilih diplomasi, sesuatu yang dianggap banci oleh para pejuang macam Sudirman. Diplomasi beras mungkin salah satu karya monumentalnya yang berhasil membuahkan dukungan India terhadap kemerdekaan Indonesia dan naiknya pamor Indonesia di mata Internasional.

Tapi perjanjian Linggarjati sering dianggap sebagai kegagalan Sjahrir. Lewat Linggarjati, Indonesia hanya diakui berdaulat sebatas Jawa dan Sumatra, suatu yang disayangkan para pejuang saat itu. Sementara orang lupa, pasal arbitrase yang dimasukkan Sjahrir dalam perjanjian itu adalah pintu masuk bagi Internasionalisasi kasus Indonesia. Via Linggarjati, konflik Indonesia-Belanda dibicarakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB tahun 1947, dan Sjahrir memanfaatkan kesempatannya dengan baik ketika harus berpidato dalam sidang itu.

Jalan diplomasi Sjahrir adalah jalan yang realistis yang membedakannya dengan Soekarno. Dan untuk dekade pertama kemerdekaan, Soekarno tak berperan lebih besar dari Sjahrir. Tapi sayang, sejarah ditulis oleh pemenang, yang memang pada akhir cerita, pada tahun 1962, Sjahrir dijebloskan ke penjara oleh Soekarno dengan tuduhan absurd, makar. Akhir cerita, Sjahrir mati sebagai tahanan politik, yang kemudian dijadikan pahlawan nasional. Satu paradox lain, tapol yang mati dan jadi pahlawan nasional.

Satu hal yang saya sukai dari Sjahrir adalah keberaniannya memaki Soekarno, tokoh idola mainstream para Nasionalis hingga saat ini. Ini pula yang membuat saya suka dengan Gie, karena keberaniannya memaki Soekarno, meski hanya dalam catatan harian. Suatu kali, ketika Triumvirat masih muda, dalam sebuah pertemuan pemuda pra sumpah pemuda, tiba-tiba Sjahrir membentak Soekarno yang memaki-maki seorang perempuan dalam bahasa Belanda. Perempuan itu, Sukarni namanya, mengkritik Soekarno yang berbicara dalam rapat umum dalam bahasa campuran Indonesia dan Belanda, dengan nada kesombongan khas penikmat politik etis Belanda, dan Soekarno marah, balik mengkritik dan memaki wanita itu. “Tidak baik memaki seorang perempuan” kata Sjahrir, dan disini, jauh sebelum keduanya menjadi pemimpin bangsa, Bung Kecil lebih dulu menang dari Bung Besar. ia lebih heroik dari siapapun saat itu.

Dalam beberapa hal, Sjahrir memang lebih heroik, dan mungkin lebih idealis dari Soekarno. Ia mendesak Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu restu Jepang. Dan nyatanya, Soekarno menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, dan menunggu restu Jepang. Balasannya, Sjahrir mengata-ngatai Soekarno kejepang-jepangan, dan Sjahrir pun mangkir dalam pembacaan Proklamasi.

Budiarto Sambazi, di harian Kompas menuliskan anekdot tentang dwi-tunggal beberapa. Katanya, Soekarno ngutang untuk beli rumah, Hatta sampai mati tak mampu beli sepatu Bally. Dan Sjahrir berkata kepada Soekarno, “mana gengsimu”, ketika Soekarno, sang presiden terhormat itu, meminta kemeja Arrow kepada seorang prajurit rendahan Belanda.

Nyatanya, seperti kata Daniel Dhakidae, peran besar dan kebesaran Bung Kecil sebagai manusia dilupakan karena pengelabuan sejarah. Sejarah menulis pengelabuan, kemerdekaan adalah hasil perang, dan diplomasi adalah kecelakaan sejarah. Sementara orang PSI selalu bertanya, bisakah Indonesia merdeka jika tak ada Sjahrir? Karena sejatinya diplomasi adalah komplemen yang tak kalah penting disamping kekuatan militer, kata MT. Kahin.

Dan selalu sampai sekarang Bung Besar tetaplah besar dan Bung Kecil tetap kecil dalam perayaan seabad kehadirannya di Bumi. Sepi, karena pengelabuan sejarah, karena sejatinya sejarah adalah milik pemenang, milik penguasa rejim. Rejim kolot yang mudah dihasut hingga menjebloskan Sjahrir ke penjara, rejim yang mengeluarkan dekrit 5 juli 59 dan menerbitkan jargon, “rediscovery of our Revolution”. Dan Sjahrir pun tenggelam atau sengaja ditenggelamkan?.

Tidak ada komentar: