Minggu, 01 Februari 2009

The Pursuit of Happyness (2006)

Starring: Will Smith, Thandie Newton, Jaden Smith, Dan Castellaneta, Zuhair Haddad
Directed by: Gabriele Muccino

Judul film ini merujuk pada sebuah tempat penitipan anak di daerah pecinan San Fransisco tahun 1981 yang menjadi simpul utama di film ini. Dimulai dari tempat inilah Chris Gardner (Will Smith) dan Christopher (Jaden Smith) menghabiskan banyak waktunya untuk mengejar kebahagiaan, mimpi bagi kebanyakan warga Amerika.

Chris Gardner adalah seorang salesman yang berjuang menghabiskan stok mesin pengukur kepadatan tulang portabel yang terlalu canggih dan mahal di jamannya. Tak banyak dokter dan rumah sakit yang tertarik dengan mesin itu padahal Chris sudah menghabiskan hampir seluruh tabungan keluarga untuk masuk dalam bisnis ini.

"Kebahagiaan adalah hal yang hanya bisa dikejar dan mungkin tidak benar-benar bisa didapat" begitu kata Chris pesimis ketika menyadari bahwa dirinya belum mendapat kebahagiaan sementara dia masuk dari pintu ke pintu rumah sakit setiap hari. Kebahagiaan tidak dijamin dalam konstitusi Amerika, namun negara menjamin setiap usaha untuk mengejarnya.

Lewat didepan sebuah kantor pialang saham yang dikemudian hari dikenal dengan kantor Dean-Witter, Chris kemudian mendapat inspirasi tentang kebahagiaan. Setiap orang yang keluar masuk kantor tersebut memperlihatkan wajah bahagia mereka, sesuatu yang sedang dicarinya selama ini.

Film ini bercerita tentang kegigihan mencari kebahagiaan, kekuatan mimpi, dan hubungan antara Ayah dan Anak. Salah satu adegan memperlihatkan bagaimana Chris marah pada istrinya yang meragukan inspirasi yang baru didapat didepan kantor Dean Witter, menjadi seorang pialang saham. Adegan berikutnya, Chris membiarkan istrinya pergi hanya karena kurang gigih mengejar kebahagian bersama. Sementara adegan lainnya memperlihatkan bagaimana Chris menasehati Christopher untuk berani bermimpi, mengejarnya, dan melindungi mimpi itu dari orang lain bahkan ayahnya sendiri.

Untuk mewujudkan mimpinya, Chris kemudian mendaftarkan diri pada program magang yang sedang dibukan oleh kantor Dean-Witter. Hanya 20 orang yang diterima, dan hanya satu yang akan mendapatkan pekerjaan. Yang tak dibayangkan sebelumnya, tidak ada bayaran dalam program magang tersebut. Akibatnya, Chris harus membagi waktunya antara magang, menjual ‘mesin waktu’, dan mengurus Christopher.

Tanpa bayaran, bangkrut karena rekening yang disedot dinas pajak, akhirnya Chris dan Christopher pindah dari apartemen yang tak lagi sanggup mereka bayar. Pindah ke sebuah motel murahan pun hanya bertahan selama beberapa minggu. Selanjutnya, mereka tinggal di tempat penampungan gelandangan.

Film ini memperlihatkan bagaimana seorang warga Amerika dengan ‘American dreamnya’ mengejar mimpi yang tak dijamin dalam konstitusi. Untungnya, setiap warga dilindungi haknya untuk mengejar mimpi itu. Will Smith tampaknya berhasil memainkan perannya sebagai Chris Gardner yang terhimpit berbagai kesusahan. Yang kemudian menjadi patut diacungi jempol adalah keberhasilan Jaden Smith memainkan peran perdananya sebagai Christopher.

Happy ending adalah akhir dari film ini. Berbagai adegan dramatis bagaimana susahnya mengejar kebahagiaan membuat akhir seperti inilah yang ditunggu penonton. Namun sayang, akhir seperti ini tidak selalu dapat ditemui dalam kehidupan nyata.

Tidak ada komentar: